Label: , , , , , ,


Allah SWT memerintahkan berusaha dan menunjukkan dua usaha
Usaha yang sementara dan hasilnya juga sementara namun di akhirat mendapatkan kesusahan
dan usaha sementara dan hasilnya selama-lamanya hingga di akhirat kelak..



" Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik." ( QS. Al- Isra': 18-19 )

Semua manusia diperintahkan untuk bekerja, nilai usaha laki-laki dan wanita itu sama di sisi Allah SWT

" Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. An-Nahl: 97 )

Namun yang dimaksud dengan kerja pada ayat ini, mungkin berbeda dengan pemahaman kita selama ini. Seseorang hanya dianggap "bekerja" jika telah berusaha untuk mendapatkan uang atau segala kebutuhan hidupnya. Meskipun seseorang sibuk sejak pagi hingga malam hari, bila tidak dalam rangka mendapatkan uang maka belum dikatakan bekerja.

Seorang Ibu rumah tangga yang sibuk mengatur urusan keluarga tidak dikatakan bekerja sebab tidak mendapatkan upah. Padahal pekerjaan yang paling berat namun paling mulia sebagai wanita musilmah adalah sebagai " Ibu " dalam rumah tangganya. Tugasnya bisa melebihi tugas kaum laki-laki. Kaum laki0laki mungkin hanya bisa bekerja mulai matahari terbit hingga matahari terbenam, namun seorang isteri sanggup bekerja secara istiqamah, mulai sebelum matahari terbit sampai terbenamnya mata sang suami. Tetapi masih juga pekerjaan sebagai Ibu kurang dihargai termasuk oleh kaum wanita sendiri.

Mayoritas wanita pada zaman sahabat r.hum melakukan pekerjaan rumah tangganya yang berat meski kadarnya berbeda-beda. Mereka adalah Ratu rumah tangna dan Ibu keluarga yang mengandung, melahirkan, menyusui dan merawat anak-anaknya, serta berkhidmat kepada suaminya. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh para wanita yang sabar dengan penuh rasa syukur. Dan Islam memuliakan wanita dalam memikul pekerjaan itu. Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa bagi kaum wanita, kehamilan dan melahirkan laksana orang yang menyerang musuh di garis depan dalam fii sabilillah, jika ia mati di antara masa itu, maka ia memperoleh pahala syahid.

Islam tidak melarang wanita bekerja, tetapi tidak menganjurkan bekerja di luar rumah. Jika seandainya harus bekerja di luar rumah karena tidak ada mahram yang menanggungnya untuk memenuhi nafkah anak-anaknya sehingga tidak meminta-minta.

Jabir bin Abdullah r.a menuturkan, " Bibiku dari pihak Ibu bercerai. Suatu ketika ia bermaksud memetik kurma, namun seorang lelaki menghardiknya karena ia keluar dari rumah (selama masa iddah). Ia lalu menghadap Rasulullah SAW dan beliau menjawab, " Tentu saja engkau boleh memetiknya dari phon kurma milikmu, sehingga engkau menyedekahkannya atau beramal dengannya. " (HR. Muslim)

Rasulullah SAW bersabda,
" Sesungguhnya jika orang itu keluar dari rumahnya untuk bekerja, guna mengusahakan kehidupan anaknya yang masih kecil, maka ia telah berusaha di jalan Allah (fii sabilillah). Jika ia bekerja untuk dirinya sendiri agar tidak sampai meminta-minta pada orang lain, itu pun fii sabilillah. Tetapi apabila bekerja karena riya atau untuk bermegah-megahan maka itulah fii sabilisy-syaithan. " (HR. Thabrani)

Rasulullah SAW bersabda,
" Sesungguhnya yang paling baik engkau makan adalah yang berasal dari jerih payahmu dan anak-anakmu juga adalah hasil dari jerih payahmu." (Fatawal Mar'ah)

Fathimah r.ha, isteri Ali r.a yang juga putri Nabi SAW juga bekerja, merajut dan menenun kain untuk dijual oleh suaminya di pasar sehingga waktunya lebih banyak berada di rumah.

Sebagaimana perintah Allah SWT,
" Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu " (QS. Al-Ahzab: 33)

Maksud ayat ini sangat jelas, agar wanita muslimah menjadikan rumahnya sebagai kantor dan markasnya untuk mengurus rumah tangganya. Islam menempatkan tugas wanita ada di dalam rumah dan itu bukanlah tugas yang sederhana. Betapa banyak kisah wanita pada zaman generasi para sahabat r.hum yang mencerminkan betapa beratnya tanggung jawab dan peran yang mereka lakukan. Ali r.a juga pernah berkata kepada Ibnu A'bad, " Maukah engkau tahu keadaan keluargaku? " Ia menjawab, " Tentu! " Ali r.a lalu berkata, " Fathimah sering menumbuk gandum sehingga alat penumbuk gandum membekas di tangannya, mengangkat tempat air sehingga membekas pada lehernya dan menyapu rumah sehingga bajunya berdebu. "


Asma binti Abu Bakar r.ha juga selalu melakukan pekerjaan rumah tangganya dan berkhidmat kepada suaminya Zubair bin Awwam r.a. Karena beratnya pekerjaan, ia pernah meminta seorang pembantu kepada Ayahnya. Asma r.ha mengatakan, " Aku dinikahi oleh Zubair bin Awwam. Ia tidak mempunyai kebun, harta, hamba sahaya dan lainnya. Kecuali unta dan seekor kudanya. Aku sering memberi makan kudanya, mengurus dan mengembalakannya. Aku menumbuk biji kurma lalu aku campur dengan air dan mengolahnya dengan tepung gandum dan ternyata menghasilkan roti yang enak. Banyak wanita Anshar yang meminta untuk dibuatkan roti, padahal mereka juga mampu membuat roti yang enak."

Ath-Thabrari meriwayatkan bahwa seorang wanita Anshar (Asma binti Yazid r.ha) datang kepada Rasulullah SAW dan berkata,

"Ya Rasulullah, aku diutus oleh kaumku. Dan Allah mewajibkan jihad (berperang) kepada kaum laki-laki, jika mereka menang akan mendapatkan pahala. Dan jika mereka gugur akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah SWT. Sedangkan kami kaum wanita tidak dapat berperang seperti kaum lelaki. Amalan apakah yang dapat menyamai mereka?"

Rasulullah SAW bersabda, " Taat pada suami dengan menjalankan perintah suami dapat menyamai pahala mereka. Namun banyak kaum wanita yang tidak mau taat kepada suaminya. "

Tak ada berita gembira yang melebihi sabda Rasulullah SAW itu bagi kaum wanita. Hilangnya peran wanita dalam segala aspek kehidupan ini akan memunculkan suasana yang serba terbalik. Kemuliaan wanita akan kembail bangkit apabila dia melaksanakan tugasnya dengan baik, dia akan berusaha menjadi isteri yang shalihah dan melahirkan umat yang terbaik dalam sejarah. Banyak tokoh-tokoh sukses yang muncul dari alumnus " madrasah" sang Ibu. Hanya itu syaratnya, andai umat ini ingin bangkit kembali memperoleh kemuliaannya sebagaimana pada generasi para sahabat r.ha

Jika terpaksa wanita bekerja, maka ia harus memilih sesuai dengan fitrahnya. Menjadi seorang guru atau dokter bagi kaum wanita, harus seizin suami, tidak keluar rumah kecuali bersama dengan mahramnya, dan di tempat kerjanya tidak bercampur baur dengan laki-laki dan wanita. Yang jelas pekerjaannya tidak menghalangi tugas sebagai Ibu dan sebagai isteri, apalagi sampai mengorbankan kehidupan akhiratnya untuk keperluan dunia. Sebagaimana seorang Ibu yang memiliki seorang anak sebagai buah hatinya dan untuk keperluan hidupnya ia memelihara beberapa ekor kambing. Suatu ketika anaknya sakit maka kambingnya yang dijual untuk kesehatan anaknya, bukan sebaliknya ketika kambingnya sakit maka anaknya yang dikorbankan.




( to be continued... insya Allah )



taken from book: Wanita dalam fikir dan risau Rasulullah SAW, penulis: An Nadhr Muhammad Ishaq bin Abdullah Abbas

Jika Sahabat Menyukai Artikel ini, Silahkan Bagikan ke Teman Anda!



Comments (2)

Assalamu'alaikum warahmatullahhi wabarakatuh.
Ukhti. afwan bila tak yambung dgn posting ukhti.Tapi hati ini hanya berbagi hanya ingin berbagi bagi yang lain
wahai ukhti inilah kata-kata hati ana (kata-kata ini ana lihat di suatu situs)yang selalu ana ungkapkan ketika sdang sendiri di malam hari bermunajat kepada Allah
Ya Allah apakah wajah ini yang kelak akan bercahaya bersinar indah di sorga sana ataukah wajah ini yang akan hangus legam terbakar dalam bara jahannam?"
Ya Allah...Apakah mata ini yang kelak dapat menatap penuh kelezatan dan kerinduan, menatap ALLAH Yang Maha agung, menatap keindahan sorga, menatap Rasu-lullah, menatap para Nabi, menatap kekasih-kekasih ALLAH kelak? Ataukah mata ini yang akan terbeliak, melotot, menganga, terburai, meleleh ditusuk baja membara? Akankah mata terlibat maksiat ini akan menyelamatkan? Wahai mata apa gerangan yang kau tatap selama ini?"
Ya Allah....Apakah mulut ini yang di akhir hayat nanti dapat menyebut kalimat thoyibah, 'laillahailallah', ataukah akan menjadi mulut berbusa yang akan menjulur dan di akherat akan memakan buah zakun yang getir menghanguskan dan menghancurkan setiap usus serta menjadi peminum lahar dan nanah? Saking terlalu banyaknya dusta, ghibah, dan fitnah serta orang yang terluka dengan mulut kita ini!"
"Wahai mulut apa gerangan yang kau ucapkan? Wahai mulut yang malang betapa banyak dusta yang engkau ucapkan. Betapa banyak hati-hati yang remuk dengan pisau kata-katamu yang mengiris tajam? Betapa jarangnya engkau jujur? Betapa jarangnya eng-kau menyebut nama ALLAH dengan tulus? Betapa jarangnya engkau syahdu memohon agar ALLAH mengampuni?"
Ya
Lalu tataplah diri kita tanyalah, "Hai kamu ini anak sholeh atau anak durjana, apa saja yang telah kamu peras dari orang tuamu selama ini dan apa yang telah engkau berikan? Selain me-nyakiti, membebani, dan menyusahkannya. Tidak tahukah eng-kau betapa sesungguhnya engkau adalah makhluk tiada tahu balas budi!
Ya Allah....apakah tubuh ini yang kelak akan penuh cahaya, bersinar, bersukacita, bercengkrama di sorga atau tubuh yang akan tercabik-cabik hancur mendidih di dalam lahar mem-bara jahannam, terasang tanpa ampun derita tiada akhir"
"Wahai tubuh, berapa banyak masiat yang engkau laku-kan? Berapa banyak orang-orang yang engkau dzhalimi dengan tubuhmu? Berapa banyak hamba-hamba ALLAH yang lemah yang engkau tindas dengan kekuatanmu? Berapa banyak perindu pertolonganmu yang engkau acuhkan tanpa peduli padahal eng-kau mampu? Berapa pula hak-hak yang engkau napas?"
"Wahai tubuh, seperti apa gerangan isi hatimu?Apakah tu-buhmu sebagus kata-katamu atau malah sekelam daki-daki yang melekat di tubuhmu? Apakah hatimu segagah ototmu atau selemah daun-daun yang mudah rontok?
Apakah hatimu seindah penampilanmu atau malah sebusuk kotoran-kotoranmu?"
"Hai tubuh apakah kau ini makhluk mulia atau menjijikan, berapa banyak aib-aib nista yang engkau sembunyikan dibalik penampilanmu ini?" "Apakah eng-kau ini dermawan atau sipelit yang menyebalkan?" Berapa ba-nyak uang yang engkau nafkahkan dan bandingkan dengan yang engkau gunakan untuk selera rendah hawa nafsumu".
"Apakah engkau ini sholeh atau sholehah seperti yang engkau tampakkan?
Khusukkah shalatmu, dzikirmu, doamu, .ikhlaskah engkau lakukan semua itu?
Jujurlah hai tubuh yang malang!

ya Allah sungguh diri ini hanya penuh dengan dosa. Sungguh diri ini tak pantas untuk masuk syurga, tetapi diri ini tak kuat menahan siksamu di neraka.
Ya Allah diri ini hanya mengharap ridho, rahmat dan Ampunan-Mu,walaupun diri ini yang penuh dosa tak layak mendapat ridho-Mu Ya Allah turunkanlah hidayah bg diri ini, istri yang kucintai dan anak2 kami.


Sungguh hati ini tak dapat berkata2 lg.................karena gelapnya hati ini.banyak kata hati yg ingin kuucapkan dan harapkan terutama untuk istri dan anak-anakku.

Afwan ukhti bila ana menumpang tulis disini

Subhanallah.....


ya Allah.. kabulkanlah doa hamba-Mu yang penuh harap dan cemas ini

amiin ya Allah

:)