Label: , , , , , ,




kemarin Na menelusuri kembali jalan kenangan
bercampur rasa rindu sekaligus duka
rindu karena saat itu na bisa memberdayakan diri untuk membantu orang-orang sakit
namun duka karena profesi itu kini tidak bisa kujalani dengan keadaanku yang sekarang..


" pakaianku menghambat potensiku dalam bekerja "


Sungguh ironi,
Melihat banyak kawan seprofesi yang harus bergelut dengan dunia kesehatan untuk membantu orang-orang sakit namun tidak berdaya melawan arus dunia yang semakin jauh dari sunnah Nabi SAW...

Sahabat-sahabat Na dulu adalah akhwat-akhwat yang luar biasa. Keistiqomahan mereka terhadap pendiriannya membuat diri ini menjadikan mereka sebagai panduan. Ketegaran mereka dalam mengarungi hidup yang penuh ujian membuat diri ini jadi malu yang senantiasa bersedih padahal tidak semestinya hal itu disedihkan secara berlebihan. Belum lagi dengan semangat mereka yang amat membara, memperjuangkan bahwa sebagai wanita, kita harus tetap istiqomah dengan jalur-jalur syar'i yang sudah ditetapkan dalam Islam.. jangan sampai tergoda untuk melepas keteguhan itu.

Namun kini, sejak mereka memasuki dunia pekerjaan.. satu persatu semangat untuk berada di jalur syar'i itu meredup.. dan.. mereka pun sudah tidak seperti yang Na kenal dulu lagi...

Bukan pertanda diri ini merasa hebat, tapi justru merasa takut sekali dengan godaan duniawi. Mereka para hijabers yang punya prinsip yang kuat dan 'keras' bisa dibuat menjadi fleksibel akan prinsip mereka sendiri. Bagaimana dengan saya yang lemah iman begini????



" Islam itu mudah, maka jangan dipersulit "



Baru kali ini Na bisa dengan kuat hati mempertahankan pendapat dan keinginan sendiri (selama ini kemana?). Walau sempat ragu dan bimbang luar biasa antara ingin tetap bertahan atau mundur. Mengingat perjuangan Na yang masih blentang-blentung ini dalam mempertahankan keteguhannya, rasanya sangat disayangkan jika harus kembali ke jaman-jaman jahil itu..

Terkadang jadi bertanya-tanya pada diri sendiri, sebenarnya sampai batas manakah yang harus ditaati mengenai "ke-fleksibilitas" dalam agama Islam..

Ketika terjun di dunia dakwah kampus, sempat mendapat pelajaran bahwa Islam itu mudah maka jangan mempersulit diri dengan aturan-aturan yang ada. Dulu sih setuju banget.. karena masih nggak tau apa2.. dan kini.. lama kelamaan kok saya jadi banyak berpikir ya..

Rasa-rasanya... jadi semakin banyak batas-batas dalam Islam yang saya langgar demi kepentingan saya pribadi. Misalnya seperti penggunaan minyak wangi, dulu ketika Na mengetahui bahwa menggunakan minyak wangi asbab ingin tercium wangi oleh orang lain yang non mahram maka dikatakan sebagai zina, wuih.. bukan berontaknya bukan kepalang

" lah.. daripada dibilang akhwat bau gimana???!! "

Dan masih banyak lagi aturan-aturan dalam Islam yang sengaja Na buat 'fleksibel' dengan meng-atas namakan kepentingan ummat (duh lagaknya.. padahal sih kepentingan diri sendiri..)


Akhirnya kini, apa yang terjadi dalam proses kehidupan hijrah Na banyak tanggapan positif dan negatif di mata orang lain. Ada yang mengatakan bahwa hijrah yang terjadi pada Na sangat hebat terlebih lagi Na terbilang masih anak muda yang pada umumnya kuat akan keinginan menuruti hawa nafsunya, tapi ada juga yang mengatakan Na ini terlalu kaku pada syari'at yang ada..

apakah saya dilanda kebingungan ?

hmm ... ya ... mungkin jawabnya...





bagaimana dengan anda?

apakah anda juga mengalami hal yang sama dengan saya?

seberapa 'fleksible' anda dalam menghadapi syari'at2 dalam Islam ?

pilihan mana yang anda terapkan?

jalur fatwa atau jalur taqwa?


Jika Sahabat Menyukai Artikel ini, Silahkan Bagikan ke Teman Anda!



Comment (1)

tatkala keimanan pasti di pertaruhkan hanya untuk keinginana semata

akan tetapi ketahuilah saudaraku seiman...

itu semua bukanlah jawaban yang baik, parameter yang utama adalah manakala keimanan kita di uji disanalah allah menginginkan jawaban terbaik

karena iman bukan untuk di buat fleksibel.
namun itu adalah kayu yang tertancab.

" bila kayu itu kuat maka, maka cobaan yang datang semakin berat"


- solusi, bila untuk dunia kedokteran, tidak usah takut kehilangan rezki. Kenapa tidak di buat dokter khusus perempuan / spesialisasi dibidang yg dekat dengan perempuan


aku yakin kalian pasti bisa.

iman = mutlak hanya untuk allah semata