Senin, 08 Februari 2010

nafi isbat


isilah titik-titik dibawah ini dengan jawaban yang benar dan tepat

"yang menggerakkan mobil mainan adalah"

baterai
.....




Setelah sekian lama mengakhiri waktu di bangku kuliah, baru kemarin Na dipertemukan dengan lembar kerja siswa (LKS) murid 1 SD. Maksudnya, sudah lama sekali Na tidak menyentuh 'barang-barang sekolahan'. Terlebih lagi melihat LKS yang dibuat dari kertas daur ulang itu.. wah.. membuat memori semasa kecilku terulang kembali..

Namun bukan masalah childhood memories yg ingin Na sampaikan, tapi ini masalah keyakinan yang dibentuk saat kita kecil hingga kini..

Ada yang pernah mengetahui atau mendengar kata " Nafi Isbat " ?

Singkatnya, Nafi Isbat adalah tentang pelajaran menafikkan hal yang nyata dan meyakini yang ghaib. Misalnya begini,

Obat tidak dapat menyembuhkan. Allah yang menyembuhkan. Obat untuk menyembuhkan berhajat kepada Allah. Allah menyembuhkan tidak berhajat kepada obat. Jika Allah berkehendak Allah bisa menyembuhkan dengan obat, jika Allah berkehendak Allah bisa menyembuhkan tanpa obat. Jika Allah berkehendak ada obat tapi tidak sembuh-sembuh. Laa ilaaha illa Allah

Dari rangkaian kalimat di atas, bisa kita tarik kesimpulan..

Makhluk tidak bisa, Allahlah yang melakukannya
Makhluk untuk bisa berhajat pada Allah, Allah melakukannya tidak berhajat pada makhluk
Jika Allah berkehendak bisa dengan makhluk, jika Allah berkehendak bisa tanpa makhluk
Laa ilaaha illa Allah



Keyakinan pada yang ghaib dan menafikkan yang nyata merupakan hal yang sangat minim ditemui di zaman yang serba canggih ini. Ternyata hal ini salah satu sebabnya juga karena sedari kecil, kita sudah diperkenalkan untuk lebih mempercayai hal yang nyata ketimbang hal yang ghaib. Mengapa bisa begitu?

Ya itu, salah satu (lagi) contoh kasusnya adalah ketika kutemui pertanyaan 'aneh' dalam LKS sepupu mungilku itu. Di dalam LKS itu banyak pertanyaan2 yang membuatku harus berpikir keras..

" Yang menggerakkan mobil mainan adalah.... A) tangan B) roda C) baterai "

Spontan dalam hati bertanya

" kok nggak ada opsi 'Allah' atau 'Tuhan' ya.. ? "

Tentunya adik sepupu Na yang masih kecil ini dengan lugunya menjawab bahwa yang menggerakkan mobil mainan adalah baterai. Memang ada penjelasan sebelumnya di LKS tersebut bahwa yang menggerakkan mobil mainan adalah baterai, sehingga sekarang adik sepupuku meyakini bahwa yang bisa menggerakkan mobil mainan itu adalah baterai.. dan bukan Allah..


Teringat juga dengan kejadian ketika salah seorang anak di madrasah bertanya pada Na. Dia bertanya apakah dengan berpose badan telengkup dan kedua kaki di ke-atas-kan bisa membuat salah satu dari keluarganya meninggal. Sebelum Na menjawab, temannya sudah ada yang berkomentar..

fulan B: " Yah, ga mungkin lah! gimana sih! "

fulan A: " ya abis kata temen begitu.. "

fulan B: " ya memang kamu percayanya sama siapa? sama temen kamu apa sama Allah? yang nyabut nyawa kan Allah "


Na yang mendengar pun hanya tersenyum2 sambil membenarkan kata si fulan B. Memang pose seperti itu dulu pernah membuat 'heboh' dunia anak2. Katanya, dengan berpose seperti itu maka akan membawa kesialan pada salah satu keluarga kita.. ternyata.. itu sekedar kepercayaan adat aja....


Na pernah bertanya pada sahabat Na sambil bercerita bahwa anak-anak madrasah terkadang sering menyatakan keyakinan mereka bahwa memang ada malaikat pencatat amal baik dan buruk pada pundak mereka. Na bertanya, apakah kita saat kecil masih terlalu lugu dan polos hingga mempercayai hal-hal ghaib yang dikisahkan oleh kedua orangtua kita dengan begitu saja? tidak seperti orang-orang dewasa, yang baru bisa menerimanya jika sesuai dengan akal logika mereka?

Ternyata bukan itu jawabnya, melainkan karena suasana agama

Sahabat menjelaskan bahwa jika kedua orangtua kita dulu paham agama dengan baik maka dengan mudahnya suasana2 agama terbentuk ketika kita masih kecil. Orangtua kita sudah memasukkan akan keyakinan2 terhadap hal yang ghaib kedalam pikiran kita ketimbang keyakinan terhadap hal yang nyata

Ketika kita berbuat salah, maka kita ditakutkan bukan kepada murkanya makhluk melainkan kepada murka Allah. Ketika kita sakit, maka kita diingatkan bahwa yang bisa menyembuhkan hanya Allah dan bukan obat. Ketika kita mau meminta sesuatu, maka kita diharuskan untuk meminta sama Allah bukan sama Ayah atau Ibu kita..


Lain dengan kita yang sekarang tumbuh dengan keyakinan penuh pada benda nyata daripada hal yang ghaib. Contohnya lagi ketika waktu Na sakit, sebagian besar memang lebih menyarankan Na untuk mengkonsumsi obat-obatan kimia.. walau memang sebagian yang lain juga menyarankan untuk mengkonsumsi obat-obatan sunnah seperti madu, habbats, menjalankan amalan2, dan sebagainya

Jika ada orang yang sakit dan berusaha ingin sembuh dengan menggunakan cara2 yang sunnah.. maka orang2 disekitarnya seperti mengeluarkan pernyataan, jika tetap menggunakan secara sunnah.. maka tidak akan sembuh.. atau seperti ragu akan sunnahnya Rasulullah SAW..

Padahal sudah jelas,

Di dalam sunnahnya Nabi SAW ada kejayaan

Namun otak ini sudah dipenuhi dengan keyakinan akan benda-benda yang nyata. Kalau belum menggunakan benda2 ini rasanya kurang sip.. kurang PD.. nggak yakin.. dan kalau kita ketahuan lebih percaya dengan hal ghaib dibilang cupu.. tradisionil banget.. memalukan... bahkan ada yang sampai mengatakan, " Itu kan dulu.. jaman Nabi belum kenal nasi! "
Astaghfirullah.....



Benar-benar menyedihkan ya sebenarnya kita...

Kita sudah mengganggap alat2 teknologi super canggih yang ada di zaman ini membawa kita pada era ke-emasan, kepandaian, kesuksesan.. tapi siapa yang mau sadar, bahwa di zaman yang serba modern ini, masih ada aja yang namanya perang? di zaman yang serba mewah ini masih ada aja yang mati kelaparan? di zaman yang serba pandai ini.. masih ada orang yang buta huruf?
dan di zaman yang sudah mau mendekati Kiamat ini.. masih ada aja orang yang tidak sholat ??


Astaghfirullah.....



Na sendiri baru mendapat tarbiyah dari Allah SWT akan Nafi Isbat ini..dan sekarang pun masih tertatih-tatih untuk mengamalkannya. Kembali mengumpulkan keyakinan-keyakinan pada yg ghaib yang sudah tercecer dan hilang dimakan waktu. Kembali mentarbiyah diri sendiri bahwa Allah Kuasa makhluk tak kuasa.. Laa ilaaha illa Allahu..


Yuk ah teman, kita selamatkan diri kita sendiri dari fitnah yang makin merajalela di dunia ini. Semua teknologi canggih itu hanyalah sekedar alat yang bisa berkarat dan akhirnya rusak. Tidak seperti Rabb kita yang Maha Kekal. Sudah ada ketika menciptakan suatu keadaan dan tetap ada ketika mengakhirkan suatu keadaan. Kita tanamkan dalam diri kita, untuk menafikkan yang nyata dan meyakini yang ghaib.. insya Allah..






Jadi,
percayakah engkau..
bahwa dengan sepotong kayu
lautan bisa terbelah ?

Kamis, 28 Januari 2010

get married

memenuhi tahap perkembangan..
menjalani sunnah..
melengkapkan iman..

kalau saya ?



Menikah,

Heung.. judul yang buat hati langsung tak menentu bagi Na. Melihat usia yang sudah dibilang 'cukup' ini, tengok kanan-kiri-depan-belakang.. wah.. teman2ku sudah banyak yang tidak lagi hidup melajang (bahkan sudah ada yang dikaruniai anak oleh Allah.. subhanallah). Sedih senang campur aduk kaya' rujak jadinya..


Sudah mapan, ditinggal suami bekerja pun ga bengong di rumah jadinya..

Sudah punya skill, mau masak.. menjahit.. buat kue... isi rumah pun bisa disulap menjadi sesuatu yang indah dan menawan..

Sudah dewasa, hingga sudah siap untuk menjadi seorang Ibu.. bersabar dengan tangisan bayi ditengah malam.. ikhlas menggendong bayi kesana kemari..

Sudahlah begitu tambah diberikan kelebihan berupa paras wajah bak bidadari pula! Membuat hati sang suami tiada lelah memandanginya selama-lamanya..

Subhanallah..

Saya?

Alamaak.. kadang inilah yang sering di-curhatkan pada Allah.. malu rasanya kalau saya mau dipersunting sama seorang laki-laki tapi tak ada kelebihan yang bisa saya tawarkan pada dirinya. Na tidak bekerja seperti wanita2 kebanyakan lainnya. Skill memasak? dapur jarang sekali saya sentuh, menjahit? aih.. jahit kain pel pun saya ga bisa! Dewasa? nah..tengoklah.. saya pun masih saja berantem dengan anak-anak madrasah.. masih tak mau kalah jika dijahili oleh mereka.. badanpun lemah, mudah sakit.. ringkih orang bilang, seharian menggendong bayi anak abang yang beratnya 8 kilo pun malamnya langsung meriang, badan pegal2.. ish ish ish..

Wajah bagai bidadari?

Haa.. bukan saya yang bidadari, tapi wanita2 disekeliling saya lah yang bidadari.. saya hanya numpang dan ikut2an jadi bidadari, walau saya bukanlah bidadari..

Kalau sudah begini, tak jarang Na merasa kasihan dengan lelaki yang akan menjadi suami Na kelak. Rasanya ia akan banyak bermujahadah saat sudah berumah tangga nanti.. sampai kadang berpikiran.. " silakan cari wanita yang lebih baik dari saya saja, saya ikhlas... "

(tapi ngomongnya sambil nangis2.. )

Lalu, apa pertanda Na menolak menikah? wah.. ngga juga dong. Siapa yang tak mau menikah? orang bilang, menikah itu untuk melengkapi tahap perkembangan manusia. Ada juga yang mengatakan bahwa menikah adalah salah satu cara menjalankan sunnahnya Nabi SAW. Juga ada yang bilang bahwa untuk melengkapkan iman yaitu dengan menikah. Dan.. masih banyak alasan-alasan lainnya mengapa kita harus menikah..


Na pernah dengar bayan masturoh, disana Pak Ustadz mengatakan bahwa saat ini jika ditanya alasan mengapa anda menikah, sedikit sekali yang mengatakan hanya karena ingin menyenangkan hati Allah SWT dan Rasul-Nya..

Subhanallah.. benar2 hanya Allah dan Rasul-Nya yang dipikirkan ya?


Ada kisah dimana pernikahan menjadi salah satu asbab turunnya hidayah Allah SWT..

Dijaman Bani Israil ada seorang (maaf) pelacur sangat terkenal kecantikannya dan sangat mahal. Ada seorang pemuda yang sangat ingin menggauli pelacur tersebut. Maka si pemuda ini bekerja mengumpulkan uang, bertahun-tahun, agar bisa menggauli si pelacur tersebut. Setelah uangnya terkumpul, pergilah dia ke tempat si pelacur tadi memberikan uang. Sampai dalam kamarnya si pelacur, si pemuda tersebut langsung tersadar, menangis :

Si pelacur bertanya, “Kenapa kamu tiba-tiba menangis ?”
Si Pemuda, “Saya Takut kepada Allah, sudah ambil uangnya, kita tidak jadi. Ini bukan karena kamu, ini karena Allah, saya takut pada Allah. Ambil saja uangnya, saya mau pergi.”

Melihat kejadian ini si pelacur juga terkejut, baru kali ini ada kejadian seperti ini. Maka si pelacur memberanikan diri menanyakan nama pemuda tersebut, tapi si pemuda tidak mau memberi tahu dan bergegas pergi. Si pelacur tetap gigih menanyakannya, ditarik pemuda itu dari belakang. Akhirnya dia menyakan darimana asal pemuda tadi, tinggal dimana dia. Si pemuda tadi akhrinya memberitahu dimana dia tinggal. Keluar dari kamar pelacur tadi, si pemuda lari nangis terisak-isak, takut pada Allah Swt.

Asbab kejadian ini si pelacur tadi tergugah hingga ia bertobat. Maka si pelacur tadi pergi mencari si pemuda tersebut untuk mendapatkan bimbingan. Setelah melakukan perjalanan yang panjang ke desa pemuda tadi, dia mulai bertanya-tanya kepada orang kampung tentang ciri-ciri pemuda tadi. Usut punya usut ternyata si pemuda tadi sudah meninggal, namun mempunya seorang adik yang sholeh. Pergilah si pelacur tadi menemui adiknya untuk mengetahui asbab meninggalnya si pemuda tadi. Setelah bertemu singkat cerita si pelacur tadi menceritakan kisah dia bertobat asbab pemuda tersebut kepada adik pemuda tersebut. Karena keinginannya yang begitu kuat untuk mendapatkan bimbingan dari seorang suami yang sholeh akhirnya si adik pemuda tadi menikahi mantan pelacur tersebut. Asbab tobat yang sungguh-sungguh dari seorang pelacur ini dari pernikahan mereka di anugerahkan keturunan 6 orang Nabi dari kalangan Bani Israil. Dari rahim mantan seorang pelacur lahir 6 orang Nabi Bani Israil, asbab tobatnya yang sungguh-sungguh. ( story taken from here )



Na juga pernah mendapatkan karguzari tentang kisah seorang Ibu yang memiliki risau dan fikir yang tinggi terhadap agama. Ia memikirkan jika hanya lelaki saja yang berdakwah, bagaimana dengan kaum wanitanya? bagaimana dengan anak2 mereka yang secara sunnatullah, Ibu adalah madrasah pertama bagi mereka? singkat cerita, Ibu ini menikahkan putrinya kepada salah satu Ulama yang sudah duda dan akhirnya dari keturunan mereka, lahirlah ulama-ulama besar yang kini menjalankan usaha atas dakwah..


Subhanallah.. betapa hebatnya sebuah pernikahan jika dilandaskan pada agama ya?

Siapa yang dapat mengira bahwa dari rahim kita nanti bisa Allah hadirkan seorang wali Allah?? (boleh punya cita2 sejauh ini kan?? hehe)

Waktu pertama kali mendengar penjelasan Pak Ustadz perihal pernikahan ini, rasanya jadi takjub sendiri.. bahwa, memang semua..benar2 semuaaa yang kita lakukan ini sudah semestinya harus didasari oleh agama yah, agar kelak apa yang kita kerjakan itu diberkahi oleh Allah SWT. Meskipun tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, tetapi tak apa karna tetap mendapatkan berkah dari Allah SWT


Menikah,

Mungkin bagi teman2 yang sekarang sedang mempersiapkan diri untuk menikah, ada baiknya memperbaiki niatnya lagi. Mumpung belum ijab qobul. Mumpung masih sempat. Perbaiki niat menikahnya hanya karena mencari ridho-Nya Allah SWT, tak sekedar menjalankan sunnahnya Rasulullah SAW, tetapi benar2 berharap semoga dengan pernikahan itu bisa menjadi salah satu asbab turunnya hidayah ke seluruh alam.. amiin.. amiin ya Allah..


Ah, gini deh kl sudah curhat.. bablas angine tulisannya.. maaf ya kepanjangan... semoga ada manfaatnya, insya Allah



Jadi,
....

ada yang mau menikah?


Rabu, 27 Januari 2010

sabar, maaf dan ramah

ada gula ada semut

ada marah ada sabar

eh..


Masih lanjutan dari tulisan yang kuambil dari buku Ihya' Ulumuddin karangan Imam Al-Ghazali. Kalau kemarin tentang marah, dengki dan dendam.. sekarang tentang fadhilahnya sabar, maaf dan keramahan. Na yakin, kita-kita yang lemah ini pasti pernah marah dan tentunya pernah juga bersabar menahan emosi. Sekejam apapun kita disakiti, tentunya kita juga pernah memaafkan suatu kekhilafan.. dan seburuk apapun perilaku seseorang, tentu ia memiliki keramah-tamahan terhadap seseorang..


Dah ah, daripada makin ngalor ngidul.. kumulai sajah :D


semoga bermanfaat untuk kita semua ya.. amiin.. amiin ya Allah



===============================================================

Bismillahirrahmaanirrahiim..



Keutamaan Bersabar



Ketahuilah bahwa kesabaran adalah lebih utama daripada menahan marah. Berpura-pura sabar, memaksakan diri bersikap sabar dan sabar alami merupakan indikasi kesempurnaan akal. Hancurnya kekuatan marah berada di bawah kebijakan akal. Kadang-kadang permulaannya adalah dengan berpura-pura sabar, kemudian menjadi panutan dan kebiasaan.

Rasulullah SAW bersabda:

“ Ilmu itu diperoleh dengan belajar dan kesabaran diperoleh dengan berusaha bersabar. Barang siapa yang memilih kebaikan, maka ia akan mendapatkannya. Barang siapa yang menjauhi kejahatan, maka ia akan dijauhkan darinya.”

“ Carilah ilmu, dan carilah bersama ilmu itu ketenangan dan kesabaran.”

“ Hendaklah kamu mengetahui orang-orang yang mengajarimu dan orang-orang yang belajar darimu. Janganlah kamu menjadi ulama yang sewenang-wenang, karena kebodohanmu akan mengalahkanmu.”

Di dalam doanya, beliau mengucapkan, “ Ya Allah, kayakanlah aku dengan ilmu, hiasilah aku dengan kesabaran, muliakanlah aku dengan ketakwaan dan baguskanlah aku dengan pemaafan.”

Di dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda,” Carilah kedudukan yang tinggi di sisi Allah. “ Para sahabat bertanya, “ Bagaimana caranya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “ Engkau menyambung tali silaturahmi kepada orang yang telah memutuskannya darimu, memberi kepada orang yang mengharamkan pemberian kepadamu dan bersikap sabar kepada orang yang berbuat jahil kepadamu.”


Allah SWT berfirman, … dan apabila orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata baik (QS. Al-furqaan: 63)


Para ulama dalam menafsirkan ayat di atas mengatakan, “ jika mereka dijahili, mereka tidak membalasnya dengan berbuat kejahilan.” Jika seseorang mencaci dan menggunjingmu, atau membuka aibmu, maka hendaklah engkau bersabar. Di dalam kesabaran terdapat keselamatan di dunia dan akhirat. Di dunia, bertambahlah kemuliaannya, dan di akhirat, berlimpahlah pahalanya. Rasulullah SAW bersabda, “ Jika seseorang membuka aibmu, janganlah engkau membuka aibnya.”



Keutamaan Pemaafan

Yaitu, ia mempunyai suatu hak, lalu menggugurkannya, seperti pemaafan dari qishaash atau harta dan denda. Allah SWT berfirman, jadilah engkau pemaaf (QS. Al-A’raaf: 199)
Dan firman-Nya pula, jika kamu memaafkan, maka itu lebih dekat kepada takwa (QS. Al-Baqarah: 237)

Rasulullah SAW bersabda:

“ Tiga perkara, demi Dzat yang diriku berada dalam kekuasaan-Nya, aku bersumpah atasnya. Yaitu: pertama, sedekah tidak akan mengurangi harta, maka bersedekahlah. Kedua, seseorang tidak memaafkan kezhaliman karena mengharap keridhoan Allah kecuali Allah menambah kemuliaannya pada hari kiamat. Ketiga, seseorang tidak membuka pintu meminta-minta kecuali Allah membukakan baginya pintu kefakiran.”

“ Kerendahan hati tidak menambah bagi seorang hamba kecuali ketinggian. Maka berendah hatilah, niscaya Allah meninggikanmu. Pemaafan tidak menambah bagi seorang hamba kecuali kemuliaan. Maka maafkanlah orang yang berbuat salah padamu, niscaya Allah akan memuliakanmu. Sedekah tidak menambah bagi seorang hamba kecuali keberlimpahan. Maka bersedekahlah, niscaya Allah mengasihimu.”

“ Barang siapa mendoakan kebinasaan bagi orang yang telah menzhaliminya, maka ia pun telah berbuat zhalim “



Keutamaan Keramahan

Ketahuilah bahwa keramahan itu terpuji. Keramahan merupakan buah dari akhlak yang baik. Kebalikannya adalah kekejaman dan kebengisan. Rasulullah SAW berkata kepada A’isyah r.ha, “ Barang siapa yang diberikan kepadanya keramahan, maka telah diberikan baginya kebaikan dunia dan akhirat. Barang siapa yang diharamkan baginya keramahan, maka telah diharamkan baginya kebaikan dunia dan akhirat.”

Di tempat lain beliau bersabda, “ Apabila Allah mencintai suatu penghuni rumah, maka Dia memasukkan pada mereka sifat ramah di antara sesama mereka. “



Wallahu a'lam bisshawwab...


==============================================================





Jadi,
sudahkah kita bersabar hari ini?
sudahkah kita memaafkan kesalahan seseorang pada hari ini?
sudahkah kita bersikap ramah pada saudara kita hari ini?


Selasa, 26 Januari 2010

marah, dengki dan dendam


dengki dan dendam kesumat musnah..




Teringat dengan nasyid melayu yang jadul itu membuat Na membuka kitab Ihya' Ulumuddin karangan Imam Al-Ghazali dan mencari-cari tentang apa itu marah, dengki dan dendam. Wah, kemarin topiknya sudah tentang marah.. sekarang tentang marah lagi ya? moga2 yang membaca jadi ga marah-marah.. amiin ya Allah

Nah, dibawah ini adalah tulisan yang Na ambil dari buku tersebut. Semoga bermanfaat ya teman-teman.. insya Allah..

Be ready for read it.. karna.. puanjaaaaang deh :D hehe


Bismillahirrahmaanirrahiim..


Tercelanya Marah

Abu Hurairah r.a meriwayatkan bahwa seseorang berkata kepada Rasulullah SAW., “ Wahai Rasulullah, perintahkanlah padaku suatu perbuatan dan saya sedikit melakukannya.” Rasulullah bersabda, “ Janganlah engkau marah.” Kemudian orang tersebut mengulangi lagi permintaannya. Beliau pun berkata, “ Janganlah engkau marah.”

Ibn Mas’ud r.a mengatakan bahwa Rasulullah SAW bertanya, “ Siapakah menurut kalian orang yang perkasa itu? “Kami jawab, “ Orang yang tidak dikalahkan oleh siapapun.” Maka Rasulullah SAW bersabda, “ Bukan itu. Melainkan orang yang perkasa itu adalah orang yang dapat menguasai dirinya ketika marah.”

Rasulullah SAW bersabda, “ Tidaklah seseorang marah, kecuali ia berada di tepi Jahannam.”


Hakikat Marah

Ketahuilah bahwa ketika manusia terancam kebinasaan, maka tetapnya ancaman itu menyebabkan marah. Marah adalah kekuatan yang menggelora dari batin. Maka Allah SWT menciptakan marah, dan memperbanyaknya di dalam bathin manusia. Sehingga jika ia marah, maka api amarah menyala dan berkobar. Api itu mendidihkan darah hati, lalu tersebar melalui pembuluh darah, kemudian naik ke tubuh bagian atas sebagaimana naiknya api atau air yang mendidih.

Demikian pula marah itu berpengaruh terhadap kulit sehingga menjadi merah. Jika ia marah kepada orang lain, lalu timbul rasa takut dan kesusahan, maka darah menjadi mengerut dan muncullah kesedihan. Maka kulitnya berubah menjadi kuning. Jika darah itu berubah-ubah di antara mengerut dan memuai, misalnya, maka kadang-kadang kulitnya menjadi kuning dan kadang-kadang menjadi merah, serta pucat. Pendek kata, tempatnya marah adalah di dalam hati. Yaitu, mendidihnya darah di dalam hati karena menuntut pembalasan.

Di dalam hal itu, manusia memiliki tiga tingkatan, yaitu:

Pertama, at-tafrith, yaitu ia kehilangan kekuatan ini atau memilikinya tetapi lemah. Hal itu adalah tidak adanya kobaran. Itu adalah tercela. Inilah yang dimaksud dengan perkataan Al-Syafi’I; “Barangsiapa yang dibuat marah tetapi tidak marah, maka ia adalah keledai.”

Kedua, al-I’tidaal (keseimbangan). Inilah yang dikehendaki. Hal itu adalah yang Allah SWT sifatkan tentang para sahabat r.a. .. bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih saying di antara sesama Muslim.. (QS. Al-Fath: 29)

Ketiga, al-ifraath (berlebihan). Yaitu, melampaui batas. Maka marah menguasain dirinya sehingga tidak dapat dikendalikan akal dan rambu-rambu syari’at. Orang yang seperti itu adalah yang ditundukkan. Ini pun tercela. Secara lahir tampak berubah dan jelek, sementara bathinnya lebih jelek lagi.

Diriwayatkan bahwa sekali waktu A’isyah r.ha marah, maka Rasulullah SAW bersabda, “Setanmu telah datang.” Maka A’isyah r.ha bertanya, “ Apakah engkau pun punya setan?” Rasulullah SAW menjawab, “ Benar. Namun aku memohon kepada Allah, lalu Dia menolongku terhadapnya. Maka dia masuk ke dalam agama Islam. Sehingga tidaklah ia memerintah selain kebaikan.”

‘Ali r.a berkata, “ Rasulullah SAW, tidak pernah marah karena urusan dunia. Jika beliau marah karena kebenaran, maka tidak ada seorang pun yang mengenalinya. Tidak muncul suatu apapun karena marahnya, kecuali ia mengalahkan marahnya.”

Ketahuilah, jika marah tidak dapat dihilangkan secara keseluruhan, maka setidaknya dapat dikurangi dan dikendalikan, khususnya jika bukan pada keperluan penghidupan. Hal itu adalah dengan mengenali nafsu dan kerendahannya, serta menyadari bahwa tidak sepatutnya ia memiliki ketinggian bersama kerendahan itu.


Mengobati Marah Ketika Berkobar

Diantaranya adalah mengetahui pahala menahan marah, sebagaimana telah dijelaskan. Kemudian mempertakuti dirinya dengan siksaan Allah SWT. Hendaknya ia mengetahui bahwa Allah SWT lebih berkuasa terhadapnya daripada dirinya terhadap orang lain.
Hendaklah ia mewaspadai dirinya terhadap akibat pembalasan, karena musuh pun bersiap-siap untuk menyakitinya. Maka jadilah hal itu permusuhan yang berkepanjangan. Sepatutnya ia memperhatikan jeleknya rupa orang lain ketika marah dan bermuka masam kepadanya. Ia pun hendaknya mengetahui bahwa orang yang sedang marah itu menyerupai binatang buas. Tetapi jika ia bersikap ramah, maka ia menyerupai para nabi dan para wali.

Jika ia memperhatikan, maka ia mengetahui bahwa marahnya berjalan atas kehendak Allah SWT, bukan atas dasar kehendaknya. Karena itu, disebutkan di dalam hadits bahwa itu merupakan sebab kemurkaan Allah SWT. Jika engkau telah mengetahui hal-hal ini, maka hendaknya mengucapkan: “ A’udzubillaahi minnasy syaythaanir rajiim” (aku berlindung kepada Allah dari bisikan setan yang terkutuk). Demikianlah Rasulullah SAW memerintahkan agar membaca doa ini ketika marah.

Ketika A’isyah r.ha marah, Rasulullah SAW menarik hidungnya, lalu berkata, “ Ya Allah, Tuhan Muhammad, ampunilah dosaku, hilangkanlah amarah hatiku dan selamatkanlah aku dari kesesatan fitnah yang tampak dan yang tersembunyi.”

Ucapkanlah doa itu, dan duduklah jika marahnya dalam keadaan berdiri, dan berbaringlah jika marahnya dalam keadaan duduk.

Rasulullah SAW bersabda, “ Marah itu adalah bara yang menyala di dalam hati. Tidakkah kamu lihat bengkaknya urat leher dan merahnya mata. Siapa saja dari kamu yang mendapati hal seperti itu, maka jika ia sedang berdiri, duduklah dan jika ia sedang duduk, tidurlah. Jika masih seperti itu, maka berwudhulah dengan air dingin atau mandi, karena api hanya dapat dipadamkan dengan air.”


Tercelanya Hasad

Hasad merupakan akibat dari dendam. Dendam merupakan akibat dari marah. Rasulullah SAW bersabda, “ Hasad memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”

Hakikat hasad adalah membenci kenikmatan Allah SWT kepada saudaranya, maka ia menginginkan kenikmatan itu hilang darinya. Jika ia tidak membenci hal itu bagi saudaranya, maka tidak menginginkan kehilangannya, tetapi menginginkannya untuk dirinya sebagaimana yang ada pada saudaranya. Hal semacam itu disebut ghibtah. Rasulullah SAW bersabda, “ Orang mukmin bersifa ghibtah dam orang munafik bersifat hasad.”

Allah SWT berfirman, sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang timbul dari diri mereka sendiri (QS. Al-Baqarah: 109)

Ayat di atas menagbarkan bahwa keinginan mereka agar hilang kenikmatan iman merupakan hasad.

Di dalam ayat lain Allah SWT berfirman, dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan llah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain (QS. An-Nisaa: 32)

Yang dimaksud dalam ayat di atas adalah larangan terhadap keinginan berpindahnya kenikmatan itu kepadanya. Adapun berharap agar Allah SWT memberikan kenikmatan seperti itu kepadanya, maka hal itu tidaklah tercela. Jika dalam urusan agama, maka hal itu terpuji.

Ketahuilah bahwa hasad memiliki banyak sebab, yaitu permusuhan, ingin disanjung, kebencian, kesombongan, ujub, ketakutan hilangnya maksud-maksud yang diinginkan, cinta, kekuasaan, kotornya jiwa, dan kebakhilan. Semua itu tercela.

Cara mengobatinya, yaitu dengan mengetahui bahwa hasad adalah berbahaya bagimu di dunia dan akhirat. Bahayanya di dunia, engkau merasa sakit karenanya. Hal itu akan menjadi teman tidurmu yang tidak akan berpisah siang dan malam. Adapun bahayanya dalam agama, hal itu berarti kebencian terhadap nikmat Allah SWT., maka orang yang mendapat nikmat itu mendapat pahala, sementara dosa dituliskan bagimu karena engkau hasad terhadapnya. Jika engkau mengetahui hal itu, dan engkau tidak menjadi sahabat bagi musuhmu, maka engkau harus menmaksakan diri menanggalkan hasad.

Al-Hasan meriwayatkan secara marfu’ dan mauquf bahwa Rasulullah SAW bersabda, “ Ada tiga hal pada diri orang mukmin, dimana ia mempunyai jalan keluar darinya. Adapun jalan keluarnya hasad adalah hendaknya ia tidak berbuat durhaka.”


wallahu a'lam bisshawwab..


****************************************************************************




Jadi,
sudahkah kita me-manage emosi kita
sesuai dengan sunnahnya Rasulullah SAW ?



Selasa, 19 Januari 2010

marah karena Allah SWT

picture taken from here


pernah marah sama anak kecil ngga?



Sepertinya baru kali ini Na 'naik pitam' dihadapan anak-anak madrasah. Maklum, tadi lagi dalam kondisi sendirian dan diserbu oleh anak-anak yang jumlahnya mungkin sekitar 15 anak (biasanya kalau mengajar di madrasah selalu berdua, kalau pun sendirian.. anak-anaknya jarang sebanyak itu :D ). Awalnya sih masih terbiasa dengan keributan anak-anak ini.. namun lama kelamaan ada satu anak yang membuatku cukup 'terpancing' karena ulahnya..

Memang apa yang si fulan lakukan? Heung... kali ini si fulan ini perilakunya agak lain daripada yang lain..

Se-kejam2nya anak-anak bermain, mereka hanya berlari kian kemari.. kadang ditambah adu pukul yang sekedar bercanda.. dan panggilan-panggilan ejekan yang masih berada dalam batas normal dan diterima bagi si fulan/fulanah yang diejek. Biasanya, kalau yang lagi lari-larian.. maksimal, ada yang jatuh..kejedot..kepleset..ketabrak..dsb... dan memang diakhiri dengan tangisan sih.. namun habis itu ya-sudah.. main maaf-maafan.. trus lanjut main lagi

Namun untuk si fulan yang terbilang anak baru di madrasah ini, ntah mengapa Na agak 'terpancing' untuk marah. Untuk seukuran anak yang sudah duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar ini.. ntah mengapa perilaku nakalnya tak bisa kutolerir hingga Na harus meredam emosi dihadapan anak-anak

Makin penasaran dengan apa yang si fulan lakukan?


Bagaimana aku tidak geleng-geleng.. nahan emosi.. mengatur napas dan mengatur suara.. melihat kelakuannya yang senantiasa memainkan (dengan sengaja) doa-doa yang biasa kami ucapkan saat sedang belajar.. belum lagi dengan ejekan yang ia lontarkan pada temannya yang sengaja memanggil-manggil si fulanah dengan nama Ibunya.. dia juga memperlihatkan betapa ia tidak menyayangi anak yang lebih kecil usianya dari dirinya..

Saat baru mau membaca Iqro.. dia memain-mainkan kata basmallah dengan menambahkan huruf A di depan 'basmallah', dan kata-kata ini dilakukan secara berulang-ulang hingga membuat teman-temannya yang mendengar sebagian tertawa-tawa karena merasa lucu dan sebagian lagi marah sambil mengatakan, " Iih.. dosa loooh... !! "

Setelah kuperingati, reaksi dia bukan diam dan tertunduk seperti kebanyakan anak-anak merasa bersalah. Tetapi ia malah tersenyum lebar dan malah tertawa (lebih kesalnya lagi dia malah mengejekku)... uuuuugh... kesalnyaaaaaaaa!!!!


Istighfar banyak-banyak jadinya saat itu..

Setelah kuminta untuk melafazkan 'basmallah' dengan baik dan benar secara berkali-kali.. barulah ia mau mengikuti.. kukira dia sudah jera.. tapi ternyata.. tidak!!! sehabis membaca Iqro, kami biasa mengakhirinya dengan mengatakan, " Shodaqallahul'Azhiim ", begitu juga dengan si fulan ini.. tetapi.. ia kembali 'membuat lucu', dia menambahkan kata-kata ' Ajim ' setelahnya selama berkali-kali.. sehingga seolah-olah seperti suara yang bergema...

Lagi-lagi, sebagian anak yang merasa lucu jadi tertawa dan sebagian anak yang merasa itu tidak lucu dan itu adalah salah.. mereka menunjukkan ketidaksukaan dengan mengatakan,

" Ih... diulangin lagi?!!! dosa loooh!!! "


Rasanya mukaku memerah saking menahan rasa kesal.. apalagi habis itu si fulan makin nyengir dan tertawa-tawa tanpa merasa bersalah..


Jam dinding di musholla menunjukkan pukul 5 sore. Ini adalah waktu terlama aku mengajar selama ini. Menghadapi anak-anak sebanyak ini sendirian.. belum melerai yang bertengkar.. belum melayani anak-anak yang bertanya ini-itu.. belum mendengar dan memperbaiki bacaan mereka... dan belum lagi dengan si fulan biang kerok itu... ini membuatku merasa capek, padahal sebelumnya ga pernah merasakan capek sepulang dari mengajar madrasah

Sebelum pulang, biasa kami mengakhiri pertemuan dengan membaca surah Al-'Ashr dan doa keluar musholla lalu ditutup dengan salam. Kupikir, si fulan sudah kapok karena daritadi aku dan teman-temannya sudah memperingati kebiasaan buruknya itu agar dihentikan.. tapi ternyata tidak... TT___TT

Ternyata, si fulan buat ulah lagi.... dia kembali melakukan suara yang menggema itu diakhir penutup salam.. dia menambahkan kata-kata " Atuh" diakhir kalimat salam..


Kejadian itu membuatku tak tahan lagi ingin 'marah'... Akhirnya aku 'marah' dihadapan anak-anakku sebelum melepas mereka pulang ke rumahnya...


Setelah suasana hening.. aku pun mulai bertanya-tanya pada mereka..

" Kakak mau tanya... boleh ngga kita jadi anak nakal ? jelek-jelekin nama teman kita.. main pukul-pukulan sampai ada yang menangis dan kesakitan.. itu dibolehkan? "

" Ngga Kaak.. " jawab mereka

" Kalau main pukul-pukulan.. sakit ga sih? "

" Sakit Kaak.. "

" Kalau ada yg jelek-jelekin nama kita.. atau orangtua kita.. senang ngga ? "

" Ngga Kaak.. "

" Lalu, kalau lagi belajar dan baca doa.. boleh ngga dimain-mainin.. ? apa itu diajarin disekolah? "

" Ngga Kaak.. "


Sebagian anak-anak yang paham bahwa sebenarnya aku ini lagi 'marah', mereka menjawab sambil tertunduk dan sebagian lagi yang masih belum paham.. masih menjawabnya sambil menunjuk-nunjuk siapa orang yang sedang kumaksud.. atau sambil membela diri sambil berbisik-bisik.. " bukan saya loh kak.. dia tuh yang begitu.. dia.. "
Mendengar hal itu malah membuatku tersenyum miris..

" Kakak bukan menuduh siapa-siapa.. Kakak hanya bertanya.. kalau kita bersikap jadi anak nakal seperti yang tadi.. apakah itu dibolehkan? apa disekolah diajarkan begitu? "


Anak-anak yang paham makin tertunduk malu dan yang ga paham makin main tuduh-tuduhan..


" Ayo dong.. kan disini kita datang untuk belajar mengaji.. belajar jadi anak yang sholeh.. masa anak ngaji kelakuannya begitu.. apa ngga malu? "

" Apa Allah suka dengan anak-anak yang nakal? "

" Ngga Kaak.. "

" Allah marah ngga sama anak yang nakal? takut ga kalau Allah marah? "

" takut Kaak... "

" ....... "


Selepas bertanya-tanya dan sempat membuat janji dengan si fulan agar ia kapok dengan perbuatannya itu.. aku pun mengizinkan mereka pulang...


===============================================================


Selama di rumah, Na jadi mengoreksi diri sendiri akan perilaku Na yang 'marah' dihadapan anak-anak madrasah. Apakah aku sudah melakukan yang benar? Bagaimana dulu Rasulullah SAW memberi nasehat pada anak kecil? apakah aku sudah mengikuti gaya beliau SAW ? lalu.. mengapa aku marah pada si fulan? salahkah aku memarahi anak-anak ?

Mungkin ada sebagian orang yang berpendapat bahwa anak kecil tetaplah anak kecil, biarkanlah kenakalan mereka dan jangan dianggap terlalu serius.. " namanya juga anak-anak "

Hal ini benar adanya,

Karena 'Aisyah r.ha pernah berkata ketika ia masih belia, bahwa maklumilah anak kecil perempuan (seperti dirinya) yang masih suka dengan sesuatu yang sifatnya sia-sia (HR. Bukhari-Muslim)

Umar bin Khattab r.a pun pernah berkata,
" Sesungguhnya anak-anakmu diciptakan oleh Allah SWT untuk generasi yang tidak sama denganmu, dan mereka diciptakan untuk mengisi suatu zaman yang tidak sama dengan zamanmu "


Seperti yang dituliskan dalam buku " wanita dalam risau dan pikirnya Nabi SAW", Rasulullah SAW telah memberikan teladan bagaimana menjaga keharmonisan orang tua dan anak-anaknya dengan kasih sayang. Hubungan kasih sayang ini bukanlah berarti pengendoran ajaran antara yang benar dan salah, juga bukan pula antara yang baik dan buruk. Batasan-batasan ini sudah jelas, tidak ada ketaatan selama melanggar aturan Allah SWT dan Rasul-Nya

Dalam sebuah mahfum hadits disebutkan, " Allah SWT merahmati seseorang yang menyimpan tongkat (rotan) untuk memperingatkan keluarganya " ( Jami'us Shagir)

Lukmanul Hakim berkata,
" Pukulan seorang ayah kepada anaknya lebih baik daripada sedekah sebanyak satu sha' (kira-kira seberat 350 kilogram) dan pukulan seorang ayah kepada anaknya perlu dilakukan sebagaimana tanaman memerlukan air "

Dan tentunya masih banyak lagi 'keajaiban2' lain dari didikan seorang Ibu atau Ayah pada anaknya yang semata-mata hanya ingin mencari keridhoan Allah SWT


Sekarang, kita-kita ini yang lagi di-didik Allah SWT untuk menjadi istri yang shalihah tinggal mempraktekkannya untuk kedepan nanti jika diberi karunia menjadi seorang Ibu, insya Allah.. amiin ya Allah.. dan untuk yang sudah menjadi seorang Ibu, yah.. sok atuh.. silakan dikerjakan sunnah ini :D


Subhanallah.. ternyata Allah senantiasa memberikan hikmah disetiap kejadian ya teman-teman..






Jadi,
ternyata harus banyak bersabar yah dalam menghadapi anak-anak..
Blog Widget by LinkWithin