Label: , , ,

" Buuu.. si fulan bikin si fulan nangis Buuu~ "

" Hayo, siapa yang membuat fulan nangis harus bertanggung jawab.. "



Adegan pertengkaran kecil yang terjadi di anak2 musholla tempat Na ngajarin Iqro, kadang sering terulang dan terulang lagi. Awalnya padahal mereka asik bermain. Dengan ukuran musholla yang Na anggap cukup mungil itu, lalu diisi oleh sekitar sepuluh anak, dimana mereka tak jarang berlarian kian kemari dengan kecepatan lumayan tinggi di dalam musholla sampai napas mereka tersengal-sengal, tak jarang berakhir dengan tragedi ' ga sengaja keinjek - ga sengaja ketabrak - ga sengaja kepukul ' dan ketidaksengajaan lainnya..

Kalau sudah begini, tentu.. ujung2nya salah satu korban dari ketidaksengajaan itu jadi nangis sesungukan karna menahan rasa sakit. Terlebih lagi, dominan dari anak2 madrasah masih berusia dibawah tujuh tahun. Akhirnya, fulan yang jadi korban hanya bisa menangis dan si fulan yang tak sengaja menjadi tersangka hanya bisa bilang,


" aku ga sengaja Buu... dia nya aja yang beginii.. begitu.. anu.. ini .. itu... "


Biasanya, kalau diantara mereka sudah ada yang menangis, Na jadi ga bisa ngapa2in. Cuma bisa berusaha menenangkan si fulan yang lagi menangis..

Salah satu Ibu yang menjadi pengajar Iqro disana, berkata dengan tenangnya..

" Hayoo.. siapa yang buat fulan nangis, harus berani tanggung jawab... "

Saat si Ibu bilang ' harus tanggung jawab', Na agak kaget. Ada yang nangis kok disuruh tanggung jawab? lagipula mereka masih mungil2 begini, apa mereka paham sama maksud tanggung jawab?


Tak disangka, ada salah satu anak yang berani jujur mengakui perbuatannya itu. Padahal ia melakukannya dengan tidak sengaja.. tapi kenapa dia mau jujur ya?


" Aku kan ga sengaja Bu.. orang tadi cuma kesenggol dikit..eh dia nya malah jatoh.. lagian sih dia berdiri disitu... "

" Lalu bagaimana? gara2 kesenggol dikit, temanmu jadi nangis karna senggolan kamu itu buat dia kesakitan... "

" ....... "

" kalau kamu diem aja, ga menyelesaikan masalah.. ayo belajar tanggung jawab.. "

" ....... "

" f.. fulan.. maapin saya ya.. tadi saya ga sengaja... "

" iya.. saya maapin kok... "




Subhanallah, Na dibuat terkesima dengan apa yang dilakukan mereka..

Mungkin orang yang melihat kejadian itu menganggapnya sebagai hal yang sepele. Tapi bagi Na, waw... tak habis pikir rasanya. Mereka yang masih bocah ingusan begitu ternyata sudah paham akan tanggung jawab. Si fulan yang merasa telah melakukan kesalahan mau sadar diri dengan mengakui kesalahannya lalu meminta maaf dan si fulan yang jadi korban ketidaksengajaan mau memaafkan kesalahan temannya. Dan proses maaf2annya itu dengan bersalaman pula..


Subhanallah... dari mana mereka bisa belajar bersikap seperti itu?


Kejadian ini secara tidak sengaja (daritadi gara2 ketidaksengajaan ya..hehehe..) membuat otak Na kembali berputar dan diasah lagi. Teringat pula dengan suatu hadits yang mengatakan bahwa tiap2 diantara kita adalah seorang pemimpin dan pada akhirat nanti, Allah akan meminta pertanggung jawaban atas apa yang sudah dipimpin dari kita,


Jangankan seorang presiden yang punya tanggung jawab atas rakyatnya. Na pikir.. Ternyata kita sendiri juga punya 'rakyat'. Dari mulai ujung rambut sampai ujung kaki, itulah 'rakyat' kita. Apa saja yang pernah kita lakukan terhadap mereka, tentunya Allah akan minta pertanggung jawabannya. Itukan baru tanggung jawab terhadap diri sendiri, bagaimana tanggung jawab dengan orang lain?

Orang tua punya tanggung jawab pada anak2nya. Guru punya tanggung jawab pada murid2nya. Dokter punya tanggung jawab pada pasien2nya..

Ah, kesannya hanya atasan ya yg punya tanggung jawab sama bawahannya. Tapi ternyata ga begitu, karena kata Allah, setiap orang adalah pemimpin dan seorang pemimpin akan diminta pertanggung jawabannya atas apa yang dipimpinnya

Seorang anak, punya tanggung jawab pula pada orangtua. Murid pun juga bertanggung jawab sama gurunya, sama halnya dengan pasien pada dokternya..

Contoh tanggung jawab yang akan 'ditagih' nanti sama Allah saat di akhirat adalah tanggung jawabnya seorang anak pada orangtuanya. Sejauh mana si anak berbakti pada orangtuanya. Apa saja bukti bakti kita pada orangtua kita. Apakah cukup dengan menunjukkan gelar sarjana, pengusaha sukses yang punya duit banyak, prestasi yang gemilang, dan ke-glamour-an yang semata2 hanya indah dipandang di dunia, sudah mampu disebut " bakti pada orangtua? "

Jadi inget, kalau ga salah ada hadits yang menceritakan seorang pemuda yang menggendong Ibunya saat sedang melakukan haji. Lalu pemuda ini bertanya pada Rasulullah Saw,
" Ya Rasulullah, aku sudah menggendong Ibuku selama kami melakukan thawaf. Apakah ini sudah bisa membalas semua jasa Ibuku padaku? " Lalu Rasulullah Saw menjawab, " Belum.. bahkan belum sehela napas Ibumu telah kau gantikan.. "

(ah, ingatanku agak buruk.. tolong diperbaiki ya kalau ada yang tau tentang hadits diatas..)


Seakan2 Rasulullah Saw ingin menunjukkan betapa besar pengorbanan yg sudah dilakukan seorang Ibu terhadap anaknya hingga untuk membalas semua jasanya, rasanya sulit dan bukan hanya dengan satu cara..

Inilah tanggung jawab kita sebagai anak yang nantinya bakalan ditanya sama Allah. Sudah sejauh mana kita berjibaku membalas jasa2 orangtua kita (walaupun takkan ada orangtua yang mau minta ganti rugi atas jasa2 mereka yang telah diberikan secara gratis pada anak2nya)


Bagi Na yang secara.. hidup nganggur dirumah. Tentunya Na ga bisa membanggakan diri Emak-Bapak dengan menunjukkan bahwa Na sudah jadi orang yg sukses (nganggur gitu..sukses apanya~). Satu2nya jalan yang terpikirkan hanya membahagiakan mereka kelak untuk akhirat nanti.. Amiin ya Allah (dunia tak bisa, akhirat boleh kan?)


Pengen gitu, di akhirat nanti ngasih hadiah surprise buat orangtua...

" Ya Allah, dari mana kami dapatkan taman-taman yang indah ini? "

" Ini adalah hadiah dari anak2 kalian yang sholeh dan sholehah.. "


Ah, jadi nyengir kuda sendiri deh...


Tentunya untuk bisa mendapatkan hadiah itu ga segampang yang dikira karna ga mudah loh jadi anak yang punya predikat sholeh dan sholehah..


Saat masih dalam buaian, tentu setiap orangtua mendoakan dan mendambakan anak2nya menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Senantiasa patuh dan taat akan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Mencintai pula sunnah-sunnah Rasul-Nya dan tentunya berbakti kepada kedua orangtuanya..

Inilah saatnya kita melakukan tanggung jawab kita dengan memenuhi doa2 orangtua kita. Melanjutkan kembali harapan2 mereka untuk memiliki anak yang sholeh dan sholehah..


Pada intinya sih, Na cuma lagi dan lagi.. mengajak agar kita sama2 belajar jadi manusia yang lebih baik dari kemarin dan besok lebih baik dari hari ini. Mulai belajar tanggung jawab. Dari tanggung jawab terhadap diri sendiri, ke orang lain dan tentunya tanggung jawab terhadap Allah..


Kita bisa mematuhi seluruh peraturan yang dibuat oleh atasan kita, tetapi kenapa kita ga bisa mematuhi seluruh peraturan yang dibuat oleh atasannya atasan kita? yaitu Allah Yang Maha Raja






Jadi,

apakah aku sudah melakukan tanggung jawabku kepadamu

teman ?

Jika Sahabat Menyukai Artikel ini, Silahkan Bagikan ke Teman Anda!



Comments (2)

as usual, as always.. hihi, ina selalu bisa ngambil hikmah di setiap kejadian sekecil apapun deh, sugooi ^^~


euh..nulis blog juga harus tanggung jawab atas semua tulisannya ya na?

(gawat nih, blog ku amburadul isinya.. ahahay TuT )

ah ri, ini juga karna Allah negur na lewat ucapannya si Ibu tentang tanggung jawab.. kalo ngga ada kata2 tanggung jawab mungkin saya masih bengong liat anaknya nangis :D


iya ri, semuanya. karna itulah sekarang sudah banyak blogger yg mengeluarkan jurus 'dakwah' nya lewat postingan2 mereka

tapi balik lagi, semakin banyak yg ditulis,makin banyak juga yg harus dipertanggung jawabkan..

hehe..blog na jg amburadul ri TT__TT