Label: , , , ,


Ngaku kenal sama keluarga sendiri? yakin? bagi yg merasa yakin, jangan baca postingan di bawah ini ya..


Sewaktu jaman kuliah dulu, ada salah satu dosen yang berkata,

" Kebanyakan masalah dirumah terjadi dikarenakan miss komunikasi dan penyebab terjadinya miss komunikasi karena kurang atau tidak adanya komunikasi yang terbuka antar keluarga "
Lanjut, dosen itu mengungkapkan berbagai contoh kejadian yang terjadi karena tidak adanya komunikasi yang terbuka ini, dan contoh yang paling mudah ditebak adalah, secara menyeluruh yang mengetahui rahasia pribadi kita bukanlah keluarga melainkan orang lain (baca: sahabat)

Anggukan super cepat langsung kulakukan seketika setelah mendengar penjelasan si Ibu. Bener, bener banget.. itulah aku, tipe orang yang lebih menyukai kejelekan sendiri diketahui oleh orang lain dibandingkan dengan keluarga sendiri. Lebih menyukai curhat tentang apa saja pada sahabat dibandingkan berbincang2 pada Mamah ataupun Papah. Intinya, aku lebih terbuka dengan orang lain dibandingkan dengan keluargaku sendiri

Awalnya sempat girang karena ternyata hampir seluruh teman kampusku memiliki sifat seperti ini, tapi saat mengetahui bahwa kita lebih terbuka pada orang lain daripada keluarga sendiri bisa membuat masalah di rumah.. rasanya jadi serba salah

Ada sahabatku yang berkata, " Iya sih, aku lebih sering curhat dengan oranglain dibanding sama Ibuku, habis kan malu.. tapi ada kalanya dimana cerita yang kuberikan hanya untuk Ibuku atau untuk sahabatku.. "

Lain lagi dengan ungkapan temanku yang berkata, " Hemm.. kayanya kita serumah cuek beibeh aja tuh, kaga ada yg pernah curhat2an tapi sampe sekarang okeh2 aja.. kaga pernah ada masalah di keluarga kita.. "


Apakah iya, dengan adanya komunikasi terbuka antar sesama keluarga mengurangi adanya masalah dalam keluarga? pikir dipikir.. iya juga sih. Ambil contoh kasus, misal anak yang kena narkoba. Ntah kenapa alasan utamanya dominan karena si anak termasuk dalam kasus broken home. Dulu, sampe jumpalitan aku mengartikan kata2 broken home, kukira rumahnya pecah.. kok ada hubungannya gitu sama narkoba? eh, setelah paham ternyata artinya di rumah itu terjadi perpecahan antara Ibu dan Ayah (baik itu cerai atau yg lainnya). Kalau pun ada komunikasi yang baik diantara Ibu dan Ayah termasuk anak mereka, mungkin bisa perpecahan itu bisa dihindari, karena satu sama lainnya saling mengungkapkan pendapat (tentunya disini juga diperlukan bagaimana cara mengungkapkan pendapat yang baik karena kl mengungkapkannya sambil marah2.. sama juga bolong dong ya..). Setelah komunikasi tersebut bisa berjalan dengan baik, stres pada anak dan mengarah pada hal negatif seperti melampiaskannya pada narkoba.. jadi bisa dihindari deh..

tentunya itu berkat pertolongan dari Allah (ya kan?)


Tunggu, kok aku jadi membahas masalah beginian sih??? bek tu topik ah!!

Saat ini, aku sangat ingin menyatukan hatiku dengan keluargaku. Pengen gitu, ga sedih sendirian.. ga bahagia sendirian.. ga susah sendirian.. dan tentunya, ga ingin sendirian. Kupikir, kami sekeluarga berasal dari 'sari pati' yang sama. Kami sedarah dan sedaging. Harusnya dengan adanya kesamaan yang luar biasa yang Allah ciptakan untuk kami ini, membuat kami satu hati ya. Tapi nyatanya.. tidak seperti apa yang kupikirkan.. walaupun kami hidup sedarah, sedaging dan seatap.. ternyata hati kami berjauhan (atau hanya aku yg merasa seperti ini??)

Padahal yang lebih hebat dari itu, kami ini kan satu iman ya. Bukankah seharusnya dengan satu iman itu kami memiliki hati yang saling menyatu?

Saat merasa 'jauh' seperti ini, aku jadi ingat dengan kisah2 para nabi yang berdakwah diawali dengan dakwah pada keluarganya. Keluarga merupakan orang terdekat bagi kita tapi ntah mengapa menjadi hal tersulit dalam hal untuk berdakwah. Tidak sedikit peran keluarga yang memegang suksesnya dakwah para nabi, lebih khusus peran istri-istri mereka. Saat istri2 mereka sudah mendukung sehingga mereka sudah satu hati, dengan izin Allah, maka perjuangan dakwah ke orang lain pun menjadi mudah. Kenapa bisa mudah? kalau kusimpulkan ya karena mereka sudah satu hati. Mereka sama2 mengalami penderitaan, kebahagiaan, kesulitan, kemudahan.. ya, intinya sama2 merasakan deh

Apa pendapatmu jika melihat keluarga dimana ayahnya adalah seorang pemabuk, ibunya adalah seorang penjudi, dan anaknya adalah seorang ustadz? atau dibalik, ayahnya seorang ustadz, ibunya seorang ustadzah dan anaknya adalah seorang pengedar ganja? wajarkah?

Padahal katanya nanti di akhirat, bisa main tarik-tarikan untuk ke neraka. Ketika sang anak akan dimasukkan ke dalam neraka lalu dia berkata bahwa orang tuanya tak pernah mengajarkan kebaikan satu pun kepadanya sehingga yang tadinya orangtuanya sudah menjadi penghuni surga ditarik untuk menemani anak mereka di dalam neraka.. (begitulah yang aku ingat, mohon diperbaiki ya kalau aku salah.. )

Kesimpulannya,

Aku masih merasa belum kenal dengan keluargaku karena aku merasa belum satu hati dengan mereka..



Ya Allah, kumohon akan pertolongan dari-Mu..
Satukanlah hati kami..




Jika Sahabat Menyukai Artikel ini, Silahkan Bagikan ke Teman Anda!



Comments (4)

sebuah keluarga seharusnya emang satu hati Na...
Tapi sebagai manusia kita memang tak pernah luput dari masalah...
Be strong.. sabar...
Insya Allah ada jalannya :)

Love you... *peluk2 ina*

Pa kabar ?

@ bunda menik:
yap, betul bun..manusia tak pernah luput dari masalah sehingga kita harus belajar bagaimana agar tak terus menerus terjadi masalah

lov yu tu bun.. *peluk bunda*

Alhamdulillah, aku baik2 aja, gimana kabar bunda,si mungil kaka dan ayah bunda? masih kangen2an ya :D

kadang suka iri liat keluarga-keluarga yang harmonis, hubungan antar adik dan kakak pun seperti hub antar sahabat..

tapi hidup ini tetep sebuah perjalanan yang di setiap langkahnya masih ada sebuah kesempatan untuk merubah sesuatu..

*wise wanna-be mode ON*

sepertinya ada 'trik-trik' tersendiri buat menyatukan hati sebuah keluarga.. ayow naa~!! kita berjuaang, uhuehehe (^0^)9

*rangkul ina*

jadi teringat dengan salah satu temanku yg kalau lagi ditelpon ibunya seperti ditelpon kekasih.. duh..irii rasanya melihat ia sebegitu dekat dengan ibunya ^^

yap,tentunya yang merubah hanyalah Allah,jika Ia menghendaki akan perubahan itu. kita hanya bisa memohon akan pertolongan dan yakin datangnya pertolongan itu dari Allah

yup,kita sama2 berjuaaang~ demi tegaknya keadilaaan.. !!! (*eh?)

*rangkul mari*