Label: , , , , ,

Sebenarnya ini tulisan yang tertunda, tepatnya karna baru memahaminya sekarang. Dan sebelum membaca lebih lanjut, tulisan dibawah ini hanyalah hasil pemikiran saya sendiri. Jadi mohon dimaklumi karena pastinya banyak kesalahan dimana-mana..


Tanggal 8 desember 2008 lalu, Na berusaha mendengarkan dengan sungguh2 akan ceramah Idul Adha yang disampaikan oleh penceramah di masjid depan rumah. Ternyata ceramah yang disampaikan oleh pak ustadz lumayan menarik perhatian Na, tentang apakah itu??? sebenarnya sih ada tiga point, tapi yang paling diingat adalah point, bagaimana hidup sebagai istri yang sabar seperti istri Nabi Ibrahim a.s, Siti Hajar

Yang disampaikan oleh pak ustadz adalah kurang lebih seperti ini,

Kebanyakan para istri sekarang sudah melupakan jasa-jasa suami mereka. Hanya mementingkan kepentingan sendiri. Jika suami pulang tanpa membawa uang, marahlah mereka. Jika suami melarang mereka untuk pergi senang2, ngamuklah mereka. Para istri seakan-akan dibuat lupa dengan usaha suaminya yang bekerja keras demi mereka. Tak sepantasnya mereka bersikap seperti itu. Istri seharusnya sangat taat kepada suami. Apa yang dikatakan suami, itulah yang harus mereka kerjakan...

hanya itu yang Na ingat, oh..adalagi yang disampaikan. Pak ustadz menyampaikan tentang hadits.. ah, Na lupa lengkapnya, hanya ingat ada kata2, 'menjilat nanah suami' (ada yang tau?)

Setelah mendengar apa yang diucapkan pak ustadz, inilah pendapat Na,

Sangatlah betul apa yang diucapkan oleh pak ustadz itu. Walau Na belum menjadi seorang istri, tapi Na sudah melihat bukti dari kata2 yang disampaikan pak ustadz itu. Na ngga bisa menutup mata melihat tidak sedikit istri yang 'membangkang' sama suami mereka. Hal ini membuat Na sebagai seseorang yang jika Allah menghendaki, akan menduduki posisi sebagai seorang istri, jadi harap2 cemas. Karena yang Na lihat, ketika menjadi seorang istri itu tanggung jawabnya sungguh luar biasa dan tidak jarang kalau istri yang tidak mengetahui apa tugasnya, maka terbengkalai-lah semuanya.

Sudah seharusnya kita (para kaum hawa) mencontoh kesabaran yang dimiliki oleh Siti Hajar. Perjuangan beliau yang sungguh luar biasa rasanya sangat ingin Na contoh. Bagaimana tidak harus berjuang? Beliau baru dikaruniai anak ketika usianya terbilang cukup tua untuk memiliki anak. Ketika sudah memiliki anak, harus berjuang lagi untuk ditinggal oleh suami yang mendapatkan perintah dari Allah agar meninggalkan dirinya dan anaknya di padang gurun pasir tak bertuan. Tak ada orang, tak ada makanan dan minuman. Sepi, hanya ada mereka berdua dan Allah. Saat anaknya, Nabi Ismail a.s meronta-ronta kehausan, Ia harus berlari-lari kesana dan kemari mencari air. Bukan lari yang biasa, tetapi lari yang harus mendaki dua bukit selama berkali-kali. Saat itu Siti Hajar lupa bahwa sesungguhnya hanya Allah yang Maha Memberikan Rezeki. Air tak dapat dicari jika Allah tak menghendaki. Setelah Siti Hajar menyadari akan kekhilafannya, maka Siti Hajar pun berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah untuk memberikannya air dan makanan yang cukup bagi dirinya dan anaknya. Setelah itu, Allah mengabulkan doa nya dengan memberikan air zam-zam dan pohon kurma

(itu kisah yang Na inget, lebih lengkapnya lagi.. intip didalam Al-Qur'an masing2 yaa :D )

Satu hal yang membuat Na takjub dengan Siti Hajar. Betapa taatnya ia dengan perintah suaminya. Bayangin aja, diminta untuk ditinggal gitu.. jaman sekarang apa iya ada yg mau ditinggal suaminya? ditinggal pergi kerja (dinas di luar kota) selama beberapa hari aja dah manyun apalagi ini, ditinggal untuk menjalankan perintah Allah?
Mungkin kalau ditinggal pergi untuk alasan kerja, masih dimaklumi karena itu untuk menjalankan perintah atasan suami, sudah gitu.. itu pun juga untuk kebaikan dirinya dan suami (baca: untuk mendapatkan uang). Tapi Siti Hajar kan ditinggal pergi bukan karena Nabi Ibrahim a.s mau pergi kerja, melainkan karena beliau mendapatkan perintah dari Allah untuk pergi berdakwah.. sudah gitu Siti Hajar juga ngga tanya ini itu. Beliau ngga protes, ngga bilang, " Enak aja saya ditinggal berdua tanpa persediaan apa2, trus saya mau makan apa?? ". Ketika Siti Hajar mengetahui bahwa suaminya mendapatkan perintah langsung dari atasannya yaitu dari Allah SWT, ia pun langsung taat..

Subhanallah.. siapa ngga pengen jadi istri yang taat kaya gitu.

Lagi-lagi Na memiliki pendapat yang cukup aneh dan kemungkinan besar ini karena Na belum menjadi seorang istri, jadi pandai-lah saya untuk berceloteh~

Kalau ditanya pendapat Na, ntah mengapa Na sangat ingin merasakan hal yang sama seperti yang dialami oleh Siti Hajar. Mungkin (inget, mungkin ya..), Na akan menjawab.. " Silakan Mas, kalau Mas mau pergi untuk menjalankan dakwah. Titipkan saya pada Allah semata, Insya Allah semua kebutuhan akan terpenuhi karena hanya Allah yang mampu memenuhi kebutuhan saya, insya Allah " kepada suami Na yang mungkin akan pergi meninggalkan Na untuk menjalankan dakwah. Na mungkin akan 'berisik' jika nantinya suami Na lebih konsentrasi sama 'dunia' bukan 'akhirat'. Na mungkin akan memintanya untuk berperilaku seperti Rasulullah SAW. Na mungkin akan merengek jika kehidupan kami sepi dari sunnah. Na mungkin akan memaksanya untuk selalu shalat di masjid. Na mungkin akan mengatakan, ' jangan manjakan saya dengan uang dan perhiasan karena kedua hal itu bisa membuat saya lalai padamu dan lalai pada Allah'

Dan kemungkinan2 lainnya yang sudah ada dibenak pikiran Na selama ini..

Apakah pertanda Na sudah siap menikah?

Ah.. pikiran yang melambung~ tapi.. boleh-lah itu jadi cita-cita saya..

Na ingin merasakan saat Na bermunajat pada Allah dan hanya bergantung kepada Allah. Ingin merasakan betapa nikmatnya saat menjalankan ketaatan istri kepada suaminya. Dan yang paling utama, ingin mendapatkan ridho Allah.. insya Allah

Sedihnya saat ceramah lalu, jarang ada yang mengungkit tentang ketaatan dan kesabaran dari Siti Hajar dibalik makna ' Idul Adha' yang kita rayakan. Padahal mayoritas dari kita adalah wanita yang seharusnya dan sewajarnya mengikuti jejak para istri Rasulullah dan para shahabiyah..



Ya Allah, semoga ini menjadi bukti nyata bagiku dan bagi-Mu bahwa aku berniat untuk mengikuti jejak mereka.. jejak para bidadari di surga-Mu

Ya Allah, permudahkanlah langkah kami untuk mengikuti jejak mereka. Berikanlah kami ketabahan, berikanlah kami kemudahan, berikanlah kami pemahaman yang baik bagaimana menjadi istri yang baik bagi suami kami (eh, tapi saya belum jadi istri.. yah..calon istri deh..)

Ya Allah, ingatkanlah pada kami bahwa dunia ini adalah fana dan akhirat itu nyata. Kesenangan yang kami dapat di dunia takkan pernah melebihi nikmatnya kesenangan yang kami dapat di akhirat nanti

Ya Allah, jadikanlah kami sebagai penghuni surga-Mu dan bukan sebagai penghuni neraka-Mu..

Amiin ya Allah..

Jika Sahabat Menyukai Artikel ini, Silahkan Bagikan ke Teman Anda!



Comments (5)

manyun ditinggal dinas keluar kota mungkin wajar gara-gara 'was-was'..

tapi klo ditinggal karena perintah Allah..apa mau dikata? he he.. *lagi-lagi ikhlas* setidaknya punya pegangan...

wahh Na, ayow laksanakan cita-cita mu segera.. :D mungkin udah ada yang nunggu Na di balik komputer nya.. ^,^

Dari Abi Said Alkhudri radiyallahu anhu bahwa seorang laki-laki membawa seorang anak wanitanya menghadap Nabi shalallahu alaihi wassalam, ia berkata, "anaku ini menolak untuk menikah”. Nabi berkata kepada anaknya, "Taatilah bapakmu".

Anak wanita itu berkata, “tidak, sebelum engkau memberitahukan kepadaku apakah hak seorang suami atas istrinya?" Ucapan anaknya membuatnya gusar. Lalu nabi berkata, "Hak seorang suami atas istrinya ialah seandainya seorang suami luka lalu sang istri menjilatinya, atau seandainya kedua hidung suaminya keluar nanah lalu istrinya menjilat nanah itu maka belumlah istri tersebut menunaikan haknya (suaminya)". Anak wanita itu berkata “demi dzat yang mengutusmu dengan hak, aku tidak akan menikah selamanya. Lalu Rasulullah bersabda ”Janganlah kalian menikahkan anak-anak wanitamu sebelum mereka menyetujuinya.”

Atau dengan kata lain, seandainyapun seorang isteri menjilat dengan lidah darah dan nanah yang meleleh dari hidung suaminya, itu masih tetap belum akan cukup untuk memenuhi hak si suami atas dirinya.

~kaka_natsu~

@ mari:
wah,tergantung apa yg di 'was-was' in-nya nih. kl was2 takut dia lirik kanan-kiri,pertanda istrinya blum menyerahkan sang suami pada Allah. kl saya mungkin akan meng-ultimatum,
" silakan lihat kanan-kiri, tapi ingat, Allah senantiasa melihat setiap gerak-gerikmu"

ayo..ayo..mari juga laksanakan cita-cita ini.. mungkin juga udah ada yg nunggu mari di balik komputernya :D

@ kaka_natsu:
jazakallah khairan katsira.. yap, itulah hadits yg dimaksud oleh pak ustadz nya ^^

ayo segera menikahlah Na... kalau memang sudah ada pilihanmu, mudah2 an keinginan Na terlaksana, amin... :)

@ mba lala:
kalau pilihan Na sih ada mba, masalahnya.. apakah saya dipilih olehnya?? :D

Amiin ya Allah, jazakillah khairan katsira ya mba ^^