Label: , ,

Siang tadi sambil membaca sebuah buku pinjaman dari seseorang, Na menghidupkan kembali radio yang cukup lama tak kusentuh-sentuh (aiih bahasanyoo..). Kebetulan ada kajian yang membahas mengenai " Amal" . Yap, sudah kuniatkan ingin berbagi apa yang kudengar dari radio pada kalian, tentunya hanya mengharapkan ridho dari Allah SWT, insya Allah

Begini pembahasannya (dari pak ustadz -yg aku ngga tau namanya siapa-)

Mungkin dari beberapa teman ada yang sudah paham bagaimana konsep untuk beramal. Tapi, tak ada salahnya untuk mengulang kembali (tentunya biar nambah inget ^^ ).
Pak ustadz menyampaikan, bahwa sesungguhnya dalam beramal itu diperlukan empat hal. Apa itu? yaitu: ikhlas, niat, bersungguh-sungguh dan menyegerakannya.

Na coba bahas satu persatu ya, dan tentunya hanya sebatas yang kuingat saja ^^

1. IKHLAS
Adalah point pertama yang dibutuhkan saat kita beramal. Aku lupa penjelasan dari pak ustadz. Cuma mungkin yang mudahnya, ya yang namanya beramal.. tentunya dengan keikhlasan bukan? (kl ga ikhlas namanya bukan beramal, tapi maksain diri). Ga gampang untuk menghadirkan hati ikhlas saat beramal (bener lho) karna kadang kita suka salah arti dengan ikhlas. Kita sering mengartikan ikhlas dengan rela, tapi kl dalam Islam tentunya ikhlas yg dimaksud adalah ikhlas karena Allah SWT.
Contoh kasus seperti ini,
di bes ada pengamen. Kebetulan ada sisa uang receh di kantong atau di dalam tas. Lalu dengan mudahnya kita mengeluarkan uang itu dan memberinya kepada si pengamen, tanpa disadari apakah itu memberinya ikhlas karena Allah atau hanya karna ingin berbagi aja? atau sekedar ritual beramal saja?
.
Karna itulah, saat beramal, hadirkan dalam hati perasaan ikhlas karna Allah SWT. Ikhlas uang kita berkurang dan tidak berharap apa-apa kecuali keridhoan dari Allah SWT. Sudahkah kita ikhlas yang seperti itu?

2. NIAT
ada beberapa hadits (kl ga salah ada dua deh) yang membahas mengenai masalah niat. Yang pertama membahas kalau kita ingin melakukan apa2 harus berlandaskan dengan niat dan yang kedua membahas apa2 yang kita dapatkan itu tergantung dari niatnya. Ribet? duh, maap.. lagi recalling sama memory yg tadi ^^;
Kurang lebih penjelasan dari pak ustadz seperti ini,
Kalau mau kita telaah lebih dalam, tidak ada perilaku manusia yang tidak dilandaskan dengan niat. Contoh gampang, semisal kita nge-net mau cek imel/ chatting/ posting blog (fufufufu) atau yg lainnya. Mana niatnya? yaitu: mau cek imel dan kawan2. Meski ga kita sadari, itulah awal niatan kita. Nah hubungannya dengan hadits yang kedua (apa2 yang kita dapatkan itu tergantung dari niatnya) itu, setelah kita nge-net dan kita udah cek imel atau yg lainnya. Thats it. Hanya itu saja yang kita dapatkan. Karna awal niat kita nge-net hanya ingin nge-cek imel atau yg lainnya.
Sama halnya dalam beramal. Saat kita ingin beramal tentunya ada niat yang sudah kita ucapkan dalam hati (dan ternyata, untuk berniat itu ga perlu diucapkan melalui lisan. Karna tempatnya niat itu adalah dalam hati bukan di lisan). Balik lagi ke contoh kasus yang ingin beramal ke pengamen. Seandainya kita beramal dengan niatan hanya ingin beramal, tentu setelah kita nyemplungin uang ke kantong dia. Sudah. Terpenuhilah niat kita. Tentunya sangat amat disayangkan kalau niatan kita hanya sebatas itu saja.
Kata pak ustadz, sayang kalau niat kita hanya terbatas pada dunia aja. Allah SWT telah berfirman, yang kalau tidak salah bunyi arti ayatnya seperti ini..(maaf ya ini bukan arti yang sebenarnya melainkan dari versiku),
Jika kita mengharapkan balasan yang segera (dunia) maka Allah-lah yang berkehendak dan jika mengharapkan balasan di akhirat, tentu Allah akan mengabulkannya.
Hmm... bingung kah?
Balik lagi ke contoh kasus ingin beramal ke pengamen. Misal niatan kita beramal agar kelak uang kita dilipatgandakan (apalagi dalam Ramadhan lalu, yang jika kita beramal maka Allah akan melipat gandakan beratus-ratus kali lipat). Semisal kita beramal Rp100 dan kita berharap Allah melipatgandakan uang itu menjadi Rp100.000 (dan uang ini kembali ke kita), maka yang berkehendak hanyalah Allah, bukan kita. Bisa jadi Allah memberikan kehendak-Nya dengan menggantikan uang Rp100 kita menjadi Rp100.000, bisa jadi tidak. Karna Allah yang berkehendak. Taapiiii.... jika kita beramal dengan niatan, 'semoga dengan uang seratus rupiah ini, aku bisa menyicil untuk membersihkan hartaku dan Allah ridho akan amalanku'. itu PASTI akan Allah kabulkan!!
Ah! aku tau contoh yang lebih gampangnya!!
Semisal ada seorang pria yang menikahi seorang gadis karena kecantikannya (geee...kenapa harus tentang pernikahaan >__< ), tentunya setelah mendapati gadis itu dan menikmati kecantikannya, yap.. thats it. its all yours. Tapi engkau hanya mendapatkan kecantikannya, ga ada yg lain! Tapi kalau ada pria yang menikahi seorang gadis karena Allah (baik itu karna ingin mengikuti sunnah Rasulullah SAW atau karna ingin mendapatkan berkah dari Allah dan yang lainnya), tentunya, apa yang dia niatkan itulah yang ia dapatkan! (hayo yang mau menikah, luruskan dulu niatmu.. hati2 tergelincir dengan niat sendiri.. rugi loh..)
Sebisa mungkin dan sedini mungkin kita mulai berniat bukan untuk dunia tetapi untuk bekal akhirat nanti.

3. BERSUNGGUH-SUNGGUH
Wah, penjelasan ini aku kelewat bablas teman! soale aku nyambi baca buku (pake acara batuk2 pula) alhasil ga begitu mendengarkan penjelasan dari sang ustadz! (maafkan aku ya pak..). Mungkin dari artinya 'bersungguh-sungguh', teman2 sudah paham akan maksudnya (insya Allah).

4. MENYEGERAKANNYA
ingat sama lagunya BIMBO? 'beramal baik.. janganlah ditunda-tunda...' (ternyata ada artinya loh lirik lagu ini!). Yap, betul banget! kalau kita ingin beramal, maka kita harus menyegerakannya. Denger adzan, ada niatan hati ingin shalat, saat itulah kita harus menyegerakannya. Liat ada pengemis, ada niatan hati ingin bersedekah, saat itu juga kita melakukannya (aku jadi teringat akan sebuah hadits yang mengatakan bahwa Fathimah Az-Zahra, putri Rasulullah SAW, tak pernah menyimpan harta sepeserpun dalam tangannya karna saat ia memiliki harta, saat itu juga ia langsung bersedekah). Begitu pula dengan amalan-amalan lainnya.

Yak, segitu aja penjabaran kajian yang tadi Na dengar dari radio. Tentunya banyak kekurangan dan kesalahan dimana-mana (terlebih lagi daritadi aku menyinggung masalah pernikahan, maklum.. hari ini dapat kabar gembira bahwa ada salah seorang temanku yang akan melangsungkan akad nikahnya dalam waktu dekat..hyaaa....). Mohon maklum dan maaf ya teman.

Sesungguhnya kesalahan itu pasti datangnya dari diriku sendiri dan kebenaran datangnya hanya dari Allah SWT. Semoga ada hikmah yang dapat diambil dan dilaksanakan dengan hanya mengharapkan ridho dari Allah SWT.

Wallahu a'lam bisshawab

Jika Sahabat Menyukai Artikel ini, Silahkan Bagikan ke Teman Anda!



Comments (2)

Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

Assalamu'alaykum wr wb

Mau menambahkan sedikit, boleh ya :)

2.NIAT
"Semisal kita beramal Rp100 dan kita berharap Allah melipatgandakan uang itu menjadi Rp100.000 (dan uang ini kembali ke kita), maka yang berkehendak hanyalah Allah, bukan kita. Bisa jadi Allah memberikan kehendak-Nya dengan menggantikan uang Rp100 kita menjadi Rp100.000, bisa jadi tidak. Karna Allah yang berkehendak. Taapiiii.... jika kita beramal dengan niatan, 'semoga dengan uang seratus rupiah ini, aku bisa menyicil untuk membersihkan hartaku dan Allah ridho akan amalanku'. itu PASTI akan Allah kabulkan!!"

Saya jadi teringat dalam sebuah hadits dikatakan nanti di akhirat orang-orang yang menikmati hasil amalannya karena berbuat baik didunia akan menyesal, "kenapa dulu saya meminta agar Allah segera membalas amalan saya di dunia.Padahal balasan yang Allah tunda dan berikan di akhirat jauh lebih baik dari pada balasan saya dulu di dunia."
Maksudnya adalah saat kita berharap Rp.100 hasil sedekah kita dilipatkandakan menjadi Rp.100.000 maka inilah yang dimaksud agar Allah menyegerakan membalas amalan kita ini di dunia. Nah ini yang kemudian banyak disesali oleh kebanyakan manusia nanti, karena setelah tau ternyata balasan Allah di akhirat jauuuh lebih baik dari pada balasan di dunia. So.pilih mana? dibalas di dunia atau di balas diakhirat? :D

3. BERSUNGGUH-SUNGGUH
Tentu yang lain sudah paham dengan arti "Bersungguh-sungguh".Tapi ada yang paling sering tidak kita sadari saat beramal. Yaitu perasaan riya (ingin dipuji).Ini adalah hal yang paling berbahaya.
Saat beramal, kadang-kadang kita merasa ingin dipuji orang lain (walau gak secara langsung), atau ingin orang lain melihat kita sedang bersedekah, atau menceritakan pada orang lain bahwa waktu itu kita pernah bersedekah/beramal.Atau bahkan didalam hati berharap ada yang memperhatikan kita sedang beramal dan berpikir ,"wah orang itu baik ya",dsb
Oiya untuk muda-mudi jaman sekarang (cieeh bahasanya), biasanya nih..dia jadi baeek banget kalo didepan laki2/wanita pujaannya.Gampang membantu sesama, gampang beramal, bertutur kata sopan.Nah perasaan ingin dilihat dan dipuji (walo gak secara langsung)inilah yang disebut riya.Sangat berbahaya saudara-saudara sekalian.

Dalam sebuah hadits qudsi dikatakan ada 3 golongan orang yang akan diseret ke dalam neraka, salah satunya adalah orang yang beramal tapi mengahrapkan pujian. So scary huh? Padahal beramal itu kan perbuatan terpuji. Tapi disebabkan bukan karena Allah, maka berakhir tragis.Ini ada kaitannya dgn poit kedua (NIAT).

Jujur saja, saya masih sulit menghilangkan kebiasaan ingin dilihat dan dipuji ini, tapi karena sekarang sudah tahu bahayanya. Sebaik2nya cara adalah terus beistighfar (mohon ampun pada Allah) jika pikiran-pikiran itu datang.

4.MENYEGERAKANNYA
Saya pernah mendengar nasehat dari seorang bapak.Beliau menjelaskan, "jika pada pagi hari kita melihat pengemis atau seorang yang membutuhkan, kita berniat untuk memberikan.Tapi dalam hati kita berpikir 'wah ini kan pengemis yang tiap hari saya lalui, nanti sore sajalah ngasihnya, toh saya pasti lewat sini lagi' atau 'saya ingin bersedekah ke suatu yayasan atau seseorang sebesar sekian (misal 100.000), tapi uang saya baru ada sedikit (anggaplah 1000).Rencananya sih habis gajian deh saya sedekahkan'.
2 Kisah ini paling sering kita hadapi (mudah2an yang lain tidak), Nah inilah kasus menunda-nunda dalam beramal.Pertanyaannya adalah: Bagaimana jika seandainya pengemis itu waktu sore sudah tidak ketemu lagi?Bagaimana jika sore waktu melewati pengemis itu ternyata uang kita sudah habis terpakai? Bagaimana jika uang kita tak lekas menjadi 100rb? Bagaimana jika kita lantas menjadi malas (karena Allah Maha Membolak-balikkan hati manusia, dan setan senang sekali membujuk kita), dan yang paling mentok: Bagaimana kalau kita keburu mati sebelum merealisasikan semuanya? Bandingkan jika kita kita sudah beramal walau cuma uang Rp.100 atau Rp.1000 saat itu juga! Tentu nilainya jauh berbeda.

Uwaaa...kok jadi panjang ya T_T maaf kalau jadi bosan membacanya (ini pasti bukan 'komentar')

Hey..ngomong-ngomong baru kali ini aku kasih 'komen' yang berguna ^^;

~kaka_natsu~