Label: , ,

" Pokoknya Hana ngga mau sama tante Ina..!!!!! "

Biasanya kalimat ini adalah kalimat terakhir yg diucapkan Hana saat kami berdua sedang bermain dan berakhir dengan 'tragis'. Ntah apa yang ada dipikiran anak seusia Hana, jika sedang bermain dengan orang dewasa (yg masih kekanak-kanakan), lalu merasa bosan dan akhirnya permainan berakhir dengan begitu saja. Bahkan bukan begitu saja, melainkan sampai si anak menangis meraung-raung tanpa alasan yang jelas, mengambek, membanting ini-itu, lari sana-sini.. lalu.. diam seribu bahasa (Uff... paling ngga enak kl dah diginiin.. beneran.. rasanya jadi pengen ikutan nangis karna ngga tau kesalahan apa yg sudah diperbuat T___T)

Kukira, setiap Na bermain dengan Hana, akan selalu berakhir dengan kondisi tragis seperti diatas. Tapi.. Alhamdulillah, tadi tidak terjadi!!!!!!!!!!!! (huaaaaaaaaa... senang banget rasanyaaaa ^^~)

Sudah dua hari ini, Na bertugas menjaga Hana di pagi sampai siang hari. Dulu, setiap Hana mengajak main selalu kujawab dan setiap Hana nakal selalu Na omelin. Tadi, Na mencoba mengubah sikap Na saat berhadapan dengannya. Hana memaksaku untuk bermain bersamanya saat Na masih banjir main air (baca: cuci piring), dengan pelan kujawab 'nanti ya Na, tante masih cuci piring..'. Namanya juga anak kecil, jawaban begitu tak membuatnya puas. Berkali-kali ia datang mengunjungiku dan bertanya, 'Tantee..kapan selesainya?? udah doong..'. Jawabanku tetap pada jawaban pertama bahwa aku masih sibuk mencuci piring, dan akhirnya, terjadi percakapan ini..

Hana: " tante, ko nyuci piring sih.. kenapa?"
Ina: " kan piringnya kotor Na, kl dibiarin terus nanti piring kotornya numpuk, nti Hana ngga bisa makan pake piring bersih.., sudah ya Na, Hana jangan deket2 tante, nti basah, Hana kan masih pilek.. "
Hana: " emang kenapa kl Hana pilek?"
Ina: " Ya nanti Hana ngga sembuh2 dong, jadi ngga bisa ikut mamah-papah pergi.."
Hana: " terus..???"
Ina: " Ga bisa diajak sama Atuk (Ayahku) pergi jalan2.."
Hana: " terus...???"
Ina: " Hmm.. ngga bisa ikut pergi kerumah Uyut (Nenekku) "
Hana: " ooh.. jadi kl Hana sakit terus, Hana ngga bisa kemana2 ya ? "
Ina: " Iya Na, makanya, Hana harus banyak makan, minum obatnya, trus banyak istirahat yaa"
Hana: " iya deh.. Hana nunggu didepan tipi, tp nti kl udah nyuci piringnya, kita main ikan ya tante.."
Ina: " Iyaa, Insya Allah.. "

Setelah itu, Hana pun pergi ke ruang keluarga untuk menonton TV dan Alhamdulillah, aku pun menepati janjiku. Selagi bermain dengan Hana, aku baru 'ngeh', Eh.. tumben.. ko tadi Na ngga ngamuk ya ditanya2 ma Hana, biasanya kl si Hana dah tanya ini-itu, Na jawabnya dengan mulut bermanyun2 ria..
Lalu aku berpikir lagi, apa cara bicaraku selama ini kurang tepat sama Hana? sehingga tiap kami bermain selalu berakhir dengan 'tragis' ?? Apakah selama ini Na ngga pandai menahan amarah Na??

Jadi teringat akan salah satu hadits yang berbunyi, " Laa targhab.. Laa targhab.. Laa targhab " (baca: jangan marah.. jangan marah.. jangan marah). Rasulullah SAW juga bersabda, "Bukanlah seorang mukmin yang suka mencela, pengutuk, kata-katanya keji dan kotor." (HR. Turmudzi).
Dan banyak hadits lainnya yang membahas mengenai hal yg sama..

Jadi malu.. dengan anak kecil saja sudah tak mampu menahan amarah.. apalagi dengan orang dewasa? (atau perumpamaanku yg terbalik?)

Subhanallah, tak ada habisnya otak ini berpikir bahwa betapa mudahnya kita terpancing dengan godaan syetan agar berperilaku mudah marah. Padahal jika kita mengetahui betapa indahnya menahan amarah itu, mungkin takkan ada lagi orang yg dicap sebagai 'pemarah' (dan tentunya tak ada lagi kejadian tragis diantara Na dan Hana..).

Masya Allah.. tentunya hal ini sudah diperhitungkan oleh Allah SWT Yang Maha Berkehendak. Dengan adanya kejadian seperti ini, maka aku (dan berharap teman2 yang membaca) bisa belajar untuk memperbaiki sikap. Insya Allah

Sedikit ingin menambahkan, ada sebuah hadits yg mengatakan,
"Siapa yang menahan marah, padahal ia dapat memuaskannya (melampiaskannya), maka kelak pada hari kiamat, Allah akan memanggilnya di depan sekalian makhluk. Kemudian, disuruhnya memilih bidadari sekehendaknya." (HR. Abu Dawud - At-Tirmidzi)

Bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia, dimana diantara kemuliaan bulan ini Allah telah membelenggu semua syetan sehingga mereka tidak bebas menggoda sebagaimana mereka bebas menggoda seperti pada bulan lainnya.

Marilah teman2, yuk kita sama2 belajar menahan hawa nafsu (amarah) kita. Lagipula kl marah itu makan banyak tenaga loh. Muka jadi belipet2.. mulut jadi manyun.. kening mengernyit.. menggerutu.. sudah gitu ngga ada gunanya juga ^^;;

Jadi mulai sekarang.. perbanyak senyuman dan hati yg lapang yaaa (^_________^) v

Mohon maaf jika terdapat tulisan yang salah, karna kesalahan berasal dari Na dan kebenaran semata-mata hanya milik Allah SWT. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Insya Allah

PS: HANAAAAAAAAAAAAAA... I LOVE YOU COZ ALLAH!!!!

Jika Sahabat Menyukai Artikel ini, Silahkan Bagikan ke Teman Anda!



Comments (0)