Label: , , , ,

" Alhamdulillah.. Oh thank you Allah..
Ummi dirumah.. Alhamdulillah.. Abi bekerja.. Alhamdulillah..
thank you Allah for Your blessing's on me.. "



Ada yang pernah 'notice' sama lirik lagu di atas? ini lagu jadul banget sih, masih jamannya pake kaset. Sekilas lagu ini lagu yang biasa yang dinyanyiin sama anak2, tapi setelah 'asik' merenungi makna dibaliknya..


Waw.. mejikuhibiniu!!


Berawal dari seorang sahabat berkisah padaku. Dia menceritakan bahwa ada seorang saudarinya yang mengatakan, " Saya bersyukur dikasih wajah secantik ini.. dan tanda syukurnya ya dengan bermake-up dong " (atau mungkin maksudnya, sudah dikasih wajah cantik masa ga diperlihatkan kecantikannya?)


" Bukannya kalau kecantikan wanita itu hanya diperlihatkan untuk mahramnya doang ya, Na? ", Tanya sahabatku itu

" He eh.. Yah, mungkin Mba' itu belum paham.. dan bisa jadi, menurut dia.. itulah cara bersyukur yang benar.. ", Jawabku

" Hoo.. ya.. bisa jadi sih... "

Setelah ucapanku terlontar, aku merasa agak kaget. Waw, diriku hebat sekali! padahal diri sendiri juga masih ga bener dan belum begitu paham arti bersyukur itu apa dan bagaimana caranya yang benar kalau kita ingin bersyukur.. (lah trus kok omongan tadi bisa 'syuur' keluar begitu aja ya..??? heung.. aneh...)


Karena masih timbul tanda tanya besar dalam otakku, kebetulan ada seorang sahabat yg senantiasa bersabar sama sikapku yang lumayan menjengkelkan ini, dimana aku bertanya padanya perihal 'bersyukur'


Kira2 begini obrolan kami,


" Sebenarnya, cara bersyukur yang diinginkan Allah itu yg kaya gimana sih? "

" Imam Ghazali, pernah memberikan penjelasan tentang ini. Ada tiga syarat bagaimana mensyukuri nikmat Allah.. "

" Yang pertama, kita tahu siapa yang memberikan nikmat. Karena banyak orang yang tau dia mendapatkan nikmat tapi ga tau siapa yang memberikan nikmat itu atau malah merasa nikmat yang dia dapatkan diberi oleh siapa yang ada dihadapannya misalnya boss dia, ibunya, ayahnya, kawannya, pekerjaannya, kekayaannya.. dsb "

" Yang kedua, memuji yang telah memberikan nikmat. Sama seperti yang pertama, kita sudah tau siapa yang memberikan nikmat tapi kadang ga mau memujinya atau berterima kasih kepadanya.. "

" Yang ketiga, menggunakan nikmat itu untuk apa yang disukai oleh si pemberi nikmat... "

" Ini yang masih sering kita lalaikan. Kadang kita hanya melakukan tahap pertama dan kedua saja tetapi yang ketiga ngga.. "

" Dalam hal ini adalah Allah. Kita tau yang memberikan nikmat adalah Allah. Lalu mengucapkan hamdalah sebagai bentuk pujian kepada Allah. Lalu menggunakan nikmat yang diberikan Allah untuk hal2 yang disukai Allah.. "

" Ada banyak cara bagaimana menggunakan nikmat ini yang tercantum dalam Al-Qur'an dan Hadits. Yang dilarangnya tentu menggunakan nikmat itu untuk hal2 maksiat dan kesia-siaan.. "

" Jika dihubungkan dengan usaha dakwah. Tentu nikmat yang didapat, digunakan untuk jalan Allah.. "

" Pada prinsipnya, nikmat yang kita dapat akan habis. Hanya saja yang akan dipertanyakan adalah bagaimana kita menghabiskan nikmat itu? apakah dipakai dijalan Allah atau bukan... "


" waah... tiga hal yang luar biasa tapi sering kita lupain ya... " pikirku


Secara ngga disadari, tiap kita terima sesuatu (semisal, duit), biasanya ke-ucap " Alhamdulillah...", lalu abis itu dibarengi, " ... makasih Pak/Bu/siapapun itu yang memberikan kita duit ".

Setelah ituu, ini lah yang patut dipertanyakan pada diri masing2.. " duitnya dipake buat apa?? "


[ secara tiba2 saya teringat dengan uang saku yang belum lama kemarin dikasih sama Papah.. u.. uangnya dipake buat apa ya... aargh.. lupaa T___T ]


Na sendiri suka masih bingung, maksud dari 'dijalan Allah' itu yang seperti apa. Walau kadang contohnya kita juga dah tau, seperti: beramal (contoh beramal pun juga ada buanyak kan..). Tapi ga jarang kita suka mengira2 apa yang kita lakukan itu adalah hal yang baik,

Mungkin contohnya seperti kasus yang diatas. Ingin menggunakan nikmat kecantikan yang diberikan oleh Allah dengan baik, tetapi dengan cara mempertontonkan kecantikan itu. Padahal Allah sudah memberikan rambu2 untuk kita (wanita), bahwa kecantikan yang dimiliki itu hanya boleh dipertontonkan oleh mahramnya

Lalu, atas dasar 'perkiraan' inilah akhirnya kita menganggap bahwa dengan berdandan/bermake-up untuk dilihat cantik oleh orang lain, diperbolehkan oleh Allah..

Sayang ya, padahal maksud kita baik (ingin menggunakan nikmat yang didapat dengan sebaik-baiknya) tapi cara kita ga baik..


Nah, ini juga yang sering membuat kepalaku pusing. Kadang suka takut bertindak. Takut apa yang Na lakukan itu ga seperti yg Allah inginkan.. ga seperti apa yang Rasulullah Saw ajarkan..
apalagi kalau diingatkan bahwa nanti Allah akan meminta seluruh pertanggung jawaban atas tiap tindakan2 yang pernah kita lakukan selama hidup di dunia..


Ya Allah, istiqamahkanlah kami agar tetap melaksanakan apa yang Kau perintahkan dan menjauhi apa yang Kau larang...


Haa.. postingan yang lumayan acakadut (maaf ya..) tapi semoga teman2 dapat memahami maksud saya..



Jadi,

sudahkah kita melakukan hal2 yang disukai Allah?

Jika Sahabat Menyukai Artikel ini, Silahkan Bagikan ke Teman Anda!



Comments (0)