Label: , , , , , , , , , ,


 
Al-Ahnaf bin Qais adalah termasuk dari golongan ulama-ulama yang terkenal di zaman hidupnya. Pada suatu hari datang seorang  pemuda dari suku Tai'yi berkunjung ke rumahnya. Rumah Al-Ahnaf memang senantiasa dikunjungi oleh orang ramai, terutama oleh  anak-anak murid dan sahabat-sahabatnya. Mereka sekalian menziarahinya dengan tujuan untuk menuntut ilmu darinya.

Kedatangan pemuda dari suku Tai'yi itu sangat menarik perhatiannya. Ahnaf mendapati pemuda itu sangat tampan. Lalu ia pun bertanya : "Wahai orang muda, adakah engkau menghiasi wajahmu dengan sesuatu ?." 

"Benar tuan, sungguh saya menghiasi wajah saya dengan sesuatu," ujarnya dengan sopan serta ringkas. Pemuda itu  menyambung lagi : "Kalau saya bercakap saya tidak bohong. Kalau ada orang sedang bercakap saya dengar. Kalau saya berjanji saya  tepati dan jika saya diberikan sesuatu amanah saya tidak khianat." 

Mendengar jawapan yang cukup bijak itu, maka berkatalah Ahnaf: "Benar seperti katamu wahai orang muda, sungguh engkau telah  menghiasi dirimu dengan akhlak yang mulia." 

Hikmah :
  • Kalau melihat ciptaan Allah yang ada pada diri kita, sungguh tidak ada cela sedikitpun dari ujung rambut sampai ujung kaki semua di tata dengan sangat rapi. Sehingga penciptaan manusia adalah suatu penciptaan yang sangat sempurna. 
  • Allah berfirman, “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat, sesuatu yang tidak serasi ? Kemudian pandang lagi berulang kali niscaya penglihatanmu akan menjadi lemah dan lesu (tanpa menemukan sesuatu cacatpun)”. (Al-Mulk : 3-4).
  • Tentunya ciptaan Allah Swt yang tidak memiliki cacat sedikitpun dalam artian tepat fungsinya harus seimbang, dikarenakan keseimbangan itulah maka tidak terjadi kerusakan dan kebinasaan. Oleh karenanya, manusia yang telah diciptakan Allah dengan sebaik-baik bentuk (kejadian) harus berusaha agar kecantikan (ketampanan) dirinya itu disertai dengan kecantikan akhlak.
  • Ada ungkapan bahwa kecantikan (ketampanan) wajah manusia tidak akan ada artinya jikalau tidak disertai dengan kecantikan akhlak. Dalam puisi Arab disebutkan : "Keelokan wajah pada orang yang berhati jahat, bagaikan kandil (lampu yang indah dan berharga mahal) yang dinyalakan di atas kubur orang Majusi)”. Misi Rasulullah Saw diutus ke muka bumi inipun adalah dalam rangka untuk memperbaiki akhlak manusia yang saat itu sangat rusak jauh dari tuntunan Islam yang sempurna.
  • Do’a  yang selalu diucapkan pada saat kita bercermin yakni "Segala puji bagi Allah, Ya Allah, sebagaimana telah membaguskan-Mu atas kejadianku, maka baguskanlah budi pekerti ku". Membacado’a ini setiap kali bercermin adalah sangat baik dengan harapan semoga wajah yang telah disempurnakan Allah ini tetap terjaga dari kerusakan serta yang paling penting adalah setiap kali bercermin akhlak kita terus bertambah baik.

Jika Sahabat Menyukai Artikel ini, Silahkan Bagikan ke Teman Anda!



Comments (2)

Assalamu'alaikum kakak... artikel yang cukup baik untuk dijadikan sebuah renungan, betapa maha suci Allah dan tiada satu kekurangan apapun atas DzatNya... salam kenal mbak, sekali-sekali mampir ke coretan usang saya yang baru belajar di http://kidungjagad.blogspot.com dan tolong kritik saya untuk perbaikan dan perkembangan... Ilmu hanyalah milikNya, dan kita hanya pemegang amanah... salam kenal dari saya...

salam kenal mbak... artikelnya bagus..