Label: , , ,


Dari Ummul Mu’minin; Ummu Abdillah; Aisyah radhiallahuanha dia berkata : Rasulullah SAW bersabda : Siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya ), maka dia tertolak. (Riwayat Bukhori dan Muslim), 
dalam riwayat Muslim disebutkan: siapa yang melakukan suatu perbuatan (ibadah) yang bukan urusan (agama) kami, maka dia tertolak).

Pelajaran Hadits
  1. Setiap perbuatan ibadah yang tidak bersandar pada dalil syar’i ditolak dari pelakunya. 
  2. Larangan dari perbuatan bid’ah yang buruk berdasarkan syari’at.
  3. Islam adalah agama yang berdasarkan ittiba’ (mengikuti berdasarkan dalil) bukan ibtida’ (mengada-adakan sesuatu tanpa dalil) dan Rasulullah SAW telah berusaha menjaganya dari sikap yang berlebih-lebihan dan mengada-ada.
  4. Agama Islam adalah agama yang sempurna tidak ada kurangnya.
Baca Selengkapnya "Menolak Kemungkaran dan Bid'ah"

Label: , , , , , , , ,


عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ   ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ      أَوْ سَعِيْدٌ.    فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ  الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا .  

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata : Rasulullah SAW menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan : Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada ilah selain-Nya, sesungguhnya diantara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli syurga hingga jarak antara dirinya dan syurga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. sesungguhnya diantara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli syurga maka masuklah dia ke dalam syurga. (Riwayat Bukhori dan Muslim). 

Pelajaran  hadits : 
  • Allah ta’ala mengetahui tentang keadaan makhluknya sebelum mereka diciptakan dan apa yang akan mereka alami, termasuk masalah kebahagiaan dan kecelakaan. 
  • Tidak mungkin bagi manusia di dunia ini untuk memutuskan bahwa dirinya masuk syurga atau neraka, akan tetapi amal perbutan merupakan sebab untuk memasuki keduanya.
  • Amal perbuatan dinilai di akhirnya. Maka hendaklah manusia tidak terpedaya dengan kondisinya saat ini, justru harus selalu mohon kepada Allah agar diberi keteguhan dan akhir yang baik (husnul khotimah).
  • Tenang dalam masalah rizki dan qanaah (menerima) dengan mengambil sebab-sebab serta tidak terlalu mengejar-ngejarnya dan mencurahkan hatinya karenanya.
  • Kehidupan ada di tangan Allah. Seseorang tidak akan mati kecuali dia telah menyempurnakan umurnya.
  • Sebagian ulama dan orang bijak berkata bahwa dijadikannya pertumbuhan janin manusia dalam kandungan secara berangsur-angsur adalah sebagai rasa belas kasih terhadap ibu. Karena sesungguhnya Allah mampu menciptakannya sekaligus.
Baca Selengkapnya "Tahapan Penciptaan Manusia"

Label: , , , , , , , , , ,


 
Al-Ahnaf bin Qais adalah termasuk dari golongan ulama-ulama yang terkenal di zaman hidupnya. Pada suatu hari datang seorang  pemuda dari suku Tai'yi berkunjung ke rumahnya. Rumah Al-Ahnaf memang senantiasa dikunjungi oleh orang ramai, terutama oleh  anak-anak murid dan sahabat-sahabatnya. Mereka sekalian menziarahinya dengan tujuan untuk menuntut ilmu darinya.

Kedatangan pemuda dari suku Tai'yi itu sangat menarik perhatiannya. Ahnaf mendapati pemuda itu sangat tampan. Lalu ia pun bertanya : "Wahai orang muda, adakah engkau menghiasi wajahmu dengan sesuatu ?." 

"Benar tuan, sungguh saya menghiasi wajah saya dengan sesuatu," ujarnya dengan sopan serta ringkas. Pemuda itu  menyambung lagi : "Kalau saya bercakap saya tidak bohong. Kalau ada orang sedang bercakap saya dengar. Kalau saya berjanji saya  tepati dan jika saya diberikan sesuatu amanah saya tidak khianat." 

Mendengar jawapan yang cukup bijak itu, maka berkatalah Ahnaf: "Benar seperti katamu wahai orang muda, sungguh engkau telah  menghiasi dirimu dengan akhlak yang mulia." 

Hikmah :
  • Kalau melihat ciptaan Allah yang ada pada diri kita, sungguh tidak ada cela sedikitpun dari ujung rambut sampai ujung kaki semua di tata dengan sangat rapi. Sehingga penciptaan manusia adalah suatu penciptaan yang sangat sempurna. 
  • Allah berfirman, “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat, sesuatu yang tidak serasi ? Kemudian pandang lagi berulang kali niscaya penglihatanmu akan menjadi lemah dan lesu (tanpa menemukan sesuatu cacatpun)”. (Al-Mulk : 3-4).
  • Tentunya ciptaan Allah Swt yang tidak memiliki cacat sedikitpun dalam artian tepat fungsinya harus seimbang, dikarenakan keseimbangan itulah maka tidak terjadi kerusakan dan kebinasaan. Oleh karenanya, manusia yang telah diciptakan Allah dengan sebaik-baik bentuk (kejadian) harus berusaha agar kecantikan (ketampanan) dirinya itu disertai dengan kecantikan akhlak.
  • Ada ungkapan bahwa kecantikan (ketampanan) wajah manusia tidak akan ada artinya jikalau tidak disertai dengan kecantikan akhlak. Dalam puisi Arab disebutkan : "Keelokan wajah pada orang yang berhati jahat, bagaikan kandil (lampu yang indah dan berharga mahal) yang dinyalakan di atas kubur orang Majusi)”. Misi Rasulullah Saw diutus ke muka bumi inipun adalah dalam rangka untuk memperbaiki akhlak manusia yang saat itu sangat rusak jauh dari tuntunan Islam yang sempurna.
  • Do’a  yang selalu diucapkan pada saat kita bercermin yakni "Segala puji bagi Allah, Ya Allah, sebagaimana telah membaguskan-Mu atas kejadianku, maka baguskanlah budi pekerti ku". Membacado’a ini setiap kali bercermin adalah sangat baik dengan harapan semoga wajah yang telah disempurnakan Allah ini tetap terjaga dari kerusakan serta yang paling penting adalah setiap kali bercermin akhlak kita terus bertambah baik.
Baca Selengkapnya "Yang Mencantikkan Wajah"