Label: , , ,

saat orang-orang menatapku dengan penuh keheranan
hanya mereka yang menatapku tanpa ada kehinaan
bahkan mereka lebih menyenangi pakaian yang kukenakan


Alhamdulillah..


*********************************************************************



" Kak ina, hari Sabtu kemarin, Kakak pergi naik motor ya? "

" Hmm? kamu lihat Kakak dimana? apakah itu pagi-pagi? "

" Iya Kak, aku lihat Kakak di jalan situ, pagi-pagi naik motor "

" Memang Kakak lagi pakai baju warna apa? "

" Warna hitam kan? trus Kakak pakai ini.. " ( sambil menutup sebagian wajah dengan tangannya)

" Hehe.. iya sayang, itu Kakak "



Baru kali ini Na 'ketauan' kalau pakai kain penutup wajah (cadar) sama seorang anak madrasah. Agak lucu juga, kok dia bisa tau itu Na yah? kan wajahku nggak keliatan :D

Mungkin memang benar bahwa hatinya anak-anak itu penuh dengan kepolosan dan belum terbumbui dengan jahatnya suudzon serta penyakit hati lainnya. Na merasakan kepolosan mereka setiap mereka melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Na harus tersenyum simpul sambil terpana dengan keluguan mereka,

" Kak ina.. kenapa Kak ina pakai jilbabnya yang panjang begini? "

" Kak inaaa.. jilbabnya panjang bangeeet.. apa nanti aku juga harus pakai jilbab sepanjang itu?? "

" Kak ina, Ibuku belum pakai jilbab sepanjang Kak ina.. tapi aku lebih suka jilbab yang kak ina pakai.. habis jadi cantik sih keliatannya "



( waw, yang terakhir itu benar2 membuatku malu banget! sudah gitu yang menyatakan 'cinta' nya adalah seorang anak sholeh lagi... hyaa... malunyaaaaa~ )



Kalau ingin mengenangnya, adalah sebuah perjuangan dan sampai saat ini pun perjuangan itu harus tetap diperjuangkan agar senantiasa bisa istiqomah..


Keberadaan pakaian gamis dan jilbab panjang yang hampir selutut ini masih terbilang 'unik' di lingkungan sekitar kehidupan Na. Terlebih lagi jika memakai yang hitam-hitam plus cadar, sudah tentu jadi sorotan masyarakat yang hidupnya masih jauh dari agama...


Namun lucunya, ke-unik-an ini tidak dirasakan oleh anak-anak yang hidup disekitar Na. Justru mereka tidak merasakan hal yang aneh dengan betapa besar dan lebarnya jilbab ini hingga bisa masuk untuk main petak umpet di dalamnya. Mereka (baca: anak-anak) malah bertanya-tanya,


" Mengapa hanya Kak ina yang seperti ini? kenapa yang lain tidak seperti Kak ina? "



Na sadar sekali, ketika diri ini terjun ke dalam lingkungan masyarakat seperti menjadi pekerja atau ikut aktif PKK dan sebagainya, mau tidak mau kita harus mengkondisikan diri ini sesuai dengan lingkungan sekitar. Contoh misalnya, seandainya ada seorang akhwat yang sudah istiqomah mengenakan gamis dan jilbab lebar dan direkrut menjadi seorang guru yang memiliki persyaratan bahwa pakaian guru HARUS mengenakan jas dan rok/celana. Apakah menurut teman-teman si akhwat ini bisa tetap mengenakan pakaian istiqomahnya? tentu tidak bukan?

Itulah yang sedang terjadi dalam kemelut hidup saya saat ini (ciyeeeh..bahasanyee~)

Tawaran untuk menjadi guru TK adalah tawaran yang sangat 'aduhai' dan memang saya nanti-nantikan.. bagaimana tidak? dari semenjak lepas kuliah sampai saat ini, Allah SWT senantiasa mempertemukan Na dengan anak-anak! Dari mencoba menjadi terapis anak-anak penyandangg autisme sampai akhirnya 'mentok' jadi guru iqro di musholla kampung. Belum lagi, keinginan Na untuk dakwah kepada anak-anak kecil lumayan agak kenceng. Melihat otak mereka yang seperti spons (menyerap semua apa yang diterima tanpa memilah-milah mana baik dan mana buruk), rasanya untuk berdakwah kepada anak-anak adalah hal yang sangat baik. Belum lagi saat mengetahui bahwa Rasulullah SAW amat menyukai anak-anak... wuih... makin 'menggila' rasanya dengan anak-anak (tapi bukan penyakit ya :D )

Tapi sungguh disayangkan, keinginan Na ini harus mengalami ujian dulu. Tawaran yang menggiurkan itu dibarengi dengan syarat yang menohok hati dan membuat jidat ini mengkerut..


" harus pake celana?????????????????!!!!!!!!!!! "



Bagi Na, ini sama seperti seseorang meminta Na untuk melepas jilbab dihadapan umum... sudah susah payah Na hijrah tapi dengan mudahnya Allah SWT membolak balikkan hati hamba-Nya..


" Nih.. tak kasih ujian ini.. opo kamu tetep istiqomah... "


Mungkin begitu maksud Allah SWT kepada Na...



Tentunya, yang Na yakini.. nggak hanya Na sendiri yang mengalami kejadian ini. Masih teringat dengan jelas kisah seorang akhwat di luar negeri yang diminta oleh pihak sekolahnya untuk melepas jilbabnya semasa belajar di sekolah namun akhwat itu dengan lantangnya menjawab,

" Satu-satunya cara Ibu/Bapak ingin melepas jilbab ini dari saya hanyalah dengan memenggal kepala saya! "


Subhanallah..!!!


Bagaimana dengan para sahabat radhiallahu'anhum ? wah.. jangan ditanya.. mereka milih mati masuk syurga daripada hidup tetapi dengan murka Allah SWT dan Rasul-Nya


Lalu bagaimana dengan kehidupan yang sudah jauh sunnah seperti saat ini ? dimana sistem masyarakat sudah jauh sekali dari agama dan lebih mengenal budaya sebagai pedoman hidupnya ? apakah kita harus beradaptasi dengan budaya itu demi menciptakan keharmonisan?

Na pun masih belum menemukan jawabannya.. hanya bisa berdoa agar tetap diistiqomahkan dalam keadaan seperti ini (malah ingin lebih mujahadah lagi)





Na sudah jalan sejauh ini.. dan tak mau kembali lagi...








Jadi,

apa yang akan kau lakukan, wahai itik.. ?


Jika Sahabat Menyukai Artikel ini, Silahkan Bagikan ke Teman Anda!



Comment (1)

smoga anak mama ini lebih tabah ya... sesungguhnya ujian itu asam garam dlm perjuangan...Allah tidak akan membiarkan hamba2Nya yg taat...