Label: ,

" Asshalaatu khoirum minnan nauuum.. ~ "




Tuan.. bangun tuan.. aku sudah mendengar suara adzan subuh berkumandang. Tuan.. tuan..

" Aaaah.. brisik..!! "

Hey, Tangan! kenapa kau tutup aku dengan bantal?? nanti Tuan semakin tidak mendengar suara adzan loh!

Bukan mau ku, Telinga! aku bergerak karena Otak yang memerintahkan aku! tanya saja dia kalau tidak percaya!

Hey, Otak! kenapa kau menyuruh Tangan untuk mengambil bantal dan menutupiku?? Tuan jadi tidak bisa dengar adzan. Nanti kalau Tuan tidak mendengar, Tuan jadi tak bisa shalat.. dan Allah akan murka pada Tuan!

Bukan mau ku, Telinga! aku bergerak karena keinginan si Hati. Kau berbicara saja pada Hati, mungkin dia mau mendengarmu

Wahai Hati yang baik. Mengapa kau meminta agar Otak mengendalikan Tangan untuk menutupiku dengan bantal? tidakkah engkau sedih jika Tuan dimurkai Allah?

" Aaah.. brisik!!!!! jangan ganggu aku!!! "

Ya Allah, maafkan Tuan kami. Hari ini kami sebagai anggota tubuhnya tak mampu menggerakkan tubuh Tuan..



Ntah ini hari yang keberapa si Kaki menangis karena tak bisa bergerak segera menuju masjid untuk melaksanakan shalat subuh. Ia sudah lelah meminta kepada Hati agar menyuruh Otak untuk menggerakkan dia. Tapi hati tak mau..

Dan sekarang giliranku yang meronta-ronta bertanya pada Hati, mengapa ia tega meminta Otak untuk menutupiku dengan bantal..

Otak pun sama lelahnya karena menerima semua ocehan kami.. sampai suatu hari Otak berkata,


" Sepertinya.. Hati Tuan mulai menghitam... "




Aku jadi teringat dengan keluh kesahnya Tangan padaku.

Belakangan ini Tuan tak ingin lagi menggerakkan tangannya untuk hal yang baik. Dulu Tuan amat mudah menggerakkan si Tangan untuk bersedekah, menjabat tangan teman yang lain, membantu Ibu membersihkan rumah.. tapi itu dulu... dulu sekali..

Saat Tuan mulai menghentikan kebiasaannya itu, Tangan berucap padaku..

" Sepertinya.. Hati Tuan mulai menghitam... "

Tak hanya si Tangan yang berkata seperti itu. Pertama kali yang menyadari bahwa Hati Tuan mulai menghitam adalah si Mulut

Mulut sudah memperingatkan kami untuk berjaga-jaga akan terjadinya perubahan sikap Tuan kami. Saat itu Mulut berbicara padaku,

" Hai telinga, sadarkah engkau bahwa kau tak pernah lagi mendengar ucapan tasbih, tahmid, tahlil dan takbir dariku? "

" Benar mulut, aku menyadarinya. Ada apa dengan ucapan-ucapan baik itu? apakah Tuan sudah lupa?

" Aku tak tahu telinga. Sepertinya ada sesuatu yang menutupi Hati nya Tuan. Yang tadinya hati Tuan terasa lembut hingga si Mata mengeluarkan air saat Tuan sedang asyik berdzikir. Sekarang hati tuan tak terasa lembut lagi.. sepertinya sudah mulai mengeras.. dan terlihat ada titik hitam di hati Tuan.. dan lama kelamaan, aku pun tak bersuara lagi untuk berdzikir...

Lalu Mulut berdiam diri cukup lama, hingga pada akhirnya Mulut berkata,

" Bersiap-siaplah.. karna sepertinya Tuan kita yang sekarang tak seperti Tuan yang dulu.. "



Ternyata, benarlah apa yang dikatakan Mulut pada kami. Secara perlahan-lahan, sikap Tuan tak lagi mendekati kebaikan melainkan lebih menyukai sesuatu yang membuat kami tersiksa. Padahal dulu Tuan sangat baik pada kami bahkan kami sering dimanjakan olehnya


Aku sering dibuai dengan suara lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an baik itu yang keluar dari si Mulut. Aku juga sering diperdengarkan suara-suara dzikir jika Tuan sedang berbicara. Ah, aku benar2 digunakan untuk yang baik-baik oleh Tuan..


Kukira Tuan hanya memanjakanku saja, ternyata si Mulut pun sering dimanjakan olehnya. Tak
henti2nya Mulut digerakkan untuk berdzikir dan berucap yang baik-baik. Tuan lebih senang untuk tersenyum dibandingkan dengan cemberut. Saat Tuan tertawa, Tuan sangat jarang membuka mulut lebar-lebar. Tuan lebih senang hanya dengan menampakkan beberapa gigi saja

Mulut pernah berkata,

" Padahal aku ini paling gampang menjerumuskan Tuan ke dalam masalah besar bahkan bisa membuat Allah murka pada Tuan, tetapi justru itu malah membuat Tuan semakin menjagaku.. kalau sudah begini, bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta pada Tuan? "


Si kompak Tangan dan Kaki juga begitu. Mereka benar-benar bahagia jika Tuan mulai 'menyibukkan' mereka. Melangkah pergi ke masjid, bersedekah ke fakir miskin, membantu sesama. Sesibuk apapun Tuan menggunakan mereka, justru itu yang membuat mereka makin gembira


Yang lucu itu si Mata. Dulu Mata pernah kebingungan, kenapa Tuan kalau berjalan itu senangnya menunduk?

Gara2 itu si Mata bilang,

" akhirnya kalau Tuan lagi jalan2, kebanyakan aku lihatnya tanah, aspal, batu2an... "

Pernah juga si Mata heboh bercerita padaku,

" Hari ini Tuan aneh sekali, tadi Tuan tidak sengaja bertemu dengan wanita cantik. Tuan sempat memandangnya sepersekian detik tapi habis itu langsung menunduk.. padahal aku belum sempat berkedip dan setelah berkedip tiba2 saja sudah menatap aspal... "

Mata juga pernah berkisah,

" Saat malam hari adalah saat dimana Tuan bermunajat pada Allah. Dan ketika Tuan sedang mengadukan semua persoalannya pada Allah, aku tak kuasa melihat betapa nikmatnya Tuan bercengkrama dengan Allah.. tanpa disadari, aku sudah membasahi si Pipi... "



Tapi sayang.. itu hanya menjadi kenangan buatku dan teman-teman yg lainnya. Kini yang ada kami semua dibuat menderita bahkan menjerit kesakitan.

Aku kasihan sama Kaki. Dia sangat menderita karna sekarang Tuan lebih senang melangkah ke tempat-tempat yang penuh kelalaian

Aku juga kasihan sama Tangan. Dia merasa menjadi tumpul karena tak pernah lagi bekerja untuk hal-hal yang baik

Saat melihat kondisi mata.. aku makin tak tega..

Mata sampai berkata,

" aku lebih senang lihat aspal, aku lebih senang lihat tanah dan aku lebih senang melihat bebatuan daripada aku melihat pemandangan yang menyakitkan diriku... "


Kami semua sekarang benar-benar tidak tahu lagi.. bagaimana caranya agar dapat menyelamatkan Tuan kami..


Mulut sudah pasrah,

" Tolong hentikan aku... aku tak mau menjerumuskan Tuan ke dalam neraka hanya karena aku... tolong.. tolong hentikan aku....!!! "


Otak hanya bisa berdiam diri dan berpikir,

" ayolah teman.. bagaimana caranya agar Hati Tuan tak menghitam lagi.. ayolah teman.. berpikir.. berpikir...!!! "



Dan aku,

Aku hanya bisa memaksakan diri untuk mendengar perkataan-perkataan yang tak berguna. Tuan sudah menutupku agar aku tak mendengar lagi suara adzan.. agar aku tak mendengar lagi suara lantunan ayat Al-Qur'an.. tak lagi mendengar bacaan dzikir.. tak lagi... dan tak lagi....


Sampai pada akhirnya si Hati turun tangan dan berkata pada Tuan...


" Tuan.. tahukah engkau? bahwa di akhirat nanti.. kami semua akan bersaksi atas dirimu?

Kami semua harus bersaksi pada Allah dan bercerita panjang lebar..

kemana saja Tuan telah melangkah?

Apa yang Tuan lakukan dengan kedua tangan Tuan?

Ucapan apa yang sering terlontar dari mulut Tuan?

Apa saja yang pernah Tuan dengar?

Pemandangan apa sajakah yang pernah Tuan lihat selama ini?

Dipergunakan untuk apakah otak Tuan?

Dan ribuan pertanyaan lainnya...

Dan apakah Tuan mengetahui? Saat itu si Mulut akan dikunci rapat-rapat agar tak bisa mengucapkan kata-kata yang dusta?

Tahukah engkau... wahai Tuanku...?? "

Jika Sahabat Menyukai Artikel ini, Silahkan Bagikan ke Teman Anda!



Comments (0)