bismillahirrahmaanirrahiim..

Assalamu'alaykum wr wb,
Teman, gimana kabarnya? baik? Alhamdulillah syukurlaah! Kabar Na juga lagi baik (catat, ini dalam kondisi butek dan buntu dengan laporan2 T__T). Aku butuh penyegaran diri, bosan juga daritadi nulis terus ^^;

Tapi mau ngomongin apa ya? lagi ngga ada bahan nih (cari di brotherland alias tanah-abang..ahahaha...ko jadi jayus begini..). Lagi2 Na ngga menepati janji. Harusnya aku menuliskan lanjutan dari adab berpakaian, tapi dari kemarin malah asyik sama kisah2 sendiri..maaf ya teman.. Na sendiri juga belum lanjut baca buku Fiqih Sunnah utk wanita dikarenakan terlena membaca buku Rabi'ah Al-Adawiah ^^;

Hmm, tiba2 aja ingin membahas mengenai sebutan 'itik' bagi diriku sendiri. Sempat ada seorang teman yg bertanya mengapa aku menganalogikan diri ini dengan sesosok 'itik' ?

Begini kisahnya...

Pada awal profesi, Na mendapat keberuntungan yang luar biasa, kenapa? karena Na mendapatkan di bagian anak-anak! Waow, Na benar2 merasa tertantang sekali. Bagaimana tidak? nyuntik orang gede aja juga belum pernah..lah ini langsung dihadapken dengan anak kecil!!!
Yak, back tu topic.
Awalnya, sebutan 'itik' ini terucap ketika Na dan temen2 sekelompok menjajakkan kaki disalah satu RS yang berada di daerah Fatmawati. Pandangan dan perilaku yang diberikan pada kami oleh para senpai yg ada disana seolah-olah kami ini adalah 'itik' yang ngga mau ditengok karena masih jelek, bersuara sember, duh..poko'nya ngga mau diliat deh!
Ya, emang aku akui kalau.. Kami memang 'jelek' (ah, tiba2 saja aku teringat dengan kejadian betapa shocknya kami waktu diminta untuk mengoplos obat2an untuk anak2.. -waduh!! dulu dikampus cuma belajar dari buku!!! prakteknya ngga tauuuu!!!), bersuara sember? maksudnya itu..saking takutnya kami melakukan kesalahan, alhasil suara kami selalu kecil dan selalu minta maaf diawal kalimat (ahahaa, ini mah emang kebiasaanku). Lihat, benar2 seperti itik kan? padahal itik yang sesungguhnya kan ngga begitu.. maaf ya Allah... aku menjelek2an makhluk ciptaan-Mu.. ~T___T~

Dimulai dari sikap para senpai yg seperti itulah timbul sebutan 'itik' buat kami (hanya Na dan Mia yg mengatakannya). Sebelum berangkat ke RS, aku dan Mia selalu berkata..
" Yak.. si itik siap pergi!!"

Itulah awal sebutan 'itik' buat diriku. Lalu, kenapa sampai sekarang masih digunakan?? ternyata, Na jadi menyukai kata2 'itik'. Seperti menggambarkan keadaan seseorang yang masih kecil, masih banyak belajar, masih jelek, masih butuh bantuan orang2, kalau ditinggal maunya nangis mulu, dan bercita2 menjadi seorang angsa yang cantik (ini dia yg menjadi pertanyaanku. Itik kalau gede jadi bebek apa jadi angsa sih????)

Sama juga seperti ulat. Masih jelek, menjijikkan, membuat orang2 yg melihatnya tidak suka, kerjaannya hanya merusak tanaman (heey...bukan merusak..dia kan emang memakan daun!!) dan bercita2 menjadi kupu-kupu yang memiliki sayang yang cantik nan indah dan bisa terbang ke angkasa.
Tapi daripada ulet, aku lebih suka itik.. hehehhe :p

Begitulah Na menggambarkan diri Na. Na lebih suka melihat 'itik' sebagai sesosok makhluk ciptaan Allah yang sering belajar untuk menjadi angsa yang baik. Walaupun terlihat rapuh, tapi itik sering menunjukkan semangatnya untuk belajar mandiri. Na suka terkesima melihat itik yang belajar berenang. Kayanya susaaah banget buat dia, tapi si itik ngga lelah untuk berusaha dan terus berusaha lagi. Itu juga yg menjadikan alasan mengapa Na suka menggambarkan diri ini sebagai 'itik'.

Na ingin mencontoh kegigihan si itik dalam belajar. Belajar menjadi seorang hamba Allah yang baik. Berusaha tabah dan ikhlas dengan cobaan-cobaan yang ada. Tak mengapa dianggap jelek, dianggap menyusahkan, dan lainnya.. toh usaha untuk belajar ini semata2 dilakukan hanya karena Allah yang telah menciptakan (Insya Allah)

Yap, begitulah asal muasal adanya panggilan 'itik' dalam setiap penggambaran diri ku. Dengan berharap semoga nanti si 'itik' bisa berubah menjadi angsa.. Na juga berharap dan berusaha agar Na yang seperti 'itik' ini bisa berubah menjadi wanita muslimah sejati (aku menggambarkannya dengan kata2 'angsa').

duh..omongan yg ga penting ya T__T~
Maaf kalau merasa seperti itu... hiks..

Jika Sahabat Menyukai Artikel ini, Silahkan Bagikan ke Teman Anda!



Comments (4)

Semoga selalu menjadi hamba yang terbaik di mata Allah swt.

ohh jadi ini asal muasalnya itik? ^^ drdulu sbenernya pengen nanya ada apa di'balik' itik xp hehehe...

baca posting di atas, Na kudoakan semoga jadi angsa putih yg cantik, yg kemudian ditemukan pangerannya (kyaaa kyaaaa..lagi2 arah omongannya kesini XD hahaha) dan akhirnya bisa berdansa di istana depan singgasana raja sperti yg di dongeng2 itu *eh, cerita dongengnya nyampur2 jadinya ya, tp ngerti kan maxudnya?? uhufufu*

osh! semangat Na~ (*w*)q

*ikut mendoakan apa yg 'harapandiri' doakan*

btw klo Na 'itik', aku jadi 'ulet'nya deh XD XP XD he ho he

@ Kak Landy
Amiin ya Allah, hayuk sama2 berusaha menjadi hamba yg terbaik di mata Allah swt

@ Mari
Amiin ya Allah! jangankan bertemu pangeran..Na mendambakannya bertemu dengan 'Rajanya manusia' (insya Allah)
waduh, Mari mana pantas jadi 'ulet' jadi 'itik' juga aja laah.. biar Na ada temennya ^^

knya bisa menjadi angsa yang cantik suatu hari nanti..
diriku yakin ina pasti kan menjadi si angsa tsb :)

salam kenal ina...
kunjungan balik nih :)