Label: , , , , , , ,

(lanjutan)..


" Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan " (QS. Hud: 15-16)





Sufyan ats-Tsauri rah.a berkata, " Bekerjalah untuk kehidupan dunia seberapa lama kehidupan kalidan di dunia dan bekerjalah untuk akhirat seberapa lama kehidupan kalian di akhirat "


Mungkin para wanita perlu bertanya pada dirinya sendiri, apakah kaum wanita telah menunaikan tugasnya sebagai Ibu Rumah Tangga dengan baik sebelum keluar rumah untuk "mengabdi" kepada masyarakat? Wanita boleh bekerja jika tak adalagi laki-laki yang mampu menggantikan tugasnya yang masih dibutuhkan oleh ummat, dengan syarat tidak melanggar hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT dan Rasul-Nya


" Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi wanita yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat yang nyata " (QS. Al-Ahzab: 36)


Memberdayakan potensi wanita di luar rumah dalam Islam perlu dipertimbangkan dengan hati-hati. Kehidupan wanita karir tak lepas dari usaha para ahli batil untuk memperdaya kaum wanita. Sebagian besar kaum wanita pekerja harus bergaul, cita-cita dan impiannya menggiring wanita kembali ke zaman jahiliyyah modern. Persis, tuntas sampai ke akar-akarnya, tak ada batas mahram dan non mahram. Tak ada batas halal dan haram, semua serba boleh

Musuh-musuh Islam sangat menyadari betapa besar keuntungan dari hasil memanupulasi kebebasan wanita, mereka mengajak kaum wanita untuk berlomba-lomba keluar dari rumahnya untuk berebut lapangan kerja dengan kaum lelaki. Pusat-pusat perniagaan, industri koran dan majalah, serta penyiaran dan televisi, menjual tuuh wanita untuk merangsang para pelanggannya. Mereka mengetahui keunggulan kaum wanita dalam penampilan tubuhnya, bahwa wanita dapat dikorbankan untuk kejayaan bidang-bidang usaha itu. Dan mereka memanipulasi nafsu syahwat kaum lelaki untuk meraup keuntungan yang lebih banyak di atas kehancuran kaum wanita. Kaum muslimah harus memahami konspirasi licik ini agar dapat membedakan hak dan kewajibannya

Islam datang untuk mengarahkan potensi wanita sesuai dengan fungsi dan pembawaan fitrahnya, sehingga syari'at mengatur dimana fungsi wanita yang terbaik ditempatkan, yaitu di rumah. Hak dan kedudukan wanita diberikan sesuai dengan fitrahnya:


" Dan janganlah kami iri hati terhadap apa yang diperintahkan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bagian daripada yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu " (QS. An-Nisaa: 32)



Kebebasan kaum wanita dengan nama emansipasi justru menghancurkan derajat kaum wanita. Kaum wanita dieksploitasi habis sebagai komoditit yang hanya dinilai dengan materi, setiap karyanya dihargai dengan uang dan ternyata sebagian besar wanita bekerja dengan motivasi ekonomi. Memang manusia memerlukan berbagai fasilitas hidup di dunia yang harus dibayar dengan uang dan dunia kerja menjanjikan hal itu. Namun perlu dingat lagi dan lagi.. bahwa uang memiliki daya tarik tersendiri untuk mengubah manusia yang tidak beriman. Wanita desa yang polos dan lugu dapat berubah menjadi rakus dan tamak karena uang. Seorang istri yang qana'ah yang penuh pengertian dapat berubah menjadi penuntut yang tak pernah puas karena uang, bahkan seorang wanita berjilbab yang idealis pun bisa berubah karena uang. Sekali terjebak pada nikmatnya menghitung uang, maka kita seperti meneguk air laut. Takkan pernah mendapatkan kepuasan

Rasulullah SAW bersabda,

" Sesungguhnya bagi setiap ummat ada fitnah, dan fitnah pada ummatku adalah harta " (HR. Tirmidzi -Misykat)

Uang dapat membuat anak tidal kagi menghormati orangtuanya, uang membuat seorang istri sombong dan tidak menghargai suami dan dapat membuat seseorang lupa pada tugas mendidik anak


Allah SWT berfirman,

" Kecelakaan bagi setiap pengumpat dan pencela. Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-kail tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam (neraka) Huthamah " (QS. Al-Humazah: 1-4)


Dunia sudah membuktikan betapa mudahnya membuat para wanita menjadi objek, menggiring kaum wanita pada sebuah komitmen bersama yang diusahakan oleh para ahlul batil atau siapa saja yang tidak setuju dengan peran sakral wanita melalui berbagai cara. Baik secara langsung maupun tidak, lewat perang pemikiran (ghazwul fikr) pada forum-forum pertemuan, seminar-seminar, diskusi-diskusi dan demonstrasi. Bahkan dijadikan "tameng hidup-hidup" dibalik kedok globalisasi, pro-demokrasi, Hak Asasi Manusia, kesetaraan dan kemitraan yang justru menjadi bumerang. Anak-anak di rumah tanpa kasih sayang akan tumbuh menjadi liar, suami berselingkuh, zina bertebaran dimana-mana.



Ma'adzallah!!!!


( to be continued )
Baca Selengkapnya "wanita diantara karier dan pekerjaan (part 2)"

Label: , , , , , ,


Allah SWT memerintahkan berusaha dan menunjukkan dua usaha
Usaha yang sementara dan hasilnya juga sementara namun di akhirat mendapatkan kesusahan
dan usaha sementara dan hasilnya selama-lamanya hingga di akhirat kelak..



" Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik." ( QS. Al- Isra': 18-19 )

Semua manusia diperintahkan untuk bekerja, nilai usaha laki-laki dan wanita itu sama di sisi Allah SWT

" Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. An-Nahl: 97 )

Namun yang dimaksud dengan kerja pada ayat ini, mungkin berbeda dengan pemahaman kita selama ini. Seseorang hanya dianggap "bekerja" jika telah berusaha untuk mendapatkan uang atau segala kebutuhan hidupnya. Meskipun seseorang sibuk sejak pagi hingga malam hari, bila tidak dalam rangka mendapatkan uang maka belum dikatakan bekerja.

Seorang Ibu rumah tangga yang sibuk mengatur urusan keluarga tidak dikatakan bekerja sebab tidak mendapatkan upah. Padahal pekerjaan yang paling berat namun paling mulia sebagai wanita musilmah adalah sebagai " Ibu " dalam rumah tangganya. Tugasnya bisa melebihi tugas kaum laki-laki. Kaum laki0laki mungkin hanya bisa bekerja mulai matahari terbit hingga matahari terbenam, namun seorang isteri sanggup bekerja secara istiqamah, mulai sebelum matahari terbit sampai terbenamnya mata sang suami. Tetapi masih juga pekerjaan sebagai Ibu kurang dihargai termasuk oleh kaum wanita sendiri.

Mayoritas wanita pada zaman sahabat r.hum melakukan pekerjaan rumah tangganya yang berat meski kadarnya berbeda-beda. Mereka adalah Ratu rumah tangna dan Ibu keluarga yang mengandung, melahirkan, menyusui dan merawat anak-anaknya, serta berkhidmat kepada suaminya. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh para wanita yang sabar dengan penuh rasa syukur. Dan Islam memuliakan wanita dalam memikul pekerjaan itu. Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa bagi kaum wanita, kehamilan dan melahirkan laksana orang yang menyerang musuh di garis depan dalam fii sabilillah, jika ia mati di antara masa itu, maka ia memperoleh pahala syahid.

Islam tidak melarang wanita bekerja, tetapi tidak menganjurkan bekerja di luar rumah. Jika seandainya harus bekerja di luar rumah karena tidak ada mahram yang menanggungnya untuk memenuhi nafkah anak-anaknya sehingga tidak meminta-minta.

Jabir bin Abdullah r.a menuturkan, " Bibiku dari pihak Ibu bercerai. Suatu ketika ia bermaksud memetik kurma, namun seorang lelaki menghardiknya karena ia keluar dari rumah (selama masa iddah). Ia lalu menghadap Rasulullah SAW dan beliau menjawab, " Tentu saja engkau boleh memetiknya dari phon kurma milikmu, sehingga engkau menyedekahkannya atau beramal dengannya. " (HR. Muslim)

Rasulullah SAW bersabda,
" Sesungguhnya jika orang itu keluar dari rumahnya untuk bekerja, guna mengusahakan kehidupan anaknya yang masih kecil, maka ia telah berusaha di jalan Allah (fii sabilillah). Jika ia bekerja untuk dirinya sendiri agar tidak sampai meminta-minta pada orang lain, itu pun fii sabilillah. Tetapi apabila bekerja karena riya atau untuk bermegah-megahan maka itulah fii sabilisy-syaithan. " (HR. Thabrani)

Rasulullah SAW bersabda,
" Sesungguhnya yang paling baik engkau makan adalah yang berasal dari jerih payahmu dan anak-anakmu juga adalah hasil dari jerih payahmu." (Fatawal Mar'ah)

Fathimah r.ha, isteri Ali r.a yang juga putri Nabi SAW juga bekerja, merajut dan menenun kain untuk dijual oleh suaminya di pasar sehingga waktunya lebih banyak berada di rumah.

Sebagaimana perintah Allah SWT,
" Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu " (QS. Al-Ahzab: 33)

Maksud ayat ini sangat jelas, agar wanita muslimah menjadikan rumahnya sebagai kantor dan markasnya untuk mengurus rumah tangganya. Islam menempatkan tugas wanita ada di dalam rumah dan itu bukanlah tugas yang sederhana. Betapa banyak kisah wanita pada zaman generasi para sahabat r.hum yang mencerminkan betapa beratnya tanggung jawab dan peran yang mereka lakukan. Ali r.a juga pernah berkata kepada Ibnu A'bad, " Maukah engkau tahu keadaan keluargaku? " Ia menjawab, " Tentu! " Ali r.a lalu berkata, " Fathimah sering menumbuk gandum sehingga alat penumbuk gandum membekas di tangannya, mengangkat tempat air sehingga membekas pada lehernya dan menyapu rumah sehingga bajunya berdebu. "


Asma binti Abu Bakar r.ha juga selalu melakukan pekerjaan rumah tangganya dan berkhidmat kepada suaminya Zubair bin Awwam r.a. Karena beratnya pekerjaan, ia pernah meminta seorang pembantu kepada Ayahnya. Asma r.ha mengatakan, " Aku dinikahi oleh Zubair bin Awwam. Ia tidak mempunyai kebun, harta, hamba sahaya dan lainnya. Kecuali unta dan seekor kudanya. Aku sering memberi makan kudanya, mengurus dan mengembalakannya. Aku menumbuk biji kurma lalu aku campur dengan air dan mengolahnya dengan tepung gandum dan ternyata menghasilkan roti yang enak. Banyak wanita Anshar yang meminta untuk dibuatkan roti, padahal mereka juga mampu membuat roti yang enak."

Ath-Thabrari meriwayatkan bahwa seorang wanita Anshar (Asma binti Yazid r.ha) datang kepada Rasulullah SAW dan berkata,

"Ya Rasulullah, aku diutus oleh kaumku. Dan Allah mewajibkan jihad (berperang) kepada kaum laki-laki, jika mereka menang akan mendapatkan pahala. Dan jika mereka gugur akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah SWT. Sedangkan kami kaum wanita tidak dapat berperang seperti kaum lelaki. Amalan apakah yang dapat menyamai mereka?"

Rasulullah SAW bersabda, " Taat pada suami dengan menjalankan perintah suami dapat menyamai pahala mereka. Namun banyak kaum wanita yang tidak mau taat kepada suaminya. "

Tak ada berita gembira yang melebihi sabda Rasulullah SAW itu bagi kaum wanita. Hilangnya peran wanita dalam segala aspek kehidupan ini akan memunculkan suasana yang serba terbalik. Kemuliaan wanita akan kembail bangkit apabila dia melaksanakan tugasnya dengan baik, dia akan berusaha menjadi isteri yang shalihah dan melahirkan umat yang terbaik dalam sejarah. Banyak tokoh-tokoh sukses yang muncul dari alumnus " madrasah" sang Ibu. Hanya itu syaratnya, andai umat ini ingin bangkit kembali memperoleh kemuliaannya sebagaimana pada generasi para sahabat r.ha

Jika terpaksa wanita bekerja, maka ia harus memilih sesuai dengan fitrahnya. Menjadi seorang guru atau dokter bagi kaum wanita, harus seizin suami, tidak keluar rumah kecuali bersama dengan mahramnya, dan di tempat kerjanya tidak bercampur baur dengan laki-laki dan wanita. Yang jelas pekerjaannya tidak menghalangi tugas sebagai Ibu dan sebagai isteri, apalagi sampai mengorbankan kehidupan akhiratnya untuk keperluan dunia. Sebagaimana seorang Ibu yang memiliki seorang anak sebagai buah hatinya dan untuk keperluan hidupnya ia memelihara beberapa ekor kambing. Suatu ketika anaknya sakit maka kambingnya yang dijual untuk kesehatan anaknya, bukan sebaliknya ketika kambingnya sakit maka anaknya yang dikorbankan.




( to be continued... insya Allah )



taken from book: Wanita dalam fikir dan risau Rasulullah SAW, penulis: An Nadhr Muhammad Ishaq bin Abdullah Abbas
Baca Selengkapnya "wanita diantara karier dan pekerjaan (part 1)"