Label: , ,


SEBUAH PETIKAN KISAH MENGENAI ASHABUL KAHFI


Dalam surat al-Kahfi, Allah SWT menceritakan tiga kisah masa lalu, yaitu kisah Ashabul Kahfi, kisah pertemuan nabi Musa as dan nabi Khidzir as serta kisah Dzulqarnain. Kisah Ashabul Kahfi mendapat perhatian lebih dengan digunakan sebagai nama surat dimana terdapat tiga kisah tersebut. Hal ini tentu bukan kebetulan semata, tapi karena kisah Ashabul Kahfi, seperti juga kisah dalam al-Quran lainnya, bukan merupakan kisah semata, tapi juga terdapat banyak pelajaran (ibrah) didalamnya.

Ashabul Kahfi adalah nama sekelompok orang beriman yang hidup pada masa Raja Diqyanus di Romawi, beberapa ratus tahun sebelum diutusnya nabi Isa as. Mereka hidup ditengah masyarakat penyembah berhala dengan seorang raja yang dzalim. Ketika sang raja mengetahui ada sekelompok orang yang tidak menyembah berhala, maka sang raja marah lalu memanggil mereka dan memerintahkan mereka untuk mengikuti kepercayaan sang raja. Tapi Ashabul Kahfi menolak dan lari, dikejarlah mereka untuk dibunuh. Ketika mereka lari dari kejaran pasukan raja, sampailah mereka di mulut sebuah gua yang kemudian dipakai tempat persembunyian.

Dengan izin Allah mereka kemudian ditidurkan selama 309 tahun di dalam gua, dan dibangkitkan kembali ketika masyarakat dan raja mereka sudah berganti menjadi masyarakat dan raja yang beriman kepada Allah SWT (Ibnu Katsir; Tafsir al-Quran al-'Adzim; jilid:3 ; hal.67-71).

Berikut adalah kisah Ashabul Kahfi (Penghuni Gua) yang ditafsir secara jelas jalan ceritanya.....

Penulis kitab Fadha'ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah (jilid II, halaman 291-300), mengetengahkan suatu riwayat yang dikutip dari kitab Qishashul Anbiya. Riwayat tersebut berkaitan dengan tafsir ayat 10 Surah Al-Kahfi:
"(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo'a: "Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)" (QS al-Kahfi:10)

Dengan panjang lebar kitab Qishashul Anbiya mulai dari halaman 566 meriwayatkan sebagai berikut:

Di kala Umar Ibnul Khattab memangku jabatan sebagai Amirul Mukminin, pernah datang kepadanya beberapa orang pendeta Yahudi. Mereka berkata kepada Khalifah: "Hai Khalifah Umar, anda adalah pemegang kekuasaan sesudah Muhammad dan sahabatnya, Abu Bakar. Kami hendak menanyakan beberapa masalah penting kepada anda. Jika anda dapat memberi jawaban kepada kami, barulah kami mau mengerti bahwa Islam merupakan agama yang benar dan Muhammad benar-benar seorang Nabi. Sebaliknya, jika anda tidak dapat memberi jawaban, berarti bahwa agama Islam itu bathil dan Muhammad bukan seorang Nabi."

"Silahkan bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan," sahut Khalifah Umar.

"Jelaskan kepada kami tentang induk kunci (gembok) mengancing langit, apakah itu?" Tanya pendeta-pendeta itu, memulai pertanyaan-pertanyaannya. "Terangkan kepada kami tentang adanya sebuah kuburan yang berjalan bersama penghuninya, apakah itu? Tunjukkan kepada kami tentang suatu makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi ia bukan manusia dan bukan jin! Terangkan kepada kami tentang lima jenis makhluk yang dapat berjalan di permukaan bumi, tetapi makhluk-makhluk itu tidak dilahirkan dari kandungan ibu atau induknya! Beritahukan kepada kami apa yang dikatakan oleh burung puyuh (gemak) di saat ia sedang berkicau! Apakah yang dikatakan oleh ayam jantan di kala ia sedang berkokok! Apakah yang dikatakan oleh kuda di saat ia sedang meringkik? Apakah yang dikatakan oleh katak di waktu ia sedang bersuara? Apakah yang dikatakan oleh keledai di saat ia sedang meringkik? Apakah yang dikatakan oleh burung pipit pada waktu ia sedang berkicau?"

Khalifah Umar menundukkan kepala untuk berfikir sejenak, kemudian berkata: "Bagi Umar, jika ia menjawab 'tidak tahu' atas pertanyaan-pertanyaan yang memang tidak diketahui jawabannya, itu bukan suatu hal yang memalukan!''

Mendengar jawaban Khalifah Umar seperti itu, pendeta-pendeta Yahudi yang bertanya berdiri melonjak-lonjak kegirangan, sambil berkata: "Sekarang kami bersaksi bahwa Muhammad memang bukan seorang Nabi, dan agama Islam itu adalah bathil!"

Salman Al-Farisi yang saat itu hadir, segera bangkit dan berkata kepada pendeta-pendeta Yahudi itu: "Kalian tunggu sebentar!"

Ia cepat-cepat pergi ke rumah Ali bin Abi Thalib. Setelah bertemu, Salman berkata: "Ya Abal Hasan, selamatkanlah agama Islam!"

Imam Ali r.a. bingung, lalu bertanya: "Mengapa?"

Salman kemudian menceritakan apa yang sedang dihadapi oleh Khalifah Umar Ibnul Khattab. Imam Ali segera saja berangkat menuju ke rumah Khalifah Umar, berjalan lenggang memakai burdah (selembar kain penutup punggung atau leher) peninggalan Rasul Allah SAW. Ketika Umar melihat Ali bin Abi Thalib datang, ia bangun dari tempat duduk lalu buru-buru memeluknya, sambil berkata: "Ya Abal Hasan, tiap ada kesulitan besar, engkau selalu kupanggil!"

Setelah berhadap-hadapan dengan para pendeta yang sedang menunggu-nunggu jawaban itu, Ali bin Abi Thalib herkata: "Silakan kalian bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan. Rasul Allah s.a.w. sudah mengajarku seribu macam ilmu, dan tiap jenis dari ilmu-ilmu itu mempunyai seribu macam cabang ilmu!"

Pendeta-pendeta Yahudi itu lalu mengulangi pertanyaan-pertanyaan mereka. Sebelum menjawab, Ali bin Abi Thalib berkata: "Aku ingin mengajukan suatu syarat kepada kalian, yaitu jika ternyata aku nanti sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian sesuai dengan yang ada di dalam Taurat, kalian supaya bersedia memeluk agama kami dan beriman!"

"Ya baik!" jawab mereka.

"Sekarang tanyakanlah satu demi satu," kata Ali bin Abi Thalib.

Mereka mulai bertanya: "Apakah induk kunci (gembok) yang mengancing pintu-pintu langit?"

"Induk kunci itu," jawab Ali bin Abi Thalib, "ialah syirik kepada Allah. Sebab semua hamba Allah, baik pria maupun wanita, jika ia bersyirik kepada Allah, amalnya tidak akan dapat naik sampai ke hadhirat Allah!"

Para pendeta Yahudi bertanya lagi: "Anak kunci apakah yang dapat membuka pintu-pintu langit?"

Ali bin Abi Thalib menjawab: "Anak kunci itu ialah kesaksian (syahadat) bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah!"

Para pendeta Yahudi itu saling pandang di antara mereka, sambil berkata: "Orang itu benar juga!" Mereka bertanya lebih lanjut: "Terangkanlah kepada kami tentang adanya sebuah kuburan yang dapat berjalan bersama penghuninya!"

"Kuburan itu ialah ikan hiu (hut) yang menelan Nabi Yunus putera Matta," jawab Ali bin Abi Thalib. "Nabi Yunus as. dibawa keliling ketujuh samudera!"

Pendeta-pendeta itu meneruskan pertanyaannya lagi: "Jelaskan kepada kami tentang makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi makhluk itu bukan manusia dan bukan jin!"

Ali bin Abi Thalib menjawab: "Makhluk itu ialah semut Nabi Sulaiman putera Nabi Dawud alaihimas salam. Semut itu berkata kepada kaumnya: "Hai para semut, masuklah ke dalam tempat kediaman kalian, agar tidak diinjak-injak oleh Sulaiman dan pasukan-nya dalam keadaan mereka tidak sadar!"

Para pendeta Yahudi itu meneruskan pertanyaannya: "Beritahukan kepada kami tentang lima jenis makhluk yang berjalan di atas permukaan bumi, tetapi tidak satu pun di antara makhluk-makhluk itu yang dilahirkan dari kandungan ibunya atau induknya!"

Ali bin Abi Thalib menjawab: "Lima makhluk itu ialah, pertama, Adam. Kedua, Hawa. Ketiga, Unta Nabi Shaleh. Keempat, Domba Nabi Ibrahim. Kelima, Tongkat Nabi Musa (yang menjelma menjadi seekor ular)."

Dua di antara tiga orang pendeta Yahudi itu setelah mendengar jawaban-jawaban serta penjelasan yang diberikan oleh Imam Ali r.a. lalu mengatakan: "Kami bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah!"

Tetapi seorang pendeta lainnya, bangun berdiri sambil berkata kepada Ali bin Abi Thalib: "Hai Ali, hati teman-temanku sudah dihinggapi oleh sesuatu yang sama seperti iman dan keyakinan mengenai benarnya agama Islam. Sekarang masih ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan kepada anda."

"Tanyakanlah apa saja yang kau inginkan," sahut Imam Ali.

"Coba terangkan kepadaku tentang sejumlah orang yang pada zaman dahulu sudah mati selama 309 tahun, kemudian dihidupkan kembali oleh Allah. Bagaimana hikayat tentang mereka itu?" Tanya pendeta tadi.

Ali bin Ali Thalib menjawab: "Hai pendeta Yahudi, mereka itu ialah para penghuni gua. Hikayat tentang mereka itu sudah dikisahkan oleh Allah s.w.t. kepada Rasul-Nya. Jika engkau mau, akan kubacakan kisah mereka itu."

Pendeta Yahudi itu menyahut: "Aku sudah banyak mendengar tentang Qur'an kalian itu! Jika engkau memang benar-benar tahu, coba sebutkan nama-nama mereka, nama ayah-ayah mereka, nama kota mereka, nama raja mereka, nama anjing mereka, nama gunung serta gua mereka, dan semua kisah mereka dari awal sampai akhir!"

Ali bin Abi Thalib kemudian membetulkan duduknya, menekuk lutut ke depan perut, lalu ditopangnya dengan burdah yang diikatkan ke pinggang. Lalu ia berkata: "Hai saudara Yahudi, Muhammad Rasul AllahSAW. kekasihku telah menceritakan kepadaku, bahwa kisah itu terjadi di negeri Romawi, di sebuah kota bernama Aphesus, atau disebut juga dengan nama Tharsus. Tetapi nama kota itu pada zaman dahulu ialah Aphesus (Ephese). Baru setelah Islam datang, kota itu berubah nama menjadi Tharsus (Tarse, sekarang terletak di dalam wilayah Turki). Penduduk negeri itu dahulunya mempunyai seorang raja yang baik. Setelah raja itu meninggal dunia, berita kematiannya didengar oleh seorang raja Persia bernama Diqyanius. Ia seorang raja kafir yang amat congkak dan dzalim. Ia datang menyerbu negeri itu dengan kekuatan pasukannya, dan akhirnya berhasil menguasai kota Aphesus. Olehnya kota itu dijadikan ibukota kerajaan, lalu dibangunlah sebuah Istana."

Baru sampai di situ, pendeta Yahudi yang bertanya itu berdiri, terus bertanya: "Jika engkau benar-benar tahu, coba terangkan kepadaku bentuk Istana itu, bagaimana serambi dan ruangan-ruangannya!"

Ali bin Abi Thalib menerangkan: "Hai saudara Yahudi, raja itu membangun istana yang sangat megah, terbuat dari batu marmar. Panjangnya satu farsakh (= kl 8 km) dan lebarnya pun satu farsakh. Pilar-pilarnya yang berjumlah seribu buah, semuanya terbuat dari emas, dan lampu-lampu yang berjumlah seribu buah, juga semuanya terbuat dari emas. Lampu-lampu itu bergelantungan pada rantai-rantai yang terbuat dari perak. Tiap malam apinya dinyalakan dengan sejenis minyak yang harum baunya. Di sebelah timur serambi dibuat lubang-lubang cahaya sebanyak seratus buah, demikian pula di sebelah baratnya. Sehingga matahari sejak mulai terbit sampai terbenam selalu dapat menerangi serambi. Raja itu pun membuat sebuah singgasana dari emas. Panjangnya 80 hasta dan lebarnya 40 hasta. Di sebelah kanannya tersedia 80 buah kursi, semuanya terbuat dari emas. Di situlah para hulubalang kerajaan duduk. Di sebelah kirinya juga disediakan 80 buah kursi terbuat dari emas, untuk duduk para pepatih dan penguasa-penguasa tinggi lainnya. Raja duduk di atas singgasana dengan mengenakan mahkota di atas kepala."

Sampai di situ pendeta yang bersangkutan berdiri lagi sambil berkata: "Jika engkau benar-benar tahu, coba terangkan kepadaku dari apakah mahkota itu dibuat?"

"Hai saudara Yahudi," kata Imam Ali menerangkan, "mahkota raja itu terbuat dari kepingan-kepingan emas, berkaki 9 buah, dan tiap kakinya bertaburan mutiara yang memantulkan cahaya laksana bintang-bintang menerangi kegelapan malam. Raja itu juga mempunyai 50 orang pelayan, terdiri dari anak-anak para hulubalang. Semuanya memakai selempang dan baju sutera berwarna merah. Celana mereka juga terbuat dari sutera berwarna hijau. Semuanya dihias dengan gelang-gelang kaki yang sangat indah. Masing-masing diberi tongkat terbuat dari emas. Mereka harus berdiri di belakang raja. Selain mereka, raja juga mengangkat 6 orang, terdiri dari anak-anak para cendekiawan, untuk dijadikan menteri-menteri atau pembantu-pembantunya. Raja tidak mengambil suatu keputusan apa pun tanpa berunding lebih dulu dengan mereka. Enam orang pembantu itu selalu berada di kanan kiri raja, tiga orang berdiri di sebelah kanan dan yang tiga orang lainnya berdiri di sebelah kiri."

Pendeta yang bertanya itu berdiri lagi. Lalu berkata: "Hai Ali, jika yang kau katakan itu benar, coba sebutkan nama enam orang yang menjadi pembantu-pembantu raja itu!"

Menanggapi hal itu, Imam Ali r.a. menjawab: "Kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa tiga orang yang berdiri di sebelah kanan raja, masing-masing bernama Tamlikha, Miksalmina, dan Mikhaslimina. Adapun tiga orang pembantu yang berdiri di sebelah kiri, masing-masing bernama Martelius, Casitius dan Sidemius. Raja selalu berunding dengan mereka mengenai segala urusan.

Tiap hari setelah raja duduk dalam serambi istana dikerumuni oleh semua hulubalang dan para punggawa, masuklah tiga orang pelayan menghadap raja. Seorang diantaranya membawa piala emas penuh berisi wewangian murni. Seorang lagi membawa piala perak penuh berisi air sari bunga. Sedang yang seorangnya lagi membawa seekor burung. Orang yang membawa burung ini kemudian mengeluarkan suara isyarat, lalu burung itu terbang di atas piala yang berisi air sari bunga. Burung itu berkecimpung di dalamnya dan setelah itu ia mengibas-ngibaskan sayap serta bulunya, sampai sari-bunga itu habis dipercikkan ke semua tempat sekitarnya.

Kemudian si pembawa burung tadi mengeluarkan suara isyarat lagi. Burung itu terbang pula. Lalu hinggap di atas piala yang berisi wewangian murni. Sambil berkecimpung di dalamnya, burung itu mengibas-ngibaskan sayap dan bulunya, sampai wewangian murni yang ada dalam piala itu habis dipercikkan ke tempat sekitarnya. Pembawa burung itu memberi isyarat suara lagi. Burung itu lalu terbang dan hinggap di atas mahkota raja, sambil membentangkan kedua sayap yang harum semerbak di atas kepala raja.

Demikianlah raja itu berada di atas singgasana kekuasaan selama tiga puluh tahun. Selama itu ia tidak pernah diserang penyakit apa pun, tidak pernah merasa pusing kepala, sakit perut, demam, berliur, berludah atau pun beringus. Setelah sang raja merasa diri sedemikian kuat dan sehat, ia mulai congkak, durhaka dan dzalim. Ia mengaku-aku diri sebagai "tuhan" dan tidak mau lagi mengakui adanya Allah SWT
Raja itu kemudian memanggil orang-orang terkemuka dari rakyatnya. Barang siapa yang taat dan patuh kepadanya, diberi pakaian dan berbagai macam hadiah lainnya. Tetapi barang siapa yang tidak mau taat atau tidak bersedia mengikuti kemauannya, ia akan segera dibunuh. Oleh sebab itu semua orang terpaksa mengiakan kemauannya. Dalam masa yang cukup lama, semua orang patuh kepada raja itu, sampai ia disembah dan dipuja. Mereka tidak lagi memuja dan menyembah Allah SWT.
Pada suatu hari perayaan ulang-tahunnya, raja sedang duduk di atas singgasana mengenakan mahkota di atas kepala, tiba-tiba masuklah seorang hulubalang memberi tahu, bahwa ada balatentara asing masuk menyerbu ke dalam wilayah kerajaannya, dengan maksud hendak melancarkan peperangan terhadap raja. Demikian sedih dan bingungnya raja itu, sampai tanpa disadari mahkota yang sedang dipakainya jatuh dari kepala. Kemudian raja itu sendiri jatuh terpelanting dari atas singgasana. Salah seorang pembantu yang berdiri di sebelah kanan --seorang cerdas yang bernama Tamlikha-- memperhatikan keadaan sang raja dengan sepenuh fikiran. Ia berfikir, lalu berkata di dalam hati: "Kalau Diqyanius itu benar-benar tuhan sebagaimana menurut pengakuannya, tentu ia tidak akan sedih, tidak tidur, tidak buang air kecil atau pun air besar. Itu semua bukanlah sifat-sifat Tuhan."

Enam orang pembantu raja itu tiap hari selalu mengadakan pertemuan di tempat salah seorang dari mereka secara bergiliran. Pada satu hari tibalah giliran Tamlikha menerima kunjungan lima orang temannya. Mereka berkumpul di rumah Tamlikha untuk makan dan minum, tetapi Tamlikha sendiri tidak ikut makan dan minum. Teman-temannya bertanya: "Hai Tamlikha, mengapa engkau tidak mau makan dan tidak mau minum?"

"Teman-teman," sahut Tamlikha, "hatiku sedang dirisaukan oleh sesuatu yang membuatku tidak ingin makan dan tidak ingin minum, juga tidak ingin tidur."

Teman-temannya mengejar: "Apakah yang merisaukan hatimu, hai Tamlikha?"

"Sudah lama aku memikirkan soal langit," ujar Tamlikha menjelaskan. "Aku lalu bertanya pada diriku sendiri: 'siapakah yang mengangkatnya ke atas sebagai atap yang senantiasa aman dan terpelihara, tanpa gantungan dari atas dan tanpa tiang yang menopangnya dari bawah? Siapakah yang menjalankan matahari dan bulan di langit itu? Siapakah yang menghias langit itu dengan bintang-bintang bertaburan?' Kemudian kupikirkan juga bumi ini: 'Siapakah yang membentang dan menghamparkan-nya di cakrawala? Siapakah yang menahannya dengan gunung-gunung raksasa agar tidak goyah, tidak goncang dan tidak miring?' Aku juga lama sekali memikirkan diriku sendiri: 'Siapakah yang mengeluarkan aku sebagai bayi dari perut ibuku? Siapakah yang memelihara hidupku dan memberi makan kepadaku? Semuanya itu pasti ada yang membuat, dan sudah tentu bukan Diqyanius'…"

Teman-teman Tamlikha lalu bertekuk lutut di hadapannya. Dua kaki Tamlikha diciumi sambil berkata: "Hai Tamlikha dalam hati kami sekarang terasa sesuatu seperti yang ada di dalam hatimu. Oleh karena itu, baiklah engkau tunjukkan jalan keluar bagi kita semua!"

"Saudara-saudara," jawab Tamlikha, "baik aku maupun kalian tidak menemukan akal selain harus lari meninggalkan raja yang dzalim itu, pergi kepada Raja pencipta langit dan bumi!"

"Kami setuju dengan pendapatmu," sahut teman-temannya.

Tamlikha lalu berdiri, terus beranjak pergi untuk menjual buah kurma, dan akhirnya berhasil mendapat uang sebanyak 3 dirham. Uang itu kemudian diselipkan dalam kantong baju. Lalu berangkat berkendaraan kuda bersama-sama dengan lima orang temannya.
Tempat tidur 6 pemuda bersama seekor anjing

Setelah berjalan 3 mil jauhnya dari kota, Tamlikha berkata kepada teman-temannya: "Saudara-saudara, kita sekarang sudah terlepas dari raja dunia dan dari kekuasaannya. Sekarang turunlah kalian dari kuda dan marilah kita berjalan kaki. Mudah-mudahan Allah akan memudahkan urusan kita serta memberikan jalan keluar."

Mereka turun dari kudanya masing-masing. Lalu berjalan kaki sejauh 7 farsakh, sampai kaki mereka bengkak berdarah karena tidak biasa berjalan kaki sejauh itu.

Tiba-tiba datanglah seorang penggembala menyambut mereka. Kepada penggembala itu mereka bertanya: "Hai penggembala, apakah engkau mempunyai air minum atau susu?"

"Aku mempunyai semua yang kalian inginkan," sahut penggembala itu. "Tetapi kulihat wajah kalian semuanya seperti kaum bangsawan. Aku menduga kalian itu pasti melarikan diri. Coba beritahukan kepadaku bagaimana cerita perjalanan kalian itu!"

"Ah…, susahnya orang ini," jawab mereka. "Kami sudah memeluk suatu agama, kami tidak boleh berdusta. Apakah kami akan selamat jika kami mengatakan yang sebenarnya?"

"Ya," jawab penggembala itu.

Tamlikha dan teman-temannya lalu menceritakan semua yang terjadi pada diri mereka. Mendengar cerita mereka, penggembala itu segera bertekuk lutut di depan mereka, dan sambil menciumi kaki mereka, ia berkata: "Dalam hatiku sekarang terasa sesuatu seperti yang ada dalam hati kalian. Kalian berhenti sajalah dahulu di sini. Aku hendak mengembalikan kambing-kambing itu kepada pemiliknya. Nanti aku akan segera kembali lagi kepada kalian."

Tamlikha bersama teman-temannya berhenti. Penggembala itu segera pergi untuk mengembalikan kambing-kambing gembalaannya. Tak lama kemudian ia datang lagi berjalan kaki, diikuti oleh seekor anjing miliknya."

Waktu cerita Imam Ali sampai di situ, pendeta Yahudi yang bertanya melonjak berdiri lagi sambil berkata: "Hai Ali, jika engkau benar-benar tahu, coba sebutkan apakah warna anjing itu dan siapakah namanya?"

"Hai saudara Yahudi," kata Ali bin Abi Thalib memberitahukan, "kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa anjing itu berwarna kehitam-hitaman dan bernama Qithmir. Ketika enam orang pelarian itu melihat seekor anjing, masing-masing saling berkata kepada temannya: kita khawatir kalau-kalau anjing itu nantinya akan membongkar rahasia kita! Mereka minta kepada penggembala supaya anjing itu dihalau saja dengan batu.

Anjing itu melihat kepada Tamlikha dan teman-temannya, lalu duduk di atas dua kaki belakang, menggeliat, dan mengucapkan kata-kata dengan lancar dan jelas sekali: "Hai orang-orang, mengapa kalian hendak mengusirku, padahal aku ini bersaksi tiada tuhan selain Allah, tak ada sekutu apa pun bagi-Nya. Biarlah aku menjaga kalian dari musuh, dan dengan berbuat demikian aku mendekatkan diriku kepada Allah s.w.t."

Anjing itu akhirnya dibiarkan saja. Mereka lalu pergi. Penggembala tadi mengajak mereka naik ke sebuah bukit. Lalu bersama mereka mendekati sebuah gua."

Pendeta Yahudi yang menanyakan kisah itu, bangun lagi dari tempat duduknya sambil berkata: "Apakah nama gunung itu dan apakah nama gua itu?!"

Imam Ali menjelaskan: "Gunung itu bernama Naglus dan nama gua itu ialah Washid, atau di sebut juga dengan nama Kheram!"

Ali bin Abi Thalib meneruskan ceritanya: secara tiba-tiba di depan gua itu tumbuh pepohonan berbuah dan memancur mata-air deras sekali. Mereka makan buah-buahan dan minum air yang tersedia di tempat itu. Setelah tiba waktu malam, mereka masuk berlindung di dalam gua. Sedang anjing yang sejak tadi mengikuti mereka, berjaga-jaga ndeprok sambil menjulurkan dua kaki depan untuk menghalang-halangi pintu gua. Kemudian Allah s.w.t. memerintahkan Malaikat maut supaya mencabut nyawa mereka. Kepada masing-masing orang dari mereka Allah s.w.t. mewakilkan dua Malaikat untuk membalik-balik tubuh mereka dari kanan ke kiri. Allah lalu memerintahkan matahari supaya pada saat terbit condong memancarkan sinarnya ke dalam gua dari arah kanan, dan pada saat hampir terbenam supaya sinarnya mulai meninggalkan mereka dari arah kiri.

Suatu ketika waktu raja Diqyanius baru saja selesai berpesta ia bertanya tentang enam orang pembantunya. Ia mendapat jawaban, bahwa mereka itu melarikan diri. Raja Diqyanius sangat gusar. Bersama 80.000 pasukan berkuda ia cepat-cepat berangkat menyelusuri jejak enam orang pembantu yang melarikan diri. Ia naik ke atas bukit, kemudian mendekati gua. Ia melihat enam orang pembantunya yang melarikan diri itu sedang tidur berbaring di dalam gua. Ia tidak ragu-ragu dan memastikan bahwa enam orang itu benar-benar sedang tidur.

Kepada para pengikutnya ia berkata: "Kalau aku hendak menghukum mereka, tidak akan kujatuhkan hukuman yang lebih berat dari perbuatan mereka yang telah menyiksa diri mereka sendiri di dalam gua. Panggillah tukang-tukang batu supaya mereka segera datang ke mari!"

Setelah tukang-tukang batu itu tiba, mereka diperintahkan menutup rapat pintu gua dengan batu-batu dan jish (bahan semacam semen). Selesai dikerjakan, raja berkata kepada para pengikutnya: "Katakanlah kepada mereka yang ada di dalam gua, kalau benar-benar mereka itu tidak berdusta supaya minta tolong kepada Tuhan mereka yang ada di langit, agar mereka dikeluarkan dari tempat itu."

Dalam guha tertutup rapat itu, mereka tinggal selama 309 tahun.

Setelah masa yang amat panjang itu lampau, Allah s.w.t. mengembalikan lagi nyawa mereka. Pada saat matahari sudah mulai memancarkan sinar, mereka merasa seakan-akan baru bangun dari tidurnya masing-masing. Yang seorang berkata kepada yang lainnya: "Malam tadi kami lupa beribadah kepada Allah, mari kita pergi ke mata air!"

Setelah mereka berada di luar gua, tiba-tiba mereka lihat mata air itu sudah mengering kembali dan pepohonan yang ada pun sudah menjadi kering semuanya. Allah s.w.t. membuat mereka mulai merasa lapar. Mereka saling bertanya: "Siapakah di antara kita ini yang sanggup dan bersedia berangkat ke kota membawa uang untuk bisa mendapatkan makanan? Tetapi yang akan pergi ke kota nanti supaya hati-hati benar, jangan sampai membeli makanan yang dimasak dengan lemak-babi."

Tamlikha kemudian berkata: "Hai saudara-saudara, aku sajalah yang berangkat untuk mendapatkan makanan. Tetapi, hai penggembala, berikanlah bajumu kepadaku dan ambillah bajuku ini!"

Setelah Tamlikha memakai baju penggembala, ia berangkat menuju ke kota. Sepanjang jalan ia melewati tempat-tempat yang sama sekali belum pernah dikenalnya, melalui jalan-jalan yang belum pernah diketahui. Setibanya dekat pintu gerbang kota, ia melihat bendera hijau berkibar di angkasa bertuliskan: "Tiada Tuhan selain Allah dan Isa adalah Roh Allah."

Tamlikha berhenti sejenak memandang bendera itu sambil mengusap-usap mata, lalu berkata seorang diri: "Kusangka aku ini masih tidur!" Setelah agak lama memandang dan mengamat-amati bendera, ia meneruskan perjalanan memasuki kota. Dilihatnya banyak orang sedang membaca Injil. Ia berpapasan dengan orang-orang yang belum pernah dikenal. Setibanya di sebuah pasar ia bertanya kepada seorang penjaja roti: "Hai tukang roti, apakah nama kota kalian ini?"

"Aphesus," sahut penjual roti itu.

"Siapakah nama raja kalian?" tanya Tamlikha lagi. "Abdurrahman," jawab penjual roti.

"Kalau yang kau katakan itu benar," kata Tamlikha, "urusanku ini sungguh aneh sekali! Ambillah uang ini dan berilah makanan kepadaku!"

Melihat uang itu, penjual roti keheran-heranan. Karena uang yang dibawa Tamlikha itu uang zaman lampau, yang ukurannya lebih besar dan lebih berat.

Pendeta Yahudi yang bertanya itu kemudian berdiri lagi, lalu berkata kepada Ali bin Abi Thalib: "Hai Ali, kalau benar-benar engkau mengetahui, coba terangkan kepadaku berapa nilai uang lama itu dibanding dengan uang baru!"

Imam Ali menerangkan: "Kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa uang yang dibawa oleh Tamlikha dibanding dengan uang baru, ialah tiap dirham lama sama dengan sepuluh dan dua pertiga dirham baru!"


Imam Ali kemudian melanjutkan ceritanya: Penjual Roti lalu berkata kepada Tamlikha: "Aduhai, alangkah beruntungnya aku! Rupanya engkau baru menemukan harta karun! Berikan sisa uang itu kepadaku! Kalau tidak, engkau akan ku hadapkan kepada raja!"

"Aku tidak menemukan harta karun," sangkal Tamlikha. "Uang ini ku dapat tiga hari yang lalu dari hasil penjualan buah kurma seharga tiga dirham! Aku kemudian meninggalkan kota karena orang-orang semuanya menyembah Diqyanius!"

Penjual roti itu marah. Lalu berkata: "Apakah setelah engkau menemukan harta karun masih juga tidak rela menyerahkan sisa uangmu itu kepadaku? Lagi pula engkau telah menyebut-nyebut seorang raja durhaka yang mengaku diri sebagai tuhan, padahal raja itu sudah mati lebih dari 300 tahun yang silam! Apakah dengan begitu engkau hendak memperolok-olok aku?"

Tamlikha lalu ditangkap. Kemudian dibawa pergi menghadap raja. Raja yang baru ini seorang yang dapat berfikir dan bersikap adil. Raja bertanya kepada orang-orang yang membawa Tamlikha: "Bagaimana cerita tentang orang ini?"

"Dia menemukan harta karun," jawab orang-orang yang membawanya.

Kepada Tamlikha, raja berkata: "Engkau tak perlu takut! Nabi Isa a.s. memerintahkan supaya kami hanya memungut seperlima saja dari harta karun itu. Serahkanlah yang seperlima itu kepadaku, dan selanjutnya engkau akan selamat."

Tamlikha menjawab: "Baginda, aku sama sekali tidak menemukan harta karun! Aku adalah penduduk kota ini!"

Raja bertanya sambil keheran-heranan: "Engkau penduduk kota ini?"

"Ya. Benar," sahut Tamlikha.

"Adakah orang yang kau kenal?" tanya raja lagi.

"Ya, ada," jawab Tamlikha.

"Coba sebutkan siapa namanya," perintah raja.

Tamlikha menyebut nama-nama kurang lebih 1000 orang, tetapi tak ada satu nama pun yang dikenal oleh raja atau oleh orang lain yang hadir mendengarkan. Mereka berkata: "Ah…, semua itu bukan nama orang-orang yang hidup di zaman kita sekarang. Tetapi, apakah engkau mempunyai rumah di kota ini?"

"Ya, tuanku," jawab Tamlikha. "Utuslah seorang menyertai aku!"

Raja kemudian memerintahkan beberapa orang menyertai Tamlikha pergi. Oleh Tamlikha mereka diajak menuju ke sebuah rumah yang paling tinggi di kota itu. Setibanya di sana, Tamlikha berkata kepada orang yang mengantarkan: "Inilah rumahku!"

Pintu rumah itu lalu diketuk. Keluarlah seorang lelaki yang sudah sangat lanjut usia. Sepasang alis di bawah keningnya sudah sedemikian putih dan mengkerut hampir menutupi mata karena sudah terlampau tua. Ia terperanjat ketakutan, lalu bertanya kepada orang-orang yang datang: "Kalian ada perlu apa?"

Utusan raja yang menyertai Tamlikha menyahut: "Orang muda ini mengaku rumah ini adalah rumahnya!"

Orang tua itu marah, memandang kepada Tamlikha. Sambil mengamat-amati ia bertanya: "Siapa namamu?"

"Aku Tamlikha anak Filistin!"

Orang tua itu lalu berkata: "Coba ulangi lagi!"

Tamlikha menyebut lagi namanya. Tiba-tiba orang tua itu bertekuk lutut di depan kaki Tamlikha sambil berucap: "Ini adalah datukku! Demi Allah, ia salah seorang di antara orang-orang yang melarikan diri dari Diqyanius, raja durhaka." Kemudian diteruskannya dengan suara haru: "Ia lari berlindung kepada Yang Maha Perkasa, Pencipta langit dan bumi. Nabi kita, Isa as., dahulu telah memberitahukan kisah mereka kepada kita dan mengatakan bahwa mereka itu akan hidup kembali!"

Peristiwa yang terjadi di rumah orang tua itu kemudian di laporkan kepada raja. Dengan menunggang kuda, raja segera datang menuju ke tempat Tamlikha yang sedang berada di rumah orang tua tadi. Setelah melihat Tamlikha, raja segera turun dari kuda. Oleh raja Tamlikha diangkat ke atas pundak, sedangkan orang banyak beramai-ramai menciumi tangan dan kaki Tamlikha sambil bertanya-tanya: "Hai Tamlikha, bagaimana keadaan teman-temanmu?"

Kepada mereka Tamlikha memberi tahu, bahwa semua temannya masih berada di dalam gua.

"Pada masa itu kota Aphesus diurus oleh dua orang bangsawan istana. Seorang beragama Islam dan seorang lainnya lagi beragama Nasrani. Dua orang bangsawan itu bersama pengikutnya masing-masing pergi membawa Tamlikha menuju ke gua," demikian Imam Ali melanjutkan ceritanya.

Teman-teman Tamlikha semuanya masih berada di dalam gua itu. Setibanya dekat gua, Tamlikha berkata kepada dua orang bangsawan dan para pengikut mereka: "Aku khawatir kalau sampai teman-temanku mendengar suara tapak kuda, atau gemerincingnya senjata. Mereka pasti menduga Diqyanius datang dan mereka bakal mati semua. Oleh karena itu kalian berhenti saja di sini. Biarlah aku sendiri yang akan menemui dan memberitahu mereka!"

Semua berhenti menunggu dan Tamlikha masuk seorang diri ke dalam gua. Melihat Tamlikha datang, teman-temannya berdiri kegirangan, dan Tamlikha dipeluknya kuat-kuat. Kepada Tamlikha mereka berkata: "Puji dan syukur bagi Allah yang telah menyelamatkan dirimu dari Diqyanius!"

Tamlikha menukas: "Ada urusan apa dengan Diqyanius? Tahukah kalian, sudah berapa lamakah kalian tinggal di sini?"

"Kami tinggal sehari atau beberapa hari saja," jawab mereka.

"Tidak!" sangkal Tamlikha. "Kalian sudah tinggal di sini selama 309 tahun! Diqyanius sudah lama meninggal dunia! Generasi demi generasi sudah lewat silih berganti, dan penduduk kota itu sudah beriman kepada Allah yang Maha Agung! Mereka sekarang datang untuk bertemu dengan kalian!"

Teman-teman Tamlikha menyahut: "Hai Tamlikha, apakah engkau hendak menjadikan kami ini orang-orang yang menggemparkan seluruh jagad?"

"Lantas apa yang kalian inginkan?" Tamlikha balik bertanya.

"Angkatlah tanganmu ke atas dan kami pun akan berbuat seperti itu juga," jawab mereka.
Permandangan di dalam Gua

Mereka bertujuh semua mengangkat tangan ke atas, kemudian berdoa: "Ya Allah, dengan kebenaran yang telah Kau perlihatkan kepada kami tentang keanehan-keanehan yang kami alami sekarang ini, cabutlah kembali nyawa kami tanpa sepengetahuan orang lain!"

Allah SWT. mengabulkan permohonan mereka. Lalu memerintahkan Malaikat maut mencabut kembali nyawa mereka. Kemudian Allah s.w.t. melenyapkan pintu gua tanpa bekas. Dua orang bangsawan yang menunggu-nunggu segera maju mendekati gua, berputar-putar selama tujuh hari untuk mencari-cari pintunya, tetapi tanpa hasil. Tak dapat ditemukan lubang atau jalan masuk lainnya ke dalam gua. Pada saat itu dua orang bangsawan tadi menjadi yakin tentang betapa hebatnya kekuasaan Allah SWT. Dua orang bangsawan itu memandang semua peristiwa yang dialami oleh para penghuni gua, sebagai peringatan yang diperlihatkan Allah kepada mereka.

Bangsawan yang beragama Islam lalu berkata: "Mereka mati dalam keadaan memeluk agamaku! Akan ku dirikan sebuah tempat ibadah di pintu gua itu."

Sedang bangsawan yang beragama Nasrani berkata pula: "Mereka mati dalam keadaan memeluk agamaku! Akan ku dirikan sebuah biara di pintu gua itu."

Dua orang bangsawan itu bertengkar, dan setelah melalui pertikaian senjata, akhirnya bangsawan Nasrani terkalahkan oleh bangsawan yang beragama Islam. Dengan terjadinya peristiwa tersebut, maka Allah berfirman:
"Dan begitulah Kami menyerempakkan mereka, supaya mereka mengetahui bahawa janji Allah adalah benar, dan bahawa Saat itu tidak ada keraguan padanya. Apabila mereka berbalahan antara mereka dalam urusan mereka, maka mereka berkata, "Binalah di atas mereka satu bangunan; Pemelihara mereka sangat mengetahui mengenai mereka." Berkata orang-orang yang menguasai atas urusan mereka, "Kami akan membina di atas mereka sebuah masjid."

Sampai di situ Imam Ali bin Abi Thalib berhenti menceritakan kisah para penghuni gua. Kemudian berkata kepada pendeta Yahudi yang menanyakan kisah itu: "Itulah, hai Yahudi, apa yang telah terjadi dalam kisah mereka. Demi Allah, sekarang aku hendak bertanya kepadamu, apakah semua yang ku ceritakan itu sesuai dengan apa yang tercantum dalam Taurat kalian?"

Pendeta Yahudi itu menjawab: "Ya Abal Hasan, engkau tidak menambah dan tidak mengurangi, walau satu huruf pun! Sekarang engkau jangan menyebut diriku sebagai orang Yahudi, sebab aku telah bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah serta Rasul-Nya. Aku pun bersaksi juga, bahwa engkau orang yang paling berilmu di kalangan ummat ini!"

Demikianlah hikayat tentang para penghuni gua (Ashhabul Kahfi), kutipan dari kitab Qishasul Anbiya yang tercantum dalam kitab Fadha 'ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah, tulisan As Sayyid Murtadha Al Huseiniy Al Faruz Aabaad, dalam menunjukkan banyaknya ilmu pengetahuan yang diperoleh Imam Ali bin Abi Thalib dari Rasul Allah SAW


http://www.mandiriinvesta.com/?id=abizaki

http://www.kompasindex.com/?id=abizaki

http://www.jayafund.tk




taken from: http://my.opera.com/abizaki/blog/

Baca Selengkapnya "kisah ashabul kahfi"

Label: , , ,

sekedar menulis untuk mengungkapkan rasa kesedihan yang cukup mendalam, terlebih lagi tidak ada kawan yang mau ditumpangi rasa kelelahan

Ramadhan benar-benar akan berakhir,
namun hari demi hari dalam bulan mulia ini tak jauh berbeda dengan bulan lainnya kecuali di dalamnya ada menahan lapar dan haus dahaga

Apakah hanya aku atau ada orang lain disana yang merasakan hal yang sama?
merasa sedih dan pilu karena..
Ramadhan benar-benar akan berakhir..

Sebulan lamanya,
Allah SWT sudah menyediakan kita peluang untuk beramal dengan penuh fadhilah
kelipatan pahala hingga yang tak terhingga dibentangkan di setiap amalan ibadah
namun adakah orang yang memburunya?
ataukah diriku sendiri termasuk orang-orang yang melewatkannya begitu saja?


Yaa Rabb,
begitu kotornya kah hati kami hingga tak bisa melihat peluang surga yang Engkau tawarkan pada kami?
begitu hinanya kah diri kami hingga tiket gratis menuju surga-Mu kami gadaikan dengan tiket gratis menuju neraka-Mu?

Yaa Rabb,
apa yang sesungguhnya terjadi pada kami?


Untuk membaca Al-Qur'an, kami butuh tenaga ekstra hingga kami tertatih-tatih dan pada akhirnya kami berhenti pada lembaran awal surah Al-Baqarah

tetapi untuk membaca semua status di jejaring sosial, membaca komik-komik, membaca koran dan bahkan membaca papan pengumuman yang ada di stasiun kereta, kami bisa melakukannya hanya dengan menjentikkan jari kami

Untuk datang ke masjid melaksanakan shalat tarawih, kami butuh waktu yang tepat karena seharian kami bekerja dan malam hari pun kami kelelahan hingga pada akhirnya tarawih pun kami kerjakan cukup sekali dalam sebulan

tetapi untuk datang ke jamuan buka puasa bersama dengan teman-teman seperjuangan, kami pun rela mengorbankan penat kami yang sudah seharian bekerja demi bercanda tawa dengan mereka


Untuk bersedekah, kami butuh uang kami terkumpul hingga datangnya uang tunjangan Hari Raya hingga akhirnya kami bersedekah hanya dengan recehan-recehan yang kami punya

tetapi untuk berburu sale di pusat-pusat perbelanjaan, kami bisa menghabiskan uang jutaan rupiah hanya dalam beberapa menit demi memuaskan keinginan kami untuk memiliki barang yang kami sukai


Untuk sholat tahajjud,

ah.... jangankan satu rekaat... untuk sahur pun kami dibangunkan secara paksa dan jika tidak maka kami tak sahur





Yaa Rabb,

kumohon sadarkan kami akan kelalaian ini

jangan masukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang tak mendapatkan keberkahan bulan Ramadhan

jangan siksa kami karena kebodohan kami

kami tahu bahwa azab-Mu Maha Dahsyat

tetapi Maghfiroh-Mu melebihinya





Yaa Rabb,

kumohon...


Jangan Kau tutup Ramadhan kami,

sebelum kami mendapatkan keberkahan dari bulan yang Kau muliakan ini...



Amiin ya Allah..
Baca Selengkapnya "tears of Ramadhan"

Label: , , ,



kumohon jangan katakan Ramadhan akan segera berakhir..

kumohon jangan mulai menghitung kapan Hari Raya Ied akan bermula..

kumohon sadarilah bahwa kita belum melakukan apa-apa..

namun malam kemarin sudah malam ke-10 terakhir bulan mulia..





Betapa cepatnya waktu berlalu hingga baru memejamkan mata sejenak, kini sudah tiba di malam ke-21 Ramadhon

Maasya Allah,

Begitu banyak amalan yang tertinggal yang belum kukerjakan karena sibuk dengan urusan duniawi

Bukanku sibuk memperbaiki diri melainkan sibuk memperhatikan kesalahan orang lain

Ada apa denganmu, wahai insan yang bodoh?




Ramadhon hanya terasa berisi oleh canda tawa ketika buka bersama dengan sahabat lama, namun sunnah sholat tarawih pun terlupa karena asyiknya bersenda gurau

Ramadhon hanya terasa berisi kekosongan waktu yang ditimpa dengan kegiatan-kegiatan menonton film, jalan-jalan menghabiskan uang, berbual hingga tak tahu mana ghibah mana tidak

Ramadhon bagaikan bulan-bulan yang lainnya, dimana letak perbedaannya hanya ada dalam berpuasa saja



Pilu nya dengan Ramadhon tahun ini,

Banyak air mata terurai karena tak sanggup menolak kemungkaran yang terjadi dihadapan mata sendiri

Banyak kekesalan-kekesalan yang terpendam karena merasa takut mengatakan sesuatu yang haq

dan banyak lagi kepedihan yang lainnya... yang semakin membuat hati ini pilu jika mengingatnya..





Kumohon... jangan katakan Ramadhan akan segera berakhir...

kumohon jangan mulai menghitung kapan Hari Raya Ied akan bermula..

kumohon sadarilah bahwa kita belum melakukan apa-apa..

namun malam kemarin sudah malam ke-10 terakhir bulan mulia..

Baca Selengkapnya "nite of Ramadhon"

Label: , , , ,



Assalamu'alaykum warohmatullahi wabarokaatuh


Insya Allah,
tinggal satu hari lagi kita akan kedatangan bulan yang mulia
bulan penuh keberkahan dan ampunan
jika kita menjalani bulan ini penuh dengan keikhlasan dan taubat yang sebenar-benarnya

jadikan Ramadhan kali ini sebagai Ramadhan terakhir yang dirasakan
karena kita tidak tahu apakah tahun depan kita masih diizinkan untuk kembali bertemu dengannya


Dari lubuk hati yang terdalam
izinkan Na yang senantiasa membuat kebodohan dan kelalaian ini untuk meminta maaf
kepada semua teman-teman
baik itu kesalahan yang nyata ataupun ghaib
baik itu yang disengaja ataupun yang tidak disengaja



mohon maaf lahir dan bathin ya teman




selamat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan

^________^
Baca Selengkapnya "Ramadhan"

Label: , ,





... dan mimpi itu pun menjadi kenyataan
yang serupa
tapi tak sama...




Awal ku mengenalnya asbab 'salah orang'
jatuh cinta pada pandangan pertama tetap asbab 'salah orang'
namun sudah berkali-kali terlewati asbab 'salah orang'
kini kusadari bahwa sekarang aku tidak 'salah orang' lagi




Tak sanggup ku kisahkan mengenai beliau,
terlalu banyak moment yang kulewati dimana beliau berada di dalamnya
dari moment yang sedih, pahit, senang, gembira... dan sebagainya..
rasanya setiap kejadian terekam dengan baik dalam memori..


Yaa Rabb..

boleh aku jatuh cinta padanya?



beliau sudah mengenal dan mendidik diri ini
dari seorang bocah ingusan yang bengal
hingga menjadi bocah yang tidak lagi ingusan dan berusaha memperbaiki diri
kurasa itu bukanlah hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan
terlebih lagi diriku sangat keras wataknya
namun dengan kehendak-Mu
keburukan watak ini bisa terkikis
perlahan demi perlahan



Yaa Rabb,

apakah aku sudah jatuh cinta kepadanya?



ketika beliau mengenalkan usaha dakwah
aku yang hina ini hanya bisa memalingkan wajah
karena merasa asing dengan apa yang beliau 'bawakan'
tak jarang aku menolak mentah-mentah
bahkan sempat aku mencari kebenaran karena merasa jadi keheranan
hingga kemudian..
sedikit demi sedikit Engkau membuka hati ku yang tadinya tertutup
perlahan menjadi terbuka dengan indah
melihat manisnya iman yang berjuang di jalan-Mu..



Yaa Rabb, Yang Menciptakan cinta dan rindu



ternyata aku mencintai dirinya....



semoga Allah SWT memberikan dia sebagai pilihan-Nya kepadaku

dan..

semoga cinta ini berlandaskan pada agama-Mu, hingga kecintaan ini bukanlah cinta yang menyeret kami pada jurang neraka melainkan cinta yang mendambakan ridho-Mu semata






wahai kekasih,


ku menanti kedatanganmu

dalam surga Illahi Rabbi

Insya Allah




Baca Selengkapnya "10072010"

Label: , , ,

itik yang biasa rajin menulis
belakangan ini kok hilang ya?
kemana dia...
???




Assalamu'alaykum warohmatullahi wabarokaatuh,

Maasya Allah..
sudah berapa lama ya, Na tidak meninggalkan jejak di blog ini (ah, kayaknya belum 1 bulan) apa ada yang merindukan saya? :D

Sebelum berkisah, saya pribadi ingin mengucapkan mohon maaf lahir dan bathin.. karna selama ini saya sudah banyak melakukan kesalahan2 yang disadari atau tidak terhadap para pembaca blognyaitik.. mohon dibukakan pintu maaf yang selebar-lebarnya ya teman :)


Jazakumullah khairan katsira


Mengapa Na belakangan ini tidak menulis lagi..
karena Na sedang mempersiapkan sesuatu!!!

uwaaah... apakah itu????? yah... kita lihat nanti saja ya, jika Allah menghendaki.. maka akan Na sampaikan hal tersebut pada teman2 :)



Menghilangnya si itik terkadang membuat si penulis jadi me-review kembali akan tulisan2nya..

Maasya Allah,
ternyata... saya ini sudah banyak berbual sekali di dalam blog ini..
banyak anjuran-anjuran untuk mengamalkan amalan secara sempurna.. namun saya pribadi belum melaksanakannya.. justru yang lebih seramnya.. saya malah melanggarnya..

Astaghfirullahal'adziiim.. Ampuni hamba... Yaa Allah..

Ini menjadi salah satu asbab mengapa Na kembali bersikap hati-hati terhadap tindakan Na (baca: menulis blog). Sampai pada akhirnya, Na memutuskan untuk mengisi blog ini dari artikel2 atau buku2 yang pernah Na baca dan ingin Na sharing bersama teman-teman (daripada Na menuliskan tentang hasil pemikiran Na sendiri yang lemah dan hina ini... )


Selain itu,
kegiatan Na yang kini bertambah (jualan online) serta taklim online, kadang membuat waktu Na untuk duduk dan memainkan jari jemari ini dengan indahnya di keyboard komputer semakin sempit :D

karena itulah.. mohon maklum ya teman-teman...


untuk sejenak, mungkin blog ini akan sepi dari tulisan-tulisan yang asli dari Na.. Insya Allah, jika ada kesempatan... Na akan kembali menulis :)









Na... pamit sejenak dulu ya teman-temaaaan..

mohon doa nya juga ya :)


jangan lupa,

jaga iman dan tingkatkan amalan.. serta senantiasa dakwah untuk seluruh alam


INSYA ALLAH!!


^_______________________^
Baca Selengkapnya "itik pamitan (part 2)"

Label: , , , , , , ,

(lanjutan)..


" Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan " (QS. Hud: 15-16)





Sufyan ats-Tsauri rah.a berkata, " Bekerjalah untuk kehidupan dunia seberapa lama kehidupan kalidan di dunia dan bekerjalah untuk akhirat seberapa lama kehidupan kalian di akhirat "


Mungkin para wanita perlu bertanya pada dirinya sendiri, apakah kaum wanita telah menunaikan tugasnya sebagai Ibu Rumah Tangga dengan baik sebelum keluar rumah untuk "mengabdi" kepada masyarakat? Wanita boleh bekerja jika tak adalagi laki-laki yang mampu menggantikan tugasnya yang masih dibutuhkan oleh ummat, dengan syarat tidak melanggar hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT dan Rasul-Nya


" Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi wanita yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat yang nyata " (QS. Al-Ahzab: 36)


Memberdayakan potensi wanita di luar rumah dalam Islam perlu dipertimbangkan dengan hati-hati. Kehidupan wanita karir tak lepas dari usaha para ahli batil untuk memperdaya kaum wanita. Sebagian besar kaum wanita pekerja harus bergaul, cita-cita dan impiannya menggiring wanita kembali ke zaman jahiliyyah modern. Persis, tuntas sampai ke akar-akarnya, tak ada batas mahram dan non mahram. Tak ada batas halal dan haram, semua serba boleh

Musuh-musuh Islam sangat menyadari betapa besar keuntungan dari hasil memanupulasi kebebasan wanita, mereka mengajak kaum wanita untuk berlomba-lomba keluar dari rumahnya untuk berebut lapangan kerja dengan kaum lelaki. Pusat-pusat perniagaan, industri koran dan majalah, serta penyiaran dan televisi, menjual tuuh wanita untuk merangsang para pelanggannya. Mereka mengetahui keunggulan kaum wanita dalam penampilan tubuhnya, bahwa wanita dapat dikorbankan untuk kejayaan bidang-bidang usaha itu. Dan mereka memanipulasi nafsu syahwat kaum lelaki untuk meraup keuntungan yang lebih banyak di atas kehancuran kaum wanita. Kaum muslimah harus memahami konspirasi licik ini agar dapat membedakan hak dan kewajibannya

Islam datang untuk mengarahkan potensi wanita sesuai dengan fungsi dan pembawaan fitrahnya, sehingga syari'at mengatur dimana fungsi wanita yang terbaik ditempatkan, yaitu di rumah. Hak dan kedudukan wanita diberikan sesuai dengan fitrahnya:


" Dan janganlah kami iri hati terhadap apa yang diperintahkan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bagian daripada yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu " (QS. An-Nisaa: 32)



Kebebasan kaum wanita dengan nama emansipasi justru menghancurkan derajat kaum wanita. Kaum wanita dieksploitasi habis sebagai komoditit yang hanya dinilai dengan materi, setiap karyanya dihargai dengan uang dan ternyata sebagian besar wanita bekerja dengan motivasi ekonomi. Memang manusia memerlukan berbagai fasilitas hidup di dunia yang harus dibayar dengan uang dan dunia kerja menjanjikan hal itu. Namun perlu dingat lagi dan lagi.. bahwa uang memiliki daya tarik tersendiri untuk mengubah manusia yang tidak beriman. Wanita desa yang polos dan lugu dapat berubah menjadi rakus dan tamak karena uang. Seorang istri yang qana'ah yang penuh pengertian dapat berubah menjadi penuntut yang tak pernah puas karena uang, bahkan seorang wanita berjilbab yang idealis pun bisa berubah karena uang. Sekali terjebak pada nikmatnya menghitung uang, maka kita seperti meneguk air laut. Takkan pernah mendapatkan kepuasan

Rasulullah SAW bersabda,

" Sesungguhnya bagi setiap ummat ada fitnah, dan fitnah pada ummatku adalah harta " (HR. Tirmidzi -Misykat)

Uang dapat membuat anak tidal kagi menghormati orangtuanya, uang membuat seorang istri sombong dan tidak menghargai suami dan dapat membuat seseorang lupa pada tugas mendidik anak


Allah SWT berfirman,

" Kecelakaan bagi setiap pengumpat dan pencela. Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-kail tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam (neraka) Huthamah " (QS. Al-Humazah: 1-4)


Dunia sudah membuktikan betapa mudahnya membuat para wanita menjadi objek, menggiring kaum wanita pada sebuah komitmen bersama yang diusahakan oleh para ahlul batil atau siapa saja yang tidak setuju dengan peran sakral wanita melalui berbagai cara. Baik secara langsung maupun tidak, lewat perang pemikiran (ghazwul fikr) pada forum-forum pertemuan, seminar-seminar, diskusi-diskusi dan demonstrasi. Bahkan dijadikan "tameng hidup-hidup" dibalik kedok globalisasi, pro-demokrasi, Hak Asasi Manusia, kesetaraan dan kemitraan yang justru menjadi bumerang. Anak-anak di rumah tanpa kasih sayang akan tumbuh menjadi liar, suami berselingkuh, zina bertebaran dimana-mana.



Ma'adzallah!!!!


( to be continued )
Baca Selengkapnya "wanita diantara karier dan pekerjaan (part 2)"

Label: , , , , , ,


Allah SWT memerintahkan berusaha dan menunjukkan dua usaha
Usaha yang sementara dan hasilnya juga sementara namun di akhirat mendapatkan kesusahan
dan usaha sementara dan hasilnya selama-lamanya hingga di akhirat kelak..



" Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik." ( QS. Al- Isra': 18-19 )

Semua manusia diperintahkan untuk bekerja, nilai usaha laki-laki dan wanita itu sama di sisi Allah SWT

" Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. An-Nahl: 97 )

Namun yang dimaksud dengan kerja pada ayat ini, mungkin berbeda dengan pemahaman kita selama ini. Seseorang hanya dianggap "bekerja" jika telah berusaha untuk mendapatkan uang atau segala kebutuhan hidupnya. Meskipun seseorang sibuk sejak pagi hingga malam hari, bila tidak dalam rangka mendapatkan uang maka belum dikatakan bekerja.

Seorang Ibu rumah tangga yang sibuk mengatur urusan keluarga tidak dikatakan bekerja sebab tidak mendapatkan upah. Padahal pekerjaan yang paling berat namun paling mulia sebagai wanita musilmah adalah sebagai " Ibu " dalam rumah tangganya. Tugasnya bisa melebihi tugas kaum laki-laki. Kaum laki0laki mungkin hanya bisa bekerja mulai matahari terbit hingga matahari terbenam, namun seorang isteri sanggup bekerja secara istiqamah, mulai sebelum matahari terbit sampai terbenamnya mata sang suami. Tetapi masih juga pekerjaan sebagai Ibu kurang dihargai termasuk oleh kaum wanita sendiri.

Mayoritas wanita pada zaman sahabat r.hum melakukan pekerjaan rumah tangganya yang berat meski kadarnya berbeda-beda. Mereka adalah Ratu rumah tangna dan Ibu keluarga yang mengandung, melahirkan, menyusui dan merawat anak-anaknya, serta berkhidmat kepada suaminya. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh para wanita yang sabar dengan penuh rasa syukur. Dan Islam memuliakan wanita dalam memikul pekerjaan itu. Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa bagi kaum wanita, kehamilan dan melahirkan laksana orang yang menyerang musuh di garis depan dalam fii sabilillah, jika ia mati di antara masa itu, maka ia memperoleh pahala syahid.

Islam tidak melarang wanita bekerja, tetapi tidak menganjurkan bekerja di luar rumah. Jika seandainya harus bekerja di luar rumah karena tidak ada mahram yang menanggungnya untuk memenuhi nafkah anak-anaknya sehingga tidak meminta-minta.

Jabir bin Abdullah r.a menuturkan, " Bibiku dari pihak Ibu bercerai. Suatu ketika ia bermaksud memetik kurma, namun seorang lelaki menghardiknya karena ia keluar dari rumah (selama masa iddah). Ia lalu menghadap Rasulullah SAW dan beliau menjawab, " Tentu saja engkau boleh memetiknya dari phon kurma milikmu, sehingga engkau menyedekahkannya atau beramal dengannya. " (HR. Muslim)

Rasulullah SAW bersabda,
" Sesungguhnya jika orang itu keluar dari rumahnya untuk bekerja, guna mengusahakan kehidupan anaknya yang masih kecil, maka ia telah berusaha di jalan Allah (fii sabilillah). Jika ia bekerja untuk dirinya sendiri agar tidak sampai meminta-minta pada orang lain, itu pun fii sabilillah. Tetapi apabila bekerja karena riya atau untuk bermegah-megahan maka itulah fii sabilisy-syaithan. " (HR. Thabrani)

Rasulullah SAW bersabda,
" Sesungguhnya yang paling baik engkau makan adalah yang berasal dari jerih payahmu dan anak-anakmu juga adalah hasil dari jerih payahmu." (Fatawal Mar'ah)

Fathimah r.ha, isteri Ali r.a yang juga putri Nabi SAW juga bekerja, merajut dan menenun kain untuk dijual oleh suaminya di pasar sehingga waktunya lebih banyak berada di rumah.

Sebagaimana perintah Allah SWT,
" Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu " (QS. Al-Ahzab: 33)

Maksud ayat ini sangat jelas, agar wanita muslimah menjadikan rumahnya sebagai kantor dan markasnya untuk mengurus rumah tangganya. Islam menempatkan tugas wanita ada di dalam rumah dan itu bukanlah tugas yang sederhana. Betapa banyak kisah wanita pada zaman generasi para sahabat r.hum yang mencerminkan betapa beratnya tanggung jawab dan peran yang mereka lakukan. Ali r.a juga pernah berkata kepada Ibnu A'bad, " Maukah engkau tahu keadaan keluargaku? " Ia menjawab, " Tentu! " Ali r.a lalu berkata, " Fathimah sering menumbuk gandum sehingga alat penumbuk gandum membekas di tangannya, mengangkat tempat air sehingga membekas pada lehernya dan menyapu rumah sehingga bajunya berdebu. "


Asma binti Abu Bakar r.ha juga selalu melakukan pekerjaan rumah tangganya dan berkhidmat kepada suaminya Zubair bin Awwam r.a. Karena beratnya pekerjaan, ia pernah meminta seorang pembantu kepada Ayahnya. Asma r.ha mengatakan, " Aku dinikahi oleh Zubair bin Awwam. Ia tidak mempunyai kebun, harta, hamba sahaya dan lainnya. Kecuali unta dan seekor kudanya. Aku sering memberi makan kudanya, mengurus dan mengembalakannya. Aku menumbuk biji kurma lalu aku campur dengan air dan mengolahnya dengan tepung gandum dan ternyata menghasilkan roti yang enak. Banyak wanita Anshar yang meminta untuk dibuatkan roti, padahal mereka juga mampu membuat roti yang enak."

Ath-Thabrari meriwayatkan bahwa seorang wanita Anshar (Asma binti Yazid r.ha) datang kepada Rasulullah SAW dan berkata,

"Ya Rasulullah, aku diutus oleh kaumku. Dan Allah mewajibkan jihad (berperang) kepada kaum laki-laki, jika mereka menang akan mendapatkan pahala. Dan jika mereka gugur akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah SWT. Sedangkan kami kaum wanita tidak dapat berperang seperti kaum lelaki. Amalan apakah yang dapat menyamai mereka?"

Rasulullah SAW bersabda, " Taat pada suami dengan menjalankan perintah suami dapat menyamai pahala mereka. Namun banyak kaum wanita yang tidak mau taat kepada suaminya. "

Tak ada berita gembira yang melebihi sabda Rasulullah SAW itu bagi kaum wanita. Hilangnya peran wanita dalam segala aspek kehidupan ini akan memunculkan suasana yang serba terbalik. Kemuliaan wanita akan kembail bangkit apabila dia melaksanakan tugasnya dengan baik, dia akan berusaha menjadi isteri yang shalihah dan melahirkan umat yang terbaik dalam sejarah. Banyak tokoh-tokoh sukses yang muncul dari alumnus " madrasah" sang Ibu. Hanya itu syaratnya, andai umat ini ingin bangkit kembali memperoleh kemuliaannya sebagaimana pada generasi para sahabat r.ha

Jika terpaksa wanita bekerja, maka ia harus memilih sesuai dengan fitrahnya. Menjadi seorang guru atau dokter bagi kaum wanita, harus seizin suami, tidak keluar rumah kecuali bersama dengan mahramnya, dan di tempat kerjanya tidak bercampur baur dengan laki-laki dan wanita. Yang jelas pekerjaannya tidak menghalangi tugas sebagai Ibu dan sebagai isteri, apalagi sampai mengorbankan kehidupan akhiratnya untuk keperluan dunia. Sebagaimana seorang Ibu yang memiliki seorang anak sebagai buah hatinya dan untuk keperluan hidupnya ia memelihara beberapa ekor kambing. Suatu ketika anaknya sakit maka kambingnya yang dijual untuk kesehatan anaknya, bukan sebaliknya ketika kambingnya sakit maka anaknya yang dikorbankan.




( to be continued... insya Allah )



taken from book: Wanita dalam fikir dan risau Rasulullah SAW, penulis: An Nadhr Muhammad Ishaq bin Abdullah Abbas
Baca Selengkapnya "wanita diantara karier dan pekerjaan (part 1)"

Label: , , , , , ,




kemarin Na menelusuri kembali jalan kenangan
bercampur rasa rindu sekaligus duka
rindu karena saat itu na bisa memberdayakan diri untuk membantu orang-orang sakit
namun duka karena profesi itu kini tidak bisa kujalani dengan keadaanku yang sekarang..


" pakaianku menghambat potensiku dalam bekerja "


Sungguh ironi,
Melihat banyak kawan seprofesi yang harus bergelut dengan dunia kesehatan untuk membantu orang-orang sakit namun tidak berdaya melawan arus dunia yang semakin jauh dari sunnah Nabi SAW...

Sahabat-sahabat Na dulu adalah akhwat-akhwat yang luar biasa. Keistiqomahan mereka terhadap pendiriannya membuat diri ini menjadikan mereka sebagai panduan. Ketegaran mereka dalam mengarungi hidup yang penuh ujian membuat diri ini jadi malu yang senantiasa bersedih padahal tidak semestinya hal itu disedihkan secara berlebihan. Belum lagi dengan semangat mereka yang amat membara, memperjuangkan bahwa sebagai wanita, kita harus tetap istiqomah dengan jalur-jalur syar'i yang sudah ditetapkan dalam Islam.. jangan sampai tergoda untuk melepas keteguhan itu.

Namun kini, sejak mereka memasuki dunia pekerjaan.. satu persatu semangat untuk berada di jalur syar'i itu meredup.. dan.. mereka pun sudah tidak seperti yang Na kenal dulu lagi...

Bukan pertanda diri ini merasa hebat, tapi justru merasa takut sekali dengan godaan duniawi. Mereka para hijabers yang punya prinsip yang kuat dan 'keras' bisa dibuat menjadi fleksibel akan prinsip mereka sendiri. Bagaimana dengan saya yang lemah iman begini????



" Islam itu mudah, maka jangan dipersulit "



Baru kali ini Na bisa dengan kuat hati mempertahankan pendapat dan keinginan sendiri (selama ini kemana?). Walau sempat ragu dan bimbang luar biasa antara ingin tetap bertahan atau mundur. Mengingat perjuangan Na yang masih blentang-blentung ini dalam mempertahankan keteguhannya, rasanya sangat disayangkan jika harus kembali ke jaman-jaman jahil itu..

Terkadang jadi bertanya-tanya pada diri sendiri, sebenarnya sampai batas manakah yang harus ditaati mengenai "ke-fleksibilitas" dalam agama Islam..

Ketika terjun di dunia dakwah kampus, sempat mendapat pelajaran bahwa Islam itu mudah maka jangan mempersulit diri dengan aturan-aturan yang ada. Dulu sih setuju banget.. karena masih nggak tau apa2.. dan kini.. lama kelamaan kok saya jadi banyak berpikir ya..

Rasa-rasanya... jadi semakin banyak batas-batas dalam Islam yang saya langgar demi kepentingan saya pribadi. Misalnya seperti penggunaan minyak wangi, dulu ketika Na mengetahui bahwa menggunakan minyak wangi asbab ingin tercium wangi oleh orang lain yang non mahram maka dikatakan sebagai zina, wuih.. bukan berontaknya bukan kepalang

" lah.. daripada dibilang akhwat bau gimana???!! "

Dan masih banyak lagi aturan-aturan dalam Islam yang sengaja Na buat 'fleksibel' dengan meng-atas namakan kepentingan ummat (duh lagaknya.. padahal sih kepentingan diri sendiri..)


Akhirnya kini, apa yang terjadi dalam proses kehidupan hijrah Na banyak tanggapan positif dan negatif di mata orang lain. Ada yang mengatakan bahwa hijrah yang terjadi pada Na sangat hebat terlebih lagi Na terbilang masih anak muda yang pada umumnya kuat akan keinginan menuruti hawa nafsunya, tapi ada juga yang mengatakan Na ini terlalu kaku pada syari'at yang ada..

apakah saya dilanda kebingungan ?

hmm ... ya ... mungkin jawabnya...





bagaimana dengan anda?

apakah anda juga mengalami hal yang sama dengan saya?

seberapa 'fleksible' anda dalam menghadapi syari'at2 dalam Islam ?

pilihan mana yang anda terapkan?

jalur fatwa atau jalur taqwa?

Baca Selengkapnya "kebingungan hati"

Label: , , ,

kalau beramal jangan lupa pakai ilmu
dan kalau berilmu jangan lupa diamalkan..

benar ?



Mengintip sejenak situsnya ustadz tengkuzulkarnain beberapa hari belakangan ini, membuat Na sedikit sadar akan hakikat ilmu dan amal.. (jadi teringat pula dengan point ilmu ma'adzkir)

Nggak jarang Na temukan orang2 yg mengatakan bahwa mencari ilmu itu amatlah penting hingga jangan sampai kita melakukan amalan tanpa dilandasi ilmu. Namun ada juga yang mengatakan, tidak sedikit orang yang berilmu tetapi ilmu yang didapat tidak diamalkan..

Jadinya.. memang keduanya tidak bisa dipisah..

Ah, daripada Na banyak 'cincaw' nya, sekalian aja kita simak tulisan dari ustadz tengkuzulkarnain mengenai ilmu dan amal berikut ini, semoga bermanfaat dan.. jangan lupa.. niat amalkan dan sampaikan ke orang lain ya :D

insya Allah!


*******************************************************************


Ilmu dan Cara Mendapatkannya

Ilmu adalah pemberian Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada hamba-hamba yang diinginkan-Nya. Usaha manusia untuk mendapatkan ilmu diwajibkan oleh Allah dalam beberapa hadis Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Artinya, manusia berdosa jika meninggalkan usaha dalam mendapatkan ilmu itu. Sebaliknya, jika usaha sudah dilakukan, sementara ilmu itu tidak juga dapat dikuasai, maka orang tersebut sudah terhindar dari kesalahan, sebab yang wajib adalah menuntut ilmu, bukan mendapatkannya. Adapun mendapatkan ilmu, semata-mata hanyalah karunia Allah saja.


Dengan demikian janganlah merasa kecewa dan putus asa jika seseorang sudah belajar suatu ilmu tertentu pada waktu yang lama, ternyata orang itu gagal menguasai ilmu tersebut. Ini bukan lagi salahnya, akan tetapi memang Allah tidak berkenan memberikan ilmu itu padanya.


Dalam kenyataan hidup ini banyak kita jumpai orang yang belajar membaca Al-Qur’an, misalnya, sudah bertahun-tahun melakukannya dengan sungguh-sungguh, namun ternyata hasil yang dia peroleh tidak sesuai harapan. Dia tetap saja tidak dapat mengucapkan huruf-hurufnya dengan fashih, dan banyak melakukan kesalahan dalam tajwid dan waqaf-ibtida’nya. Kenapa bisa terjadi? Tidak lain karena tidak diberikan oleh Allah. Hal ini sudah Allah jelaskan dalam surat Bani Israil ayat 85 :


Artinya: “Dan tidaklah kamu diberi ilmu pengetahuan kecuali sedikit saja



Bagaimanakah cara mendapatkan ilmu itu?


Ilmu itu dapat diperoleh oleh seseorang dengan melalui beberapa jalan. Tidak seperti yang sering dianggap oleh kebanyakan orang bahwa satu-satunya jalan untuk mendapatkannya adalah dengan belajar dan menuntutnya . Di antara cara mendapatkan ilmu itu antara lain :


1. Belajar, dan menuntut ilmu tersebut dari orang lain.

Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

Artinya : “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan .”

Dalam hadits yang lain :

Artinya : “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah membuatnya berjalan di salah satu jalan menuju surga. Sesungguhnya para Malaikat meletakkan sayap-sayapnya karena ridha kepada pencari ilmu. Sesungguhnya orang berilmu dimintakan ampunan oleh makhluk yang berada dia langit dan bumi, serta ikan di tengah hari. Sesungguhnya keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan pada saat purnama atas seluruh bintang. Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, namun mewariskan ilmu. Barangsiapa mendapatkannya, ia mendapatkan keuntungan yang besar.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ad Darimi)


2. Diajarkan langsung oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala tanpa diajarkan oleh orang lain.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Surat Al Baqarah ayat 31 :

Dan Dia (Allah) mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.”


3. Ilmu didapat dengan beramal.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

Artinya: “Barangsiapa mengamalkan satu ilmu yang telah diketahuinya, maka Allah mewariskan kepadanya ilmu-ilmu lain yang sebelumnya dia tidak tahu.” (HR. Abu Nu’aim).

Tidak heran jika banyak orang-orang sholih yang rajin beramal dianugerahi Allah banyak ilmu sebagai buah amal yang rajin dilakukannya bertahun-tahun. Ilmu yang tidak diperoleh oleh orang-orang yang banyak bicara dan berdebat dengan orang lain!


4. Ilmu didapat dengan bertaqwa.

Firman Allah Subhanallahu Wa Ta’ala Surat Al Baqarah ayat 282:

Artinya: “Dan bertaqwalah kepada Allah dan Allah akan mengajarimu. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”


5. Ilmu dapat diperoleh dengan diajarkan oleh makhluk lain

Di zaman dahulu ketika manusia baru pada generasi pertama, telah terjadi pembunuhan yang dilakukan oleh Qabil, salah satu putera Nabi Adam Alaihissalam, terhadap saudara kandungnya yang sholih, Khabil. Setelah Qabil membunuh saudaranya itu, dia ketakutan dan kebingungan karena tidak tahu bagaimana caranya mengamankan tubuh saudaranya yang sudah menjadi mayat itu. Tiba-tiba dengan perintah Allah turunlah sepasang burung gagak yang saling tempur di depannya, kemudian salah seekor dari gagak itu mati. Kemudian gagak yang menang menggali lubang serta menguburkan gagak yang mati. Maka, terkesimalah Qabil dan dia pun mendapatkan ilmu dari burung itu. Kisah ini ada dalam Al-Qur’an surat al Maidah ayat 30-31.


Beberapa jurus-jurus bela diri terkenal dari mancanegara banyak yang dipelajari dari cara binatang berkelahi, seperti jurus kucing, jurus harimau, jurus bangau, jurus ular dan lain-lain sebagainya.


Dalam hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ada dikisahkan beberapa orang sahabat nabi, justru mendapatkan ilmu sebab diajari oleh syaitan. Kisah tersebut antara lain, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu telah berkata dia :


“Aku ditugaskan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk menjaga hasil zakat pada bulan Ramadhan.Tiba-tiba datanglah seseorang kepadaku, dan mengambil sedikit dari zakat itu, maka aku menangkapnya seraya berkata, ”Kamu akan kuadukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.” Orang itu berkata, “Biarkan aku. Sesungguhnya aku orang miskin, punya banyak anak, dan sangat membutuhkan. Maka aku pun melepaskannya. Pada keesokan harinya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepadaku, “Hai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu kemarin ?” Aku menjawab, “Ya Rasulullah, dia mengadukan kemiskinannya dan kelurganya yang banyak, maka aku kasihan dan aku membebaskannya.” Nabi bersabda, “Sesungguhnya orang itu berdusta kepadamu, dan dia akan kembali.” Saya sadar bahwa orang itu akan kembali karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengatakannya. Maka aku pun mengintipnya. Ternyata ia datang untuk mengambil makanan. Maka aku menangkapnya lagi seraya berkata, “Sungguh aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.” Dia berkata, “Lepaskan aku. Sesungguhnya aku sangat membutuhkan dan punya keluarga yang banyak, saya tidak akan kembali.” Maka aku pun mengasihaninya dan membebaskannya lagi. Keesokan harinya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepadaku, “Hai Abu Hurairah, apa yang telah dilakukan tawananmu kemarin ?” Saya menjawab, “Wahai Rasulullah, dia mengadukan kemiskinan dan jumlah kelurganya yang banyak, maka aku pun kasihan dan membebaskannya lagi.” Nabi bersabda, “Sesungguhnya dia berdusta kepada mu dan dia akan kembali.” Maka pada yang ketiga kalinya aku mengintipnya kembali. Dia datang mengambil makanan. Segera aku menangkapnya seraya aku berkata, “Sungguh aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah. Ini adalah yang ketiga kalinya kamu mengatakan bahwa kamu tidak akan kembali, namun nyatanya engkau kembali lagi.” Dia berkata,Biarkan aku mengajari mu beberapa kalimat yang dengannya kamu akan beroleh manfaat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.” Saya bertanya, “Kalimat apakah itu ?” Dia berkata, “Apabila kamu hendak tidur maka bacalah ayat kursi, “Allah, Tiada Tuhan melainkan Dia yang Hidup Kekal dan terus menerus mengurus makhluknya….” Dia membaca hingga akhir ayat. “Maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan senantiasa menurunkan pelindung bagimu dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi”. Maka aku pun membebaskannya. Keesokan hari, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepadaku, “Apa yang telah dilakukan oleh tawanan mu kemarin?” Saya menjawab, “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dia telah mengajariku beberapa kalimat yang dengannya Allah akan memberiku manfaat, maka aku pun melepaskannya”. Beliau bertanya, “Kalimat apakah itu ?” Dia berkata kepadaku, ”Apabila kamu akan tidur, maka bacalah Ayat kursi dari awal hingga dia menyelesaikan ayat “Allah, tiada Tuhan melainkan Dia yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus makhluknya…“ Dia berkata kepadaku, “Allah akan senantiasa menurunkan pelindung bagimu dan syaitan tidak akan mendekatimu hingga pagi.” Para sahabat sangat menyukai kebaikan. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Dia telah berkata benar kepadamu, dan sebenarnya dia adalah pendusta. Hai Abu Hurairah, tahukah dengan siapa kamu berbicara selama tiga malam itu ?” Saya menjawab, “tidak.” Nabi bersabda, “Dia adalah Syaitan.” (HR. Bukhari) .


Hadits ini menunjukkan bahwa apabila Allah berkehendak, maka Dia mampu untuk memerintahkan siapa saja, bahkan termasuk syaitan sekalipun untuk memberikan ilmu dan pelajaran kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.


Kisah yang senada dengan kisah di atas pernah dialami oleh beberapa shahabat Nabi yang berbeda. Silakan ruju’ pada kitab Tafsir Ibnu Katsir keterangan pada ayat kursi, surat Al-Baqarah ayat 255.


Di dalam kitab Tanbihul Ghafilin ada lagi dikisahkan sebuah hadits tentang perjumpaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan Iblis la’natullah ‘alaihi, di mana ketika itu Iblis telah diperintahkan oleh Allah untuk mengajari Rasulullah tentang sepuluh jenis manusia sahabat Iblis dan sepuluh jenis yang menjadi musuhnya. Dialog antara Rasulullah dan Iblis itu menjadi pelajaran yang berharga bagi ummat Islam sampai sekarang ini.


Wallahu A’lam Bishshowab

Baca Selengkapnya "Ilmu dan Amal"

Label: , , ,

saat orang-orang menatapku dengan penuh keheranan
hanya mereka yang menatapku tanpa ada kehinaan
bahkan mereka lebih menyenangi pakaian yang kukenakan


Alhamdulillah..


*********************************************************************



" Kak ina, hari Sabtu kemarin, Kakak pergi naik motor ya? "

" Hmm? kamu lihat Kakak dimana? apakah itu pagi-pagi? "

" Iya Kak, aku lihat Kakak di jalan situ, pagi-pagi naik motor "

" Memang Kakak lagi pakai baju warna apa? "

" Warna hitam kan? trus Kakak pakai ini.. " ( sambil menutup sebagian wajah dengan tangannya)

" Hehe.. iya sayang, itu Kakak "



Baru kali ini Na 'ketauan' kalau pakai kain penutup wajah (cadar) sama seorang anak madrasah. Agak lucu juga, kok dia bisa tau itu Na yah? kan wajahku nggak keliatan :D

Mungkin memang benar bahwa hatinya anak-anak itu penuh dengan kepolosan dan belum terbumbui dengan jahatnya suudzon serta penyakit hati lainnya. Na merasakan kepolosan mereka setiap mereka melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Na harus tersenyum simpul sambil terpana dengan keluguan mereka,

" Kak ina.. kenapa Kak ina pakai jilbabnya yang panjang begini? "

" Kak inaaa.. jilbabnya panjang bangeeet.. apa nanti aku juga harus pakai jilbab sepanjang itu?? "

" Kak ina, Ibuku belum pakai jilbab sepanjang Kak ina.. tapi aku lebih suka jilbab yang kak ina pakai.. habis jadi cantik sih keliatannya "



( waw, yang terakhir itu benar2 membuatku malu banget! sudah gitu yang menyatakan 'cinta' nya adalah seorang anak sholeh lagi... hyaa... malunyaaaaa~ )



Kalau ingin mengenangnya, adalah sebuah perjuangan dan sampai saat ini pun perjuangan itu harus tetap diperjuangkan agar senantiasa bisa istiqomah..


Keberadaan pakaian gamis dan jilbab panjang yang hampir selutut ini masih terbilang 'unik' di lingkungan sekitar kehidupan Na. Terlebih lagi jika memakai yang hitam-hitam plus cadar, sudah tentu jadi sorotan masyarakat yang hidupnya masih jauh dari agama...


Namun lucunya, ke-unik-an ini tidak dirasakan oleh anak-anak yang hidup disekitar Na. Justru mereka tidak merasakan hal yang aneh dengan betapa besar dan lebarnya jilbab ini hingga bisa masuk untuk main petak umpet di dalamnya. Mereka (baca: anak-anak) malah bertanya-tanya,


" Mengapa hanya Kak ina yang seperti ini? kenapa yang lain tidak seperti Kak ina? "



Na sadar sekali, ketika diri ini terjun ke dalam lingkungan masyarakat seperti menjadi pekerja atau ikut aktif PKK dan sebagainya, mau tidak mau kita harus mengkondisikan diri ini sesuai dengan lingkungan sekitar. Contoh misalnya, seandainya ada seorang akhwat yang sudah istiqomah mengenakan gamis dan jilbab lebar dan direkrut menjadi seorang guru yang memiliki persyaratan bahwa pakaian guru HARUS mengenakan jas dan rok/celana. Apakah menurut teman-teman si akhwat ini bisa tetap mengenakan pakaian istiqomahnya? tentu tidak bukan?

Itulah yang sedang terjadi dalam kemelut hidup saya saat ini (ciyeeeh..bahasanyee~)

Tawaran untuk menjadi guru TK adalah tawaran yang sangat 'aduhai' dan memang saya nanti-nantikan.. bagaimana tidak? dari semenjak lepas kuliah sampai saat ini, Allah SWT senantiasa mempertemukan Na dengan anak-anak! Dari mencoba menjadi terapis anak-anak penyandangg autisme sampai akhirnya 'mentok' jadi guru iqro di musholla kampung. Belum lagi, keinginan Na untuk dakwah kepada anak-anak kecil lumayan agak kenceng. Melihat otak mereka yang seperti spons (menyerap semua apa yang diterima tanpa memilah-milah mana baik dan mana buruk), rasanya untuk berdakwah kepada anak-anak adalah hal yang sangat baik. Belum lagi saat mengetahui bahwa Rasulullah SAW amat menyukai anak-anak... wuih... makin 'menggila' rasanya dengan anak-anak (tapi bukan penyakit ya :D )

Tapi sungguh disayangkan, keinginan Na ini harus mengalami ujian dulu. Tawaran yang menggiurkan itu dibarengi dengan syarat yang menohok hati dan membuat jidat ini mengkerut..


" harus pake celana?????????????????!!!!!!!!!!! "



Bagi Na, ini sama seperti seseorang meminta Na untuk melepas jilbab dihadapan umum... sudah susah payah Na hijrah tapi dengan mudahnya Allah SWT membolak balikkan hati hamba-Nya..


" Nih.. tak kasih ujian ini.. opo kamu tetep istiqomah... "


Mungkin begitu maksud Allah SWT kepada Na...



Tentunya, yang Na yakini.. nggak hanya Na sendiri yang mengalami kejadian ini. Masih teringat dengan jelas kisah seorang akhwat di luar negeri yang diminta oleh pihak sekolahnya untuk melepas jilbabnya semasa belajar di sekolah namun akhwat itu dengan lantangnya menjawab,

" Satu-satunya cara Ibu/Bapak ingin melepas jilbab ini dari saya hanyalah dengan memenggal kepala saya! "


Subhanallah..!!!


Bagaimana dengan para sahabat radhiallahu'anhum ? wah.. jangan ditanya.. mereka milih mati masuk syurga daripada hidup tetapi dengan murka Allah SWT dan Rasul-Nya


Lalu bagaimana dengan kehidupan yang sudah jauh sunnah seperti saat ini ? dimana sistem masyarakat sudah jauh sekali dari agama dan lebih mengenal budaya sebagai pedoman hidupnya ? apakah kita harus beradaptasi dengan budaya itu demi menciptakan keharmonisan?

Na pun masih belum menemukan jawabannya.. hanya bisa berdoa agar tetap diistiqomahkan dalam keadaan seperti ini (malah ingin lebih mujahadah lagi)





Na sudah jalan sejauh ini.. dan tak mau kembali lagi...








Jadi,

apa yang akan kau lakukan, wahai itik.. ?

Baca Selengkapnya "keinginan VS realita"

Label: , , , , ,

Alhamdulillah..

Janin yang didamba-dambakan akhirnya terlahir di dunia..

Sejenak tangisan kuatnya yang meramaikan suasana ruang operasi membuat hati kami terkejut dan terpana..

Akhirnya, Allah SWT beri kami seorang pangeran di gubuk wanita..


Selamat datang calon da'i Allah..

Ku doakan semoga kelak dirimu bisa menjadi orang pilihan Allah yang ikut menegakkan kalimat thayyibah di muka bumi ini..

Semoga kelahiranmu menjadi asbab hidayah di keluarga kami dan seluruh alam..

dan semoga perjuangan Ibundamu selama merawatmu mampu menghapus segala dosa-dosanya dan mengangkat tinggi derajatnya..


amiin.. amiin ya Allah..










Kemas Muhammad Farrell Dzaky Rahman

- 12 April 2010 -


Semoga Allah SWT mensejahterakanmu di hari kelahiranmu, di hari engkau akan diwafatkan dan di hari engkau akan dibangkitkan......






aren't they cute~
Baca Selengkapnya "little da'i, insya Allah!"

Label: , , , , , ,

berbagi rasa bahagia dengan orang-orang yang tercinta tentu nikmat rasanya
namun ketika berbagi dengan mereka yang 'papa'
subhanallah..
betapa bersyukurnya diri ini karna sudah dihidupkan oleh Allah SWT
dengan segala ketercukupan dimana-mana




Alhamdulillah,
keinginan Na untuk bisa makan bersama dengan para jagoan (anak2 madrasah yang sering jadi tokoh utama di blog ini) dalam merayakan hari lahirku terkabulkan juga. Walau nggak semuanya bisa hadir, tetapi tetap saja.. senyumnya mereka bisa membuat hati Na yang tadinya nggak tawajuh dan luluh lantak kembali ceria :D

Semoga Allah menjadikan mereka sebagai da'i/da'iyah, hafizh/hafizhah dan 'alim/'alimah... amiin ya Allah..


( ah, entri kali ini serupa dengan entri nya umuanisa di sini :D hehe )




kiri-kanan: Rizki - Milzam (Zaim's lil brother) - Zaim - Bagas

Yak, berpose dulu sebelum makanan dihidangkan. Mereka berempat duduk dengan manis sambil bersabar menunggu hidangan sate yang menggugah selera..hehe


Sekedar meningkatkan jazbah dalam beramal,
@ Zaim adalah anak yang baru berusia 10 tahun tetapi hafalan Al-Qur'an juz 30 sudah hampir ia kuasai!!

@ Milzam adalah anak yang amat mempercayai akan adanya malaikat pencatat amal baik dan buruk sehingga setiap ia melakukan / melihat orang yang berbuat salah maka ia akan berkata, " nanti dicatat sama malaikat loh!!" -> maksudnya, habis itu cepat2 istighfar :D

@ Rizki adalah anak yang masih berusia 6 tahun yang sudah istiqomah selepas sholat ia akan mengangkat kedua tangannya dan berdoa dengan menundukkan kepalanya

@ Bagas adalah anak yang baru duduk dibangku kelas 2 SD tetapi menulis arabnya sudah sangat bagus! bahkan jauh melebihi tulisan saya!! (duh.. malu banget deh..)






selesai makan semua kenyang, apa doa selesai makan?
Alhamdulilahilladzi ath'amana wa saqoona wa ja'alana minal muslimiin.
Bagas pun mengatakan sambil memegang perut ndutnya,
" Kak ina, baru kali ini aku makan sampe gelegean (burp),
Alhamdulillah.. ya Allah.. aku kenyang sekali!! "







kiri-kanan: Karin - Ninis - Tasya - Fina - Rendi ( Karin's lil brother )

Nah, kalau ini calon-calon bidadari nih! (amiin ya Allah). Mereka malu-malu ketika Na ambil gambar mereka, saking malunya.. mereka jadi pada nggak bisa diem.. akhirnya nge-blur deh hasilnya.. duh...


kisah perjuangan mereka..

@ Karin: adalah anak paling zuhud yang pernah na temui. Pakaian yg ia kenakan sekarang adalah pakaian yang baru ia dapatkan di awal tahun ini, di tahun sebelumnya, Karin senantiasa mengenakan busana muslimah yang sudah sempit dan celananya berlubang. Itupun setiap mengaji, ia terus mengenakan pakaian yang sama.. Walaupun zuhud, Karin sangat pandai dalam mengingat kisah2 dan ia memiliki buku kisah 25 Nabi yang ia beli di abang2 hanya dengan harga Rp.2500,- itu pun dari kertas daur ulang, tetapi buku itu menjadi buku kebanggaannya

@ Ninis: adalah anak yang sangat suka menabung! orangtuanya yang bekerja dari pagi dan pulang sore hari membuat Ninis tak bisa bermanja2 seperti kebanyakan anak tunggal lainnya. Ia pernah datang ke musholla dengan tampang yang lesu dan ketika ditanya apakah kamu sakit, Ninis menjawab, " nggak Kak.. Ninis belum makan siang.. lapar.. tadi pulang sekolah belum sempat beli lauk karna dirumah Ibu nggak ninggalin makanan.. ". Pernah Ninis mengatakan pada Na, " Kak, nanti saat aku masuk SMP, aku mau masuk pesantren aja sampai kuliah, biar waktu kerja.. bisa jadi guru agama, pekerjaan itu mulia kan ya Kak? "


@ Fina: adalah anak yang Ayahnya menjadi mualaf ketika ia menikahi Ibunya Fina. Walaupun masih duduk di bangku 4 SD, Fina banyak bertanya tentang perbedaan agama yang dulu dianut oleh Ayahnya dan agama yang sekarang amat ia banggakan. Fina mengatakan bahwa saat ini ia merasa sedih karena Ayahnya masih merasa belum mampu untuk menjadi Imam dalam sholat berjemaah. Fina ingin memiliki pengetahuan agama lebih banyak lagi agar kelak bisa membantu Ayahnya untuk menjadi imam dalam sholat

@ Tasya: adalah anak yang mungil dan paling menggemaskan diantara anak2 sholehah lainnya. Siapa yang menyangka, anak yang penuh manja ini sekarang hanya hidup dengan Neneknya saja sedangkan kedua orang tuanya sibuk bekerja di pulau lain





after tho'am, para sholehah ini tidak menghabiskan sate-satenya. Jadinya dibungkus dan dibawa pulang.. untuk makan malam di rumah saja kata mereka :D







dimana kami makan bersama? di... sate maranggi depan sekolahan!!!!!






*****************************************************************************


Mataku dibuat berkaca-kaca, ketika kaki ini kulangkahkan masuk ke pintu musholla yang mungil itu. Mereka berusaha bersembunyi tetapi suara mereka dapat kudengar dengan baik. Sambil mengatakan aba-aba, " Satu.. dua... tiga !!!! "

" SELAMAT ULANG TAHUN.. KAK INAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA.. !!! "

Satu per-satu datang menghampiriku sambil mencium tanganku. Subhanallah... kepolosan mereka sungguh membuatku terharu..

Lalu aku benar-benar dibuatnya menangis ketika aku mendapatkan kado-kado spesial dari mereka. Ada yang memberiku tas mungil berwarna ungu.... lalu tempat pinsil berwarna pink yang sangat lovely.. sampai jilbab berwarna hitam yang dihiasi dengan payet-payet berwarna emas....

Masya Allah......

Sungguh aku terharu dibuatnya...



Semoga mereka menjadi asbab turunnya hidayah ke seluruh alam... dan jadikanlah mereka sebagai orang-orang pilihan-Mu yang bekerja menyebarkan agama ke seluruh alam...

amiin... amiin ya Allah
Baca Selengkapnya "my heroes"