Label: , , ,

home sweet home
vs
baiti jannati





Kemarin, waktu lagi nonton film kartun kesayangan (Tom and Jerry), tak sengaja memperhatikan bahwa di depan rumahnya Jerry (si tikus) ada papan bertuliskan " home sweet home "
Kenapa dibilang " home sweet home " ya ? ada yang tau?

Itu kan istilahnya orang luar, kalo di Islam pasti semua udah kenal dengan kata-kata, " baiti jannati" atau " rumahku surgaku "


Rumahku Surgaku,


Teringat waktu jaman masih nge-kost saat kuliah dulu. Rasanya rumah bagi kami anak-anak kost adalah hanya sebagai tempat tidur yang nyaman, tempat memenuhi gizi, tempat 'menyetor' muka pada keluarga, dan bisa dibilang sekedar tempat (sedih ya)

Kenapa kami bilang sebagai tempat tidur yang nyaman?
Karena hanya saat tidur di rumah masing-masing lah kami merasakan betapa nikmatnya kami terlelap dalam tidur kami~

Kenapa kami bilang sebagai tempat memenuhi gizi?
Karena hanya saat di rumah kami masing-masing lah kami bisa bermanja2 pada Ibu kami untuk dimasakkan makanan yg 'full gizi', karena kalau udah nge-kost lagi.. kami banyak makan ala kadarnya (dari warteg, warsun, wardang..eh.. ga ada yah singkatan warung padang..adanya RM padang..ahahaha). Itu pun kalau kami lagi 'kaya', kalau lagi 'miskin', paling hanya ketemu gorengan (ini pun sudah bersyukur.. karna kadang kalau lagi 'miskin' berat sampe puasa)

Kenapa kami bilang sebagai tempat 'setor' muka?
Karena hanya saat di rumah lah kami bisa bertemu muka dengan keluarga kami. Kadang kalau banyak tugas, dalam satu bulan kami hanya pulang 2x, ini pun kami masih anak jakarta.. bayangkan bagaimana nasib teman2 kami yang anak daerah? yang kadang hanya bisa bertemu keluarganya setahun sekali.. Kadang kami hanya benar2 'setor' muka kami, maksudnya.. sesampai di rumah hanya sekejap mata bertemu Ayah dan Ibu serta Kakak-Adik, lalu besoknya kami sudah 'menghilang' dari peradaban rumah...


Itulah anggapan Na saat masih nge-kost dulu. Rumahku- Surgaku, karna aku bisa makan enak dan bergizi, bisa tidur nyaman dikasur sendiri, bisa bertemu keluarga..



Rumahku Surgaku,

Na pernah dengar dan baca tentang fungsi rumah yang kini banyak berubah. Ada orang yang memfungsikan rumahnya hanya sebagai restoran, ada yang sebagai hotel, ada yang sebagai bioskop (banyak perlengkapan home theater yg ga kalah heboh sama bioskop), bahkan ada yang menganggap rumahnya sebagai (maaf) kamar mandi (karna yang paling dicintainya hanyalah kamar mandinya yang mewah) ..

Ketika melewati perumahan orang-orang kaya, dimana melihat rumah mereka bagai istana putri raja. Aih mak.. sayang sekali kalau istana-istana itu hanya dijadikan sebagai tempat macam restoran, hotel bahkan hanya seperti untuk kamar mandi (lalu buat apa mereka bangun rumah tinggi-tinggi dan mewah2 ya??) Sudah gitu, kadang melihat rumah mereka.. sepiii sekali, kayanya yang tinggal hanya para pembantunya aja.. ini makin membuat na bertanya2, trus bangun rumah mewah buat apa???


Rumahnya Rasulullah saw hanya beberapa petak, kecil mungil, tak ada perabotan-perabotan, heung.. apanya gitu hanya tersusun dari pelepah kurma. Sederhana banget deh. Padahal beliau kan seorang Rasul Allah. Jabatan tertinggi, orang termulia.. biasanya kalau sudah begini rumahnya pun harusnya kena dampak 'ter' juga. Tapi Rasulullah saw ngga begitu.. beliau tetap hidup sederhana, tetapi tak melupakan untuk memaksimalkan fungsi rumahnya

Maksud memaksimalkan fungsi rumah, rumahnya ga hanya sekedar dijadiin tempat untuk istirahat (hotel), atau hanya dijadiin tempat untuk makan bersama keluarga (restoran), tapi juga dijadiin sebagai tempat untuk beribadah

Rumahnya hidup akan suasana agama. Penghuni-nya senantiasa melaksanakan amalan-amalan ibadah. Ada yang rajin sholat sunnah, baca Al-Qur'an, dzikir, bantu2 Emak (jangan dikira nyapu-ngepel itu ga ibadah loh, kalo kita ikhlas.. akan terhitung sebagai amalan ibadah!! insya Allah), belajar dan mengajar tentang Islam (ta'lim wa ta'lum)

Salah seorang sahabat Na bilang, bahwa dulu.. rumah2nya para sahabat adalah seperti diatas. Rumah mereka hidup akan agama. Meski luas rumahnya hanya mentok kiri-kanan-depan-belakang.. tapi karena rumahnya senantiasa diisi dengan amalan ibadah yang ikhlas.. maka di surga, Allah beri 'hadiah' pada mereka rumah yang ga keliatan mana ujung mana pangkalnya, insya Allah.. (eh, kalau sudah di surga boleh minta apa saja, kan??)



Rumahku Surgaku,

Saat menemani Mamah pengajian 3 bulanan kemarin, Pak ustadz sempat menyampaikan tentang identitas diri. Kata Pak Ustadz, kini.. banyak orang Islam yang lupa dengan identitasnya sendiri. Salah satunya yaitu menunjukkan identitas Islam-nya dalam rumahnya. Pak ustadz kasih contoh, ada seseorang yg datang berkunjung ke suatu rumah bersama temannya. Si teman bertanya pada temannya itu,

" Eh.. ini rumah orang Islam ga sih... ?? "

" Ga tau.. ga bisa nebak nih... "

Bukan hanya dapat diidentifikasinya dengan melihat ada tulisan kaligrafi huruf arab besar dipajang di dinding2, ada lemari yang isinya buku2 islam, al-Qur'an dan terjemahan dan yang lainnya.. tapi kehidupan para penghuninya juga sama dengan apa yang mereka 'pajang' di rumah mereka...



Rumahku Surgaku... My Home is Jannati.. eh.. Baiti Jannati..


Siapa yang ga ingin rumahnya bagaikan surga? tentulah semua orang mau. Mungkin dari sinilah, Na ajak temen2 yang lain supaya menyulap rumahnya menjadi surga. Maksudku, kita sama2 belajar gimana caranya menghidupkan agama di rumah kita masing2 (Na sendiri juga masih tertatih-tatih..). No problemo lah.. rumah kita mungil nan sederhana.. toh kan Allah tak memandang kita dari kekayaan harta.. tapi dari kekayaan amal dan ikhlas.. hehehe..




Jadi,

yuk.. sama2 kita belajar menghidupkan agama di rumah kita masing-masing

:D
Baca Selengkapnya "baiti jannati vs home sweet home"

Label: , , , ,

Kalau ada Hari Ibu..

Hari Ayah, juga ada kan??





Lagi asik2nya intip blog2 para wanita dari negeri Jiran (belakangan ini Na jadi 'demen' mampir ke blog mereka ^^; ), tak sengaja intip postingan yang berisi tulisan dari sang author untuk Abi-nya (Ayahnya). Tanpa pikir panjang, langsung bisa kutebak.. ternyata kemarin adalah Hari Ayah se-dunia..


Yang sudah menjadi Ayah.. Na ucapkan, selamat ya.. karna Allah tlah menjadikan anda sebagai seorang Ayah dari keluarga anda sendiri..

Yang belum menjadi Ayah dan segera menjadi Ayah, selamat juga ya.. karna Allah tlah mempercayakan anda untuk mengemban tugas menjadi seseorang yang menyandang status "Ayah"


Dan,

Yang menjadi Papah-nya Na..rasanya tak cukup hanya mengatakan 'selamat' atau 'terima kasih' untukmu.. Tapi Na juga ga tau mau memberikan hadiah apa untukmu..

Mungkin,

Karna Na rada 'jago' berkisah (aih..aih, masih aja nyombongin diri saat buat puisi begini), Na berkisah aja ya, Pah.. ?

Kisah yang kutujukan untukmu..

Judulnya,

" Story for my Father "



***************************************************************

Ada sebuah kisah, dimana hidup satu keluarga yang terlihat bahagia. Mereka hidup penuh dengan kecukupan. Ayah sebagai orang bisnis yang sukses, Ibu sebagai Ibu-Ibu yang sukses juga, Kakak yang sukses dengan pergaulannya dan Adik yang sukses dengan kesendiriannya. Loh? kenapa sendiri? Ya, karena Ayah dan Ibunya terlalu sibuk dengan kesuksesannya masing-masing hingga akhirnya si Adik tidak sengaja 'terlantar' kan oleh orangtuanya sendiri. Sampai suatu hari, si Adik akan melangsungkan sebuah pementasan drama di sekolahnya. Disitu, dia mendapatkan peran utama, menjadi Raja. Jauh sebelum hari pementasan, si Adik sudah senantiasa memberitahu Ayahnya untuk ikut datang menonton pertunjukannya. Ayah yang mendengar hanya mengangguk-anggukkan kepala. Si Adik tidak yakin, lebih menjadi tidak yakin saat dirinya mengetahui bahwa 'waktu' Ayahnya bekerja sangatlah mahal.. saking mahalnya, hanya dalam satu jam, Ayahnya berharga sekitar 500 dolar..

Kemudian Adik punya rencana, " Ah, bagaimana kalau aku beli 'waktu' Ayahku? Aku pentaskan hanya satu jam. Berarti cukup dengan mengumpulkan uang 500 dolar, 'waktu' Ayah bisa aku beli!! "

Rencana Adik pun mulai dilakukan. Tapi ia tak mengira, bahwa uang 500 dolar adalah uang yang sangat banyak. Tabungan yang ia punya hanya mencapai 100 dolar. Itupun dia sudah menjual barang-barang tercintanya pada teman-teman kelasnya dengan harga murah. Tanpa pikir panjang, akhirnya si Adik mencuri uang yang ada di kasir kantin sekolahnya...

Adik tak menyangka bahwa tindakan mencuri nya tertangkap basah oleh kamera pengawas. Pihak sekolah akhirnya menghukum si Adik dan orang tuanya dipanggil ke sekolah..

Sesampai di rumah, Adik dimarahi abis-abisan oleh Ayah dan Ibunya. Terutama Ayahnya. Sang Ayah sampai memukul kedua tangan si Adik dengan bambu,

" Kau memalukan namaku!!! berani-beraninya kau mencuri!! apa uang jajan yang kuberi kurang cukup ???!!!! "

" Tapi Ayah.. a..aku.. "

" Jangan menjawab !!!!! "

Ibu yang tak tega melihat buah hatinya dipukuli, akhirnya mencoba membela. Si Adik pun bersembunyi di balik punggung Ibu.

" Kenapa kau mencuri, Nak..? apakah uang yang diberi Ayah sudah habis.. ? "

" B.. bukan Ibu. Aku hanya ingin agar Ayah datang menonton ke pertunjukanku. Tapi satu jam harga Ayah adalah 500 dolar, sedangkan aku tak punya uang sebanyak itu... "

Mendengar jawaban yang keluar dari bibir kecil buah hati mereka, Ayah dan Ibu pun langsung terduduk lemas. Ibu langsung memeluk erat buah hatinya dan Ayah pun langsung meminta maaf dengan bersungguh-sungguh pada si Adik

Akhirnya, tanpa mengeluarkan uang 500 dolar, si Adik bisa mengajak Ayahnya beserta Ibu dan Kakaknya pergi menonton pertunjukan drama di sekolahnya


**************************************************************************

Bagaimana hati tak pilu, Fathimah az-Zahra sering melihat Ayahnya pulang dengan tubuh yang 'tak menentu'. Terkadang ada darah yang mengalir di kepalanya. Terkadang ada kotoran di bajunya. Terkadang wajah Ayahnya terlihat lelah. Dan, senantiasa tubuhnya tak pernah tak terhinggapi dengan debu-debu pasir jalanan..

Melihat kondisi Ayahnya yang selalu pulang ke rumah dengan keadaan yang seperti itu, Fathimah tak bisa menyembunyikan kesedihannya dan menutupi air matanya..

" Mengapa kau menangis, putriku ? "

" Bagaimana aku tak menangis jika aku selalu menyambutmu dengan melihat wajah dan tubuhmu yang mulia dipenuhi dengan kotoran dan darah... "

" Aku keluar untuk berdakwah, untuk menegakkan kalimat Allah. Tubuh siapa yang pernah dihinggapi debu di jalan Allah, maka Allah pasti akan mengharamkan api neraka atasnya.. "


******************************************************************************


Ya Allah,

tak bisa kulanjutkan lagi tulisan-tulisan ini karna mataku sudah berkaca-kaca..

Kau lebih mengetahui isi hatiku karena Engkau Maha Mengetahui..

......


Semoga Allah semakin mencintaimu,

Pah...



Na sayang Papah
Baca Selengkapnya "story for my father"

Label: , , , , ,

dulu takut..
beberapa bulan yang lalu berharap..
kini ternyata malah jatuh cinta..


aih.. cinta lagi..



Sebelum membaca lebih lanjut, postingan kali ini hanyalah sebuah curcol Na. Mungkin tak terlalu banyak manfaatnya tapi Na berharap semoga dengan postingan ini, ada hikmah yang bisa didapatkan.. insya Allah



*********************************************************************************


Lagi dan lagi, kali ini Na dibuat jatuh cinta dengan jilbab lebar. Padahal dulu Na malah takut kalau ngeliat mba2 akhwat yang pake jilbab kelebaran dan kepanjangan. Terlebih lagi dengan mba2 akhwat yang memakai cadar dan semuanya serba hitam. Pikirannya mereka adalah orang2 yang beraliran sesat (padahal diri sendiri juga masih sesat)

Melihat akhwat2 bercadar atau yg berjilbab lebar (yg panjang jilbabnya kaya mukena) lalu memakai pakaian gamis yang besar2, ntah kenapa rasanya 'ribet'. Belum lagi membayangkan mereka berpakaian hitam di tengah teriknya matahari.. aih mak.. pastinya panas sekali. Mereka 'terkungkung' dibalik pakaiannya sendiri. Dengan pakaian sepanjang dan selebar itu, belum lagi katanya mereka suka memakai pakaian yang dobel2.. wah, pastinya repot, ribet, panas, dan pasti pusing.


" Pokoknya aku gak mau kaya mereka ah!! " pikirku


Lalu, Na ga ingat mengapa pikiran seperti ini tiba2 memudar...


Ntah tepatnya kapan, hanya satu yang Na sadari. Sepertinya Na dibuat jatuh cinta dengan pakaian2 yang serba lebar itu oleh seseorang yang saat itu..dibuatnya Na jatuh cinta padanya (horee..curcol again~~). Dia tak pernah mengatakan " aku sangat suka dengan wanita yang berjilbab lebar dan memakai baju gamis ", tapi dia selalu mengatakan tentang syarat dan ketentuan yang benar cara berpakaian seorang muslimah. Mau tak mau mulai-lah timbul rasa malu karna diri ini masih pakai jilbab ala kadarnya, baju yang 'one-piece' plus celana..


Kusadari.. kuakui.. ku jatuh cinta lagi..


Eh, bukan! Maksud Na..


Na sadar dan Na akui bahwa awal keinginan Na memakai jilbab yang mulai panjang dan mulai merintis pula pakai gamis karena Na ingin lebih diperhatikan olehnya. Akhirnya Na membulatkan tekad dan nekat mengambil langkah untuk menjadi akhwat yang berpakaian serba kebesaran. Awalnya agak2 takut dan khawatir dengan komentar2 orang2 disekitar Na. Mulai dari keluarga, tetangga, teman kampus, teman kost-an, sahabat lama dan semuanya. Alhamdulillah, kebanyakan diantara mereka tak ada yang terlalu 'ngena' komentarnya. Umumnya mereka hanya bertanya2,


" Ada angin apa bisa jadi begitu ???? "


Kalau ditanyain begitu, Na hanya bisa senyam-senyum aja. Sambil masih menyembunyikan niat 'buruk' itu, Na terus mengumbar dengan kata2, " ya.. boleh kan pakai pakaian seperti ini? "

Hari demi hari terus Na lewati dengan niat yang terselubung itu. Masih berharap semoga dia menjadi semakin memperhatikan diri ini. Walaupun pada kenyataannya, tak ada perhatian yang lebih semenjak Na berusaha berubah. Semua tetap sama.. hingga kadang Na berpikiran..

" Gak mungkin balik lagi pake baju yang kaya dulu, nasi udah jadi bubur.. tancap gas aja lah!! "

Karena merasa sudah ga berguna lagi ca-per dihadapannya, akhirnya Na berusaha mencari-cari sendiri apa itu arti jilbab lebar dan gamis bagi Na sendiri. Na mencari-cari alasan kenapa Na mau memakainya (secara gitu, alasan pertama saya pakai jilbab yg mulai rada lebar dan pake gamis kan tadinya karna pengen jadi lebih diperhatiin..tapi karena hasilnya tak ada.. ah.. madesu deh..). Lumayan lama dan cukup membuat diri Na jatuh bangun saat mencari jati diri itu..

Tanpa terlepas dari ribuan godaan setan, Na masih sering memiliki perasaan 'ingin dipuji'. Bahkan kini makin merebak, bukan hanya dari dia saja yang ingin Na dapatkan pujiannya melainkan orang lain pun juga.. Ya Allah, kenapa jadi terasa berat begini ??

Sengaja Na mulai mengumpulkan kenyataan-kenyataan (baca buku) tentang adzab Allah terhadap wanita yang mulai sengaja mempertontonkan auratnya pada orang lain yang bukan mahramnya. Na juga mulai mencari tau sebenarnya pakaian yang benar-benar seharusnya dikenakan oleh seorang wanita muslimah itu yang seperti apa. Kesengajaan ini Na lakukan demi mengubur kembali rasa ingin dipuji orang, karena pada akhirnya.. walau senang dengan pujian orang tapi kalau sudah tak dipuji lagi, jadi 'down' (ahaha.. kaya anak kecil banget TT__TT)


Lalu, Na juga ingin mengetahui.. bagaimana orang-orang (khususnya para akhwat itu) bisa menggunakan pakaian terbaik mereka, semata-mata hanya karena Allah ? Mengapa mereka bisa seperti itu sedangkan Na ga bisa ??

Na memang sudah paham dengan ketentuan bahwa jilbab itu harus menutupi dada. Kemudian berlanjut jadi bertanya, jika Allah hanya menentukan batasnya sampai menutupi dada, kenapa para akhwat itu berjilbab bahkan ada yang sampai menutupi betisnya? (ini benar2 kebesarankah??)

Oh ternyata Na menemukan fakta lainnya, ternyata perintah Allah agar wanita berjilbab itu ga cuma sekedar kepalanya aja yang ditutupin tapi aurat yang lain juga! Hokeh, sudah nutupin kepala dan jilbabnya sampai menutupi dada dan aurat lain pun dah ketutup kok. Tapi, jadi penasaran, kenapa para akhwat itu pakenya yang lebar2 begitu? benar2 mereka menyukai sesuatu yang besar nan lebarkah??

Hoayah, ada fakta lain yang Na temukan lagi. Ternyata maksud jilbab itu bukan hanya menutupi kepala dan menutupi aurat2 lainnya. Melainkan bentuk tubuh pun harus disembunyikan juga. Inilah sebabnya kenapa para akhwat itu tak bisa Na tebak, apakah mereka kurus atau ndut (abis ga keliatan sih..). Pantas saja mereka pake bajunya gamis.. bukan celana.. gamisnya juga gamis yang gede bukan gamis gaol gitu logh (bacanya pake logat anak2 muda). Trus jilbab mereka juga bukan jilbab nyang di-iket2 di leher.. poko'e sama sekali ga keliatan deh lekukan tubuh (hebat ya)


Pikiran2 macam ini yang Na jejali ke otak Na tiap saat. Karena merasa belum begitu paham gimana cara mereka bisa 'berubah' seperti itu hanya karena Allah.. akhirnya Na pikir, mungkin dengan mengikuti jejak mereka... sedikit demi sedikit, Na akan menemukan alasan mengapa kini Na jadi ikut2an seperti mereka..



Semata-mata hanya karena Allah..

Hanya karena kecintaan pada Allah swt dan pada Rasul-Nya..


Semata-mata hanya karena ingin mendapatkan ridho-Nya..




Kini,

Ku-ubah jilbab miniku menjadi jilbab yang menutupi kedua telapak tanganku


Ku-ubah baju2 'one-piece' ku menjadi baju2 gamis ala kadarnya (kadang masih pakai gamis punya mamah)

Ku-ubah pola pikirku tentang jilbab lebar dan cadar yang awalnya menyeramkan hingga akhirnya menjadi sesuatu yang kutuju

Ku-ubah keinginanku dipuji oleh orang lain menjadi hanya ingin dipuji oleh Allah swt


Ku-ubah cita-citaku yang semula ingin jadi bidadari dunia menjadi bidadari surga (amiin ya Allah.. amiin.. walaupun terlalu tinggi banget..tapi bolehkan..berharap~)


ini bukan foto ina ya.. hanya berharap semoga kelak bisa seperti beliau..

*************************************************************************


Semoga Allah swt senantiasa mempermudah langkah dan meringankan beban bagi setiap hamba-Nya yang ingin kembali ke jalan yang benar..

Amiin ya Allah..





Jadi,

ternyata mendingan ca-per ke Allah daripada caper ke makhluk-Nya ya

kalau ca-per ke Allah sudah dijamin pasti akan diperhatikan lagi

kalau caper ke makhluk-Nya..

ga ada yang bisa menjamin deh!

:D
Baca Selengkapnya "ketika itik berubah menjadi angsa"

Label: , , , ,

Apakah kamu termasuk manusia yang beradab?

kita buktikan ke-ber-adab-an mu sekarang !!!



Beberapa hari yang lalu, Na menyempatkan diri baca buku tentang wanita dalam pikir dan risaunya Rasulullah Saw. Di dalamnya buanyuagh bhuangedh (walah mak..hiperbolisnya kambuh) penjabaran gimana caranya biar kita (kaum hawa) bisa jadi wanita yang kaya dulu, maksud'e.. wanita yang hidup di jaman Rasulullah Saw alias para shahabiyah beliau. Salah satu diantaranya adalah mengajarkan adab-adab pada anak (hore..mainannya udah anak nih..)

Secara Na belon punya anak (halo..halo.. nikah juga belun Na~) dan memang saat ini masih menjadi seorang anak. Jadilah adab-adab yang tertulis disitu Na anggap berlaku juga buat si pembacanya.. hehehe

Lanjut,

Adab-adab yang dimaksud adalah adab-adab yang sering dilakukan oleh Rasulullah Saw dalam kesehariannya. Dari bangun tidur hingga bangun lagi. Dari yang mau ke kamar mandi hingga pergi keluar rumah. Ternyata semua itu ada adabnya loh. Jadi apa yang dilakukan tubuh ini, apa yang digerakkan oleh jari jemari dan kaki kemari (eh, emang ada?) ga asal 'bertindak' semaunya ajah..


Masih ada yang inget ga, dulu waktu kecil suka diajarin sama Enyak-Babeh-nye,

" Tong.. kalo mo makan pake tangan kanan ye.. tangan bae noh.. "

" Neng.. mo masuk kamar mandi kaki kiri duluan ye.. "

Dan masih banyak lagi petuah-petuah yang beliau-beliau sampaikan pada anak-anaknya. Dan ternyata apa yang disampaikan itu ga sembarang petuah karna petuah itu datangnya dari Rasulullah Saw

Mungkin terlihat sederhana, tapi siapa yang menyangka dibalik kesederhanaan ini mengandung sebuah pahala (eh, kalo ikut mencontoh adabnya Rasulullah Saw itu berarti kita ngikutin sunnahnya beliau kan? dan katanya kalau ikut satu sunnahnya berarti bisa dapet 100 pahala loh.. wihii~). Lagipula toh ini juga demi kebaikan diri sendiri. Orang yang memiliki adab biasanya jadi disukai banyak orang, kan?

Lanjut ah, jadi merasa banyak ngomongnya daritadi..


Mungkin buat Na yang ingin mencicil dari awal, Na baru mulai memperhatikan adab kiri-kanan. Dari yang makan dan minum pake tangan kanan, membersihkan tubuh setelah buang (maaf) hajat itu pakai tangan kiri, masuk ke kamar mandi itu pake kaki kiri dan keluar kaki kanan (kadang suka ketuker dan malah buat kaki hampir keserimpet sendiri jadinya..duh, bodohnya..). Kalau mau pakai sendal itu ternyata kaki kanan dulu baru kiri, kalau mau dilepas yang kiri dulu baru kanan. Begitu juga kalau mau pakai baju, masukkan dulu tangan yang kanan baru yang kiri, kalau dilepas ya kebalikannya aja deh~


Selain masalah si kanan dan kiri, masih banyak lagi adab-adab yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Contoh misalnya adab bertamu. Jujur saja, Na ini termasuk anak yang kalau sedang bertamu kerumah orang suka asal 'nyelonong' masuk aja. Apalagi kalau rumah yang dikunjungi itu seorang sahabat akrab. Kalau kata orang2 banyak, makin akrab itu makin berkurang rasa sungkannya. Begitu pula Na, awalnya sih malu2 mau saat disuguhi minuman, tapi lama kelamaan kok jadi ngambil sendiri ya minumnya??


Kalo Na ga salah ingat, Rasulullah Saw mengajarkan adab bertamu itu dari hal yang kita anggep kecil banget, kaya ngetuk pintu rumah. Umumnya, orang kalau lagi ngetuk pintu rumah kan agak hebring (apalagi kalo sampe orang rumahnya belum ada yang menyahut atau keluar dari pintu), sudah gitu suka penasaran sama isi rumah. Lagi ngetok2 pintu pagar, diintip2 pula-lah bagian dalam rumah. Walaupun lebih dari tiga kali memanggil, kalau lagi bersemangat.. pasti tetap menunggu di depan rumah dan tetap me-'ngetuk'2 pintu. Ketika sudah dibukakan pintu, tanpa bertanya apakah diperbolehkan masuk ke dalam rumah, tanpa aba2.. " syuuut~ " orang itu langsung berada di dalam rumah tersebut..

Sedangkan Rasulullah Saw mengajarkan bahwa saat mengetuk pintu itu cukup pelan2 aja. Bahkan dulu para sahabat mengetuk pintu hanya dengan menggunakan kuku (wah, kalo dipraktekin di rumah Na bisa2 cuma dianggap angin lewat ini.. ^^; ). Lalu jangan lupa beri salam cukup sampai 3x. Kalau tak ada yang menyahut, yasudah.. datang lagi lah besok harinya. Ketika tuan rumah sudah membukakan pintu, jangan langsung masuk dulu sebelum diberi izin olehnya (seperti bertanya dulu, " Saya boleh masuk? ", tuan rumah, " oh, silakan " )

Ini baru adegan di depan rumah doang loh.. hebatkan!!


Yak, lanjut ke adab yang lain ya (karna saya tak kuasa kalau tulis semua tentang adab bertamu.. lagi pula belum punya ilmunya juga.. hehehe )


Lalu, ada yang cukup membuat Na tertegun sekaligus malu (terutama bagi para anak perempuan nih!). Biasanya kita-kita yang 'penggila kaca', rasanya hidup itu kurang afdhol kalau ga ngaca. Ternyata oh ternyata.. ada loh adab dalam berkaca~

Rasulullah Saw mengajarkan kalau lagi ngaca itu, baca doa..

" Alhamdulillah, Allahumma kamaa hasanta kholqi fahassin khuluqi "

[ segala puji bagi Allah, Ya Allah.. sebagaimana engkau telah memberiku rupa yg baik maka jadikanlah padaku akhlaq yang baik ]


Subhanallah,

hampir lewat dari 24 tahun ini saya berkaca tanpa pernah menyadari ada doa yang seindah itu (mungkin dulu sempet 'ngeh' tapi lewat begitu aja..). Lucu juga gitu, dulu Na sering sekali minta sama Allah agar diri ini diberi akhlaq yang baik. Eh, ternyata lewat ' ngaca' juga udah bisa minta..

Sepertinya terlalu banyak doa-doa keseharian yang Na lupakan padahal itu adalah doa yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Bahkan malah dianggap sepele, biar anak2 kecil aja yang ngapalin.. tapi waktu udah gede hapalannya juga ikut gede (hilang dari otak), Ya Allah.. Maafkan sayaa TT___TT



Seorang sahabat pernah mengatakan sesuatu hal pada Na,

Bahwa sesungguhnya kalau seorang manusia itu menyadari bahwa hidupnya adalah sebagai bentuk ibadah pada Allah Swt, maka dia akan menggunakan keseluruhan waktunya dalam hidupnya benar2 hanya untuk beribadah kepada Allah. Bahkan untuk tidur yang memakan waktu lama pun, daripada terbuang sayang bisa digunakan sebagai ibadah jika tidur kita memakai adab-adab tidurnya Rasulullah Saw. Hingga, amat disayangkan kalau ibadanya kita hanya terbatas saat sholat saja, sedangkan Allah memberikan waktu 24 jam lamanya dalam satu hari. Karena itulah Na, setiap kegiatan itu ada adabnya.. agar terhitung sebagai ibadah..


Setelah direnungi, dahsyat sekali jadinya ya kalau tiap tindak tanduk kita itu terhitung sebagai ibadah. Bangun tidur ibadah, ke kamar mandi ibadah, memasak ibadah, menyapu ibadah, berbicara ibadah.. wah.. bisa jadi ahli ibadah dong ya, hehehe


Pada intinya, semua orang pastinya mau menjadi manusia yang lebih baik lagi (termasuk saya!). Na hanya ingin mengajak temen2 agar kita bisa bareng2 memanfaatkan waktu yang saat ini dikasih Allah dengan 'cuma-cuma', untuk semakin memperbaiki diri lagi..dan lagi..dan lagi.. hingga ga ada lagi yang bisa diperbaiki lagi..


(Oh iya, belum tentu karna Na menulis tentang adab maka Na adalah orang yg beradab ya. Jauhkanlah pikiran ini dari anda karna Na adalah seorang anak ingusan yang masih lemah..)



Ah, maaf.. postingan yang cukup segambreng jadinya.. tentunya banyak kekurangan dan kesalahan dalam postingan ini hingga amat kusarankan teman2 juga mengintip buku2 atau artikel tentang adab-adabnya Rasulullah Saw. Kalau ada yang mau mengkoreksi, Na akan sangat senang sekali loh ^___^


Semoga postingan ini bermanfaat untuk kita semua, insya Allah




Jadi,

apa ada yang mau disebut dengan panggilan

manusia tak beradab?
Baca Selengkapnya "do sweat all the small things"